
*ilustrasi ruang bermain
Berada di tengah-tengah keluarga Scander nyatanya cukup mampu menenangkan rasa rindu Erick pada Jeno. Erick bisa merasakan hangatnya Jeno meski cowok itu tidak berada disini.
Walau begitu, tetap saja Erick tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Dirinya tetap berharap bahwa sang kekasih mau berubah pikiran dan kembali menghubunginya.
Erick tidak akan mempermasalahkan sekalipun Jeno hanya menghubunginya seminggu, dua minggu, atau bahkan sebulan sekali. Selagi ia masih bisa mengobrol atau bahkan hanya mendengar suara cowok itu saja hal itu sudah lebih dari cukup baginya.
Erick hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan pertengkaran Jeven dan Jovan yang tengah bertanding ps. Bisanya jika sedang seperti ini, Jeno pasti akan menghentikan keduanya dengan cara melempar jauh-jauh PS mahal itu, lalu yang terjadi selanjutnya adalah Jeven dan Jovan yang tertunduk takut tanpa berani bersuara.
"Pushing banget denger mereka teriak-teriak" keluh Erick sembari memijat kepalanya yang mulai berdenyut.
Jesslyn mendengus. "Ya mau gimana lagi, yang bisa bikin mereka diem kan cuma Jeno" ucapnya.
Erick mengangguk setuju. "Matiin listriknya aja bisa gak sih?"
"Oh benar juga" Jesslyn berlari masuk kesebuah ruangan yang berada di sudut tembok, yang merupakan sebuah ruang kontrol. Ruang bermain mereka memang memiliki sistem sendiri agar Isabella dan Justin bisa mengontrol waktu bermain anak-anak mereka. Jadi jika mereka masih bermain namun sudah melewati waktu tidur atau belajar, maka Justin dan Isabella tinggal memutus sistemnya, seperti yang di lakukan Jesslyn saat ini.
Jesslyn berdiri di depan komputer, menerka-nerka sekiranya apa sandi yang di gunakan untuk membuka komputer ini. Setelah menemukannya jemari gadis itu bergerak cepat di atas keyboard, tidak lama kemudian komputer berhasil terbuka.
Jesslyn ingat bahwa Jeno pernah mengajarkan cara mematikan sistem ruang bermain kepadanya, jadi Jesslyn mencoba melakukan apa yang Jeno ajarkan padanya.
"WAASHHHH?!!"
Teriakan kencang Jeven dan Jovan terdengar. Keduanya terkejut akibat lampu yang tiba-tiba padam.
"Yeess" Jesslyn memekik senang, akhirnya ia berhasil mematikan sistem ruang bermain. kemudian gadis itu bergegas keluar dari ruang kontrol.
Erick yang sejak tadi menunggu apa yang akan di lakukan Jesslyn terkejut karena ruangan yang tiba-tiba menjadi gelap.
"Aahhh" pekikan kecil Valerie terdengar. Dengan sigap Erick meraih tubuh gadis kecil itu kepelukannya.
"Ka Erick, kenapa lampunya tiba-tiba mati?" Tanya Valerie yang masih terkejut. Kepala Erick menggeleng kecil meski Valerie tidak bisa melihatnya. "Kaka tidak tau, Arie" jawab Erick yang juga kebingungan.
Erick menyalakan flash dati ponselnya membuat sedikit cahaya di dalam ruangan, begitupun Jeven yang juga menyalakan flash ponselnya.
"Jesslyn!" Jeven memekik kesal saat melihat Jesslyn yang berjalan dengan santainya keluar dari ruang kontrol.
"Apa? Salah sendiri abang berisik!" Seru Jesslyn tak takut.
"Kamu kenapa rese banget kaya Jeno?!"
"Dia kan kembaran aku!" Balas Jesslyn sewot.
Erick hanya bisa menggeleng melihat perdebatan keduanya. Erick menoleh ke arah Valerie. "Kita keluar aja yuk? Tunggu ayah sama bunda di ruang santai, mau?"
Valerie mengangguk cepat. "Mau. Ayo ka Erick disini berisik"
"Hahaha oke"
--
Waktu makan malam
"Ada apa dengan wajah jelek kalian berdua?" Justin bertanya pada Jeven dan Jovan yang memasang wajah kusut.
Justin beralih menatap Jesslyn yang menampilkan eskpresi tak bersalahnya. "Princess" panggil Justin lembut.
"Ya ayah" Jesslyn menjawab dengan nada tak kalah lembut.
"Ada apa dengan abang dan adik mu?"
"Mereka berisik. Jadi aku matikan sistem ruang bermain" jawab Jesslyn santai.
Isabella cukup terkejut dengan perkataan Putri sulungnya itu. "Loh? Princess tau?" tanyanya keheranan.
Jesslyn mengangguk semangat. "Jeno pernah ngajarin aku beberapa kali"
"Dasar tidak asik" desis Jovan.
"Bodo amat"
Isabella tertawa kecil, ia sendiri juga pusing jika mendengar Jeven dan Jovan yang ribut saat bermain PS. Suara mereka persis seperti orang yang tengah nonton konser rock.
Erick dan Valerie yang tidak ingin terlibat hanya diam memperhatikan. Mereka tidak berniat menjadi saksi apapun dan memilih menjadi penonton.
"Yasudah, lebih baik kita mulai makan malamnya" ucap Justin.
Mereka pun memulai makan malam dengan tenang. Seperti biasa tanpa suara sedikitpun yang tercipta.
-
Setelah makan malam selesai, Erick memutuskan untuk langsung beristirahat. Kepalanya masih berdenyut karena mendengar keributan yang diciptakan Jovan dan Jeven.
"Tidak usah bermain ps lagi, langsung masuk ke dalam kamar oke" ucap Isabella memberikan titah pada anak-anaknya.
"Tapi bunda--" Jeven hendak mengajukan protes namun terhenti karena sang bunda sudah lebih dulu melayangkan tatapan tajamnya.
"O-oke bunda"
"Bagus"
"Kkkkkk" Jesslyn, Erick, dan Valerie terkikik puas. Telinga mereka terselamatkan dari bencana yang diciptakan dua manusia rusuh itu.
Setibanya di kamar Jeno, Erick langsung menata pakaian yang di bawanya ke dalam lemari. Ia akan meninggalkan beberapa pakaiannya di sana, jadi jika ingin menginap ia tidak perlu membawa banyak pakaian.
"Kangen kamu Jen"
"Kamu lagi apa sekarang?"
Setelah menyelesaikan kegiatannya, Erick berjalan keluar dari ruang ganti lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan keadaan yang lebih segar.
Erick membaringkan tubuhnya di atas ranjang, padahal dulu ia jarang sekali menginap. Kecuali jika orang tuanya sedang keluar kota karena pekerjaan, itu pun ia tidak pernah tidur di kamat Jeno tapi sekarang ia justru disini sendirian tanpa si pemilik kamar.
"Wangi Jeno banget"
"Curiga kalau abis mandi keliling ruangan biar aromanya dimana-mana"
"Apasih Rick! Gak jelas amat ah"
See you!