
Setelah selesai maraton film bersama, Jeno memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena ia ingin lanjut membereskan beberapa barangnya yang belum sempat ia masukkan ke dalam koper.
"Bagaimana kakek dan nenek mu?" Jeno bertanya pada Geo yang baru saja masuk.
"Better" jawab Geo singkat menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Geo menatap Jeno yang membelakangi nya, sahabatnya itu masih fokus pada kegiatannya.
"Aku rasa aku mengerti kenapa Keano menggunakan sifat manipulatif nya padaku"
"Kenapa?" Jeno melirik sebentar lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Phoenix tidak menerimanya" suaranya mengecil, Geo tidak mengerti kenapa keluarga di Phoenix menjauhi Keano.
"Paman Dion"
"Hah?"
"Keano sama seperti paman Dion. Dia pernah menghianati bunda, dan Phoenix tidak memaafkannya sampai sekarang"
"Berarti Keano harus menghilangkan sifat buruknya?"
"Tidak akan bisa selama dia masih dekat dengan paman mu. Sejak kecil Keano selalu mengikutinya kemana pun, sulit untuk memisahkan mereka"
"Kau benar. Kakek sangat menyayangi paman"
Jeno bangkit setelah memasukkan barang terakhirnya ke dalam tas. Merapihkan koper dan tasnya ke sudut ruangan.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Jeno menatap lekat sahabat nya.
"Apa?"
"Bagaimana perasaan mu pada abang saat ini?"
Geo sama sekali tidak menduga bahwa pertanyaan itu akan keluar dari mulut Jeno. Tidak ada yang pernah menanyakan hubungannya dengan Jeven selama ini dan Geo juga tidak berminat untuk membahasnya.
Geo mengalihkan pandangannya menatap segala arah. Lebih tepatnya menghindari tatapan Jeno. Kalau di liat-liat sifat protective nya semakin mirip dengan bundanya.
"Tidak tau" jawab Geo gugup. Sebelah alis Jeno terangkat, matanya memicing tak percaya. "Kau tidak pernah berkomunikasi dengannya?"
"Dia menghubungi ku, tapi aku tidak pernah menjawab"
"Kenapa?"
"Kenapa? Dia sendiri yang mengkhianati ku! Padahal jika dia berpacaran dengan Keano pun aku tidak perduli" Geo berseru kesal.
"Mereka pacaran?"
"Tentu saja tidak"
"Kenapa kau semarah ini?" Jeno bertanya dengan nada begitu santai yang sukses membuat Geo mendelik padanya.
"Mereka bermain-main di belakang ku, bagaimana mungkin aku tidak marah?!"
Jeno mengangguk kecil, paham bagaimana perasaan sahabatnya. "Apa yang akan kau lakukan jika bertemu abang?"
"Tidak ada"
"Tidak ada?"
"Memangnya kau berharap aku akan melakukan apa? Waktu ku terlalu berharga untuk orang gila sepertinya"
"Tidak bisa di percaya"
"Terserah"
**
"Bangunkan kakak mu, Jovan" perintah Isabella pada si bungsu Jovan yang baru saja masuk ke ruang makan.
Jovan mendelik pada sang bunda, untung wanita itu tak melihatnya. "Kenapa harus aku?"
"Kenapa kau harus protes?"
"Biar Jeven saja bunda" Jeven baru saja bangkit tapi Isabella buru-buru menghentikannya. "Tetap di tempat mu! Jovan!"
"Ck"
"Tidak perlu" Jeno muncul dari pintu membuat Jovan bernafas lega karena aku sesungguhnya ia malas membangunkan kakak nya itu.
Jeno melirik Jeven yang entah kapan lelaki itu tiba. "Kapan abang datang?"
"Lima belas menit yang lalu mungkin" jawab Jeven.
Brukk..
"Asshhh" suara ringisan kecil terdengar dari belakang tubuh Jeno. "Bisakah kau tidak berhenti tiba-tiba sialan!" umpat sosok tersebut.
Jeno memutar bola matanya malas. "Siapa yang menyuruh mu berjalan sambil main handphone bodoh!" semburnya kesal.
Dahi Jeven mengkerut, ia merasa seperti nengenali suara ini. Tapi...
"Minggir kau brengsek!" Geo mendorong kasar tubuh Jeno ke samping membuat si empu mengumpat kasar ke arahnya.
"Bocah sialan!"
Tanpa menghiraukan perkataan Jeni, Geo kembali fokus pada ponselnya karena dirinya saat ini tengah membalas pesan sang papah.
"Geo"
Geo mendongakkan kepalanya ketika merasa dirinya di panggil.
"Bajingan" umpat nya tanpa sadar. Mata Jeven membola kaget, tapi Jeno dan ke dua saudara kembarnya justru tertawa keras.
"Kau bilang apa?"
"Brengsek-- oh? Hai bang Jeven, what's up?" Geo menyapa sosok lelaki yang semalam ia dan Jeno bicarakan. Wajahnya menampilkan cengiran tanpa dosa karena sudah dua kali mengumpati lelaki itu.
"HAHAHAHAHA Brengsek wkwkwkk" tawa kompak ketiganya makin terdengar keras.
"Apakah sopan mengumpati yang lebih tua di pagi hari?" tegur Jeven. Geo mengangguk setuju. "Tentu saja, jika manusianya modelan seperti mu"
"Maksudmu?"
"****"
Isabella dan Justin tidak marah mendengar putra mereka di umpati seperti itu. Keduanya bahkan ikut tertawa keras yang membuat Jeven semakin kesal.
"Kau tidak pernah membalas pesan atau mengangkat telpon ku?"
"Memangnya kau presiden. Kau tidak sepenting itu btw"
"HAHAHAHAHA EKWKWKW"
"Sialan!"
*
"Mau kemana Jen?" Justin menelisik penampilan Jeno yang terlihat rapih persis seperti orang yang akan pergi kencan. "Mau ngedate hm?"
Senyum Jeno melebar. "Itu ayah tau"
"Dasar anak muda"
"Memangnya ayah tidak pernah muda"
"Ayah tidak se alay kamu"
"Dih. Jeno gak percaya ayah, banyak saksi mata"
"Hahahaha"
"Join dong Jen" entah darimana munculnya Geo, bocah itu tiba-tiba sudah berdiri di sebelah sahabatnya hampir membuat Jeno terlonjak.
"Gua mau ngedate ya bangsat bukannya study tour" sembur Jeno cepat.
"Ya emang ngapa si gak boleh? Kan gua gak ganggu"
"Gak ada ya asu"
"Bunda aja selalu ngintilin papah, masa gua gak boleh"
"Itu emang dasar papahnya aja yang bucin bunda. Jauh-jauh lo dari gua"
"Pelit"
"Bodo amat"
"Pokoknya gua join atau gua copotin ban motor lo"
"Bocah bangsat"
"Kamu pergi sama abang aja ayo" Jeven menyahut perdebatan keduanya. Geo mendelik sinis. "Alergi gua"
"Wkwkwkwk sabar ya bang" Jovan menepuk-nepuk bahu Jeven, memberi semangat pada abangnya setelah mendapat penolakan.
"Jen"
"Apasih ah"
"Ikut"
"Pulang bego"
"Gak ah ntar gua di usir daddy"
"Ya lu tolol"
"Ikut apaaaa"
"G"
"Ikut"
"G"
"JENO SAYANGGG MUACHH"
Satu kecupan mendarat sempurna di pipi Jeno. Siapa lagi pelukannya jika bukan Geo, bocah itu memang senang memancing emosi sahabatnya.
"GEO BANGSAT!!"
"Hehehehe"
Erick memandang bingung sepupunya yang duduk di kursi belakang. Seingatnya Jeno mengajaknya kencan, tapi kenapa sama Geo.
"Jangan salahin aku, bocah ini yang rusuh" ucap Jeno cepat.
"Geo aku mau kencan" seru Erick pada sepupunya itu berharap Geo mau keluar dari mobil.
"Ya emang ngapa si. Gua gak bakal ganggu kok anggap aja gua transparan" balas Geo sambil mengibaskan tangannya.
Bibir Erick mengerucut. "Ish Geo"
"Ngapa? Takut ke gep *******? Slayyy gua bukan Keano. Kalem ae"
"Anjing lu yo"
"Wkwkwk muka mesum lu udah ketebak bodoh"
"Emang anying"
"Janji ya jangan cepu?" Erick mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Geo meminta sepupunya itu melakukan pinky promise.
"Janji" dengan senyum geli Geo menyambut kelingking Erick. "Gacor juga lu berdua wkwkwk"
"Diem lu ah" sembur Jeno.
****
See you!