Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 62



Di ruang tengah


Ara menghempaskan tangan Aldre kasar. Gadis itu menatap tajam sahabat kecilnya. "Kamu tuh ngapain si? Aku mau nemenin Sin! " semburnya marah.


"Kamu yang ngapain! Buat apa kamu nemenin dia? Kamu gak sadar dia yang udah buat semua kekacauan ini! " balas Aldre kesal.


"Aldre!! Sin itu sahabat aku! "


"Tapi dia gak pernah nganggap kamu sahabat! " Ara terdiam. Perkataan Aldre memang benar, tapi hati Ara menyangkalnya. "Terserah! Pokoknya Sin tetep sahabat aku! "


Ara berbalik. Hendak kembali keruang bawah tanah. Namun Aldre menahan tangannya.


"Aldre!! Lepasik gak! "


"Gak! Pokoknya Gak!! "


"Aldre!!! "


"Apa sayang"


"ASSSSHHHH! sakit Ra! " Aldre meringis. Ara menginjak kakinya menggunakan sepatu boat yang masih menempel pada kaki gadis itu.


"Rasain wlee" dengan cepat Ara berlari kembali ke ruang bawah tanah. "ARA!!! HAAISHSSHSH" Aldre berlari mengejar gadisnya.


.


.


Kembali ke rumah sakit


Kelopak mata yang beberapa hari ini tertutup kini terbuka. Kedua mata indahnya mengerjap. Line yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut ketika sosok yang tadinya tertidur kini menatap kearahnya.


"Carissa!! " Line bergegas mendekat. Tangannya meraih tombol di samping ranjang, dan memencetnya. Tidak Lama beberapa perawat datang bersama dokter.


"Dia sudah sadar, dok" seru Linea.


Dokter mulai memeriksa keadaan Carissa. "Apa anda ingat siapa nama anda?"Tanya dokter. Carissa mengangguk, "Carissa" ucapnya berbisik.


"Coba lihat wanita disebelah anda. Apa anda ingat siapa dia? " Carissa kembali mengangguk. "Ka Linea" masih dengan berbisik lirih.


"Syukurlah, tidak ada masalah serius yang terjadi pada kepalanya. Sekarang kita hanya harus memfokuskan untuk prosedur cangkok tulangnya" dokter menjelaskan kondisi Carissa.


"Lakukan yang terbaik dokter"


"Tentu, kami pasti akan melakukan yang terbaik. Dan tolong jangan biarkan pasien memikirkan hal-hal berat karena itu akan menghambat proses pemulihannya"


"Baik dokter. Terimakasih"


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi"


Dokter dan perawat keluar dari ruangan. Berganti dengan Sena yang masuk dengan raut khawatir.


"Linea, ada apa? " Tanya Sena panik. "Carissa sudah sadar ka" ucap Linea.


Sena menatap kearah ranjang. Senyumnya melebar mendapati adik iparnya yang menatapnya. "Oh sayang. Akhirnya kamu sadar" Sena memeluk adiknya. Mengucap syukur berkali-kali.


"Hubungi ka David, Lin" Linea mengangguk.


Sena menatap Carissa, mengelus lembut kepala gadis itu. "Ada yang sakit sayang? " matanya berkaca-kaca. "Better" jawab Carissa pelan.


"Maafin kaka gak bisa jaga kamu dengan baik"


"Kaka gak salah, gak ada yang salah disini"


"Ka Bella sudah berhasil menangkap mereka. Sekarang mereka ada diruang bawah tanah" Sena memberitau keadaan Sin pada Carissa. Sorot mata Carissa berubah sedih.


"Sin tidak salah, ka. Dia bahkan berusaha menghentikan lelaki itu" bagaimanapun Carissa tidak ingin sesuatu terjadi pada Sin.


"Tapi dia yang membawamu kesana. Jika dia tidak melakukan itu kamu tidak akan seperti ini"


"Ka Sena, tolong hentikan mereka. Jangan biarkan mereka menyentuh Sin"


"Carissa... "


"Carissa mohon"


Ceklek


Linea masuk dengan David dan nyonya Lia dibelakangnya. "Carissa" nyonya Lia berhambur memeluk tubuh putrinya. Wanita paruh baya itu menangis, tak tega dengan keadaan putri kecilnya.


Tidak lama kemudian Vania, Jeno, dan Jesslyn juga masuk kedalam ruangan. Ketiganya menatap sedih tubuh sang bibi yang penuh dengan perban.


"Ka Sena... " panggil Carissa. Gadis cantik itu menataonya memohon.


"Ada apa Sena? " Tanya David.


"Carissa... Bagaimanapun Sin akan tetap dihukum. Dia tidak akan mati, tapi dia akan tetap mendapat balasan yang setimpal" David menjelaskan dengan lembut pada sang adik.


Carissa menangis. Tangisannya begitu pilu. Semarah apapun Carissa, ia tetap tidak ingin kehilangan Sin dan selalu berharap bahwa sahabatnya akan kembali.


Kesedihan yang selama ini ia tahan kini meluap. Carissa satu-satunya yang menjadi saksi bagaimana Sin menghancurkan hidupnya sendiri. Kini ia menyesalinya, harusnya ia mengatakan pada semua orang sejak awal. Maka Sin tidak akan berakhir seperti ini.


"Carissa, jangan seperti ini sayang. Mamih mohon tenanglah"


Vania, Jesslyn, dan Jeno ikut menangis. Mereka bisa merasakan apa yang bibi mereka rasakan saat ini.


.


"Ka Bella, Ara mohon lepaskan Sin" sejak kembali keruang bawah tanah, Ara tak henti memohon pada sang kaka untuk melepaskn sahabatnya.


Saat ini Sin tengah berdiri disalah satu sel dengan tubuh yang terikat rantai yang cukup besar. Rantai itu melilit tubuhnya seperti ular. Isabella memegang salah satu ujung rantai, yang jika ditarik maka rantai itu akan mengikat tubuh Sin dengan sangat kecang. Dan bisa dipastikan tulangnya akan remuk.


"Carissa sudah sadar" Saka memberitau semua yang ada disana informasi yang ia terima dari kaka iparnya, Sena.


Jason menoleh. "Carissa sudah sadar? " Tanyanya memastikan. Saka mengangguk, "ia ka Jason"


Semuanya menghembuskan nafas lega, bersyukur karena Carissa sadar lebih cepat. Diam-diam Sin juga bersyukur karena sahabatnya itu baik-baik saja.


"Kau punya permintaan terakhir, Sin? " Tanya Isabella tajam.


Sin mendongak, menatap Isabella sayu. "Bolehkah aku bertemu Carissa? " tanyanya penuh harap.


"Apa kau tidak punya otak? " Aldre berbicara dengan sarkas. Lelaki itu menggeram marah.


"Aldre!!! " bentak Ara. Aldre melengos kesal, jika boleh ia pasti sudah menghajar mantan sahabatnya sejak tadi.


Sin menatap semua orang dengan penuh permohonan. "Aku mohon.... Aku hanya ingin memastikan keadaan Carissa" suaranya serak dan lirih.


"Jason! " Isabella menoleh kan kepalanya ke samping. Jason mengeluarkan ponselnya, menghubungi sang istri melalui video call.


Sin tersenyum simpul, setidaknya ia tau bagaimana keadaan sahabatnya.


"Hallo" panggilan terjawab. Jason bisa melihat raut bahagia istrinya didalam layar. "Ka Jason" panggil Sena dengan gembira.


"Bagaimana Sin? "


"Baik. Mami sedang menyuapinya" Sena mengarahkan ponselnya ke arah Carissa dan sang mami.


"Carissa.. " Panggil Jason. Carissa menoleh, "ka Jason" lirihnya.


"Maafkan kaka tidak ada disana saat kau sadar"


"Kaka, Sin....? "


Jason terdiam sesaat, lalu mengarahkan ponselnya pada Sin. "Sin!! " Carissa menjerit kencang begitu melihat keadaan sahabatnya.


"Uhuk uhuk uhuk" gadis itu terbatuk begitu merasakan nyeri di tenggorokannya.


"Carissa tenang sayang" ucap nyonya Lia.


"Carissa...... " panggil Sin khawatir. Air mata Sin kembali mengalir melihat tubuh sahabatnya yang penuh dengan perban.


"Aku tidak apa-apa, Sin. I'm okay" ucap Carissa pelan.


"I'm sorry, I'm sorry hiks hiks"


"Ka Bella. Carissa mohon jangan hukum Sin"


"Dia harus mendapatkan hukuman atas perbuatannya, Sweetie " tegas Isabella.


"Tapi ka Bella---"


"Sudah cukup, kau harus istirahat! " ucap Isabella mutlak. Jason mematikan telponnya. "Bawa Ara ke kamarnya, Aldre! "


"Iya ka" Aldre mengangguk, kembali menarik tubuh Ara menuju kamar. "Ayo ra"


Ara memberonrak kembali, menatap sahabatnya khawatir. "Gak mau!! Ka Bella jangan hukum Sin, Ara mohon!! Ka Bella!! "


Aldre menggendong paksa tubuh Ara. Mengabaikan raungan Ara yang meminta agar Sin dilepaskan.


"SIN!!!!! "


......


T B C?


BYE!