Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
13. Keano dan Geo



Cartesy High School, Los Angeles.


"Kapan kau akan berangkat, Jen?" tanya Brian. Saat ini Brian, Jeno, Jovan, Jesslyn, dan Virzan tengah berkumpul di kantin.


Bel istirahat berbunyi tiga belas menit yang lalu, dan kelimanya langsung meluncur begitu mendengar suara bel.


"Secepatnya" jawab Jeno singkat.


"Sudah mengatakannya pada Erick?" kali ini Virzan yang bertanya.


Jeno terdiam sebentar, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sepupunya itu. "Aku tidak akan bilang"


"Jangan seperti itu, Jen. Kau akan membuat Erick salah paham nanti" tegur Jesslyn. Bahu Jeno turun, tubuhnya mendadak lemas. "Aku bingung, Jes. Aku tidak tau bagaimana cara mengatakannya"


"Ada banyak cara jika kau ingin mencoba"


Virzan memajukan tubuhnya lebih dekat pada Jeno. Matanya berbinar terang menatap sepupunya itu. "Ngomong-ngomong, apa kau akan bersekolah di tempat yang sama dengan Geo?"


"Kenapa memangnya?" tanya Jeno sewot. Virzan mendengus, melempar kulit kacang di tangannya kearah Jeno. "Aku hanya bertanya sialan!"


"Kepo!"


"Erick datang. Eeh? Keano gak masuk?" seru Brian melihat Erick yang berjalan sendiri masuk ke dalam kantin.


"Lah iya. Kemana itu bocah?" timpal Virzan lagi. Keempatnya sontak menoleh pada Jeno. "Jangan bertanya apapun padanya" peringat Jeno tajam yang diangguki keempatnya.


Jeno bangkit dari kursinya, berjalan ke arah Erick yang sedang berdiri di salah satu stand makanan. Satu tangannya menepuk pelan pundak sang kekasih.


"Duduk aja, biar aku yang beliin. Kamu mau apa?"


"Spaghetti aja" jawab Erick lemas. "Mm. Tunggu sama anak-anak"


"Terimakasih"


"Sama-sama"


"Lemes banget, Rick. Kenapa? Belum di cium Jeno ya?" goda Virzan sambil menaik turunkan alisnya. Tatapan tengilnya ia layangkan pada Erick, membuat wajah cowok itu semakin merengut.


"Gua tonjok lu ya!" Erick berseru kesal.


"Kkkkk. Galak banget saudara ipar"


"Berisik!"


"Hahahaha"


Brian dan yang lain hanya bisa menggeleng dengan tingkah Virzan yang senang sekali menggoda Erick.


Tidak lama kemudian Jeno datang dengan sepiring spaghetti dan segelas jus alpukat ditangannya. Meletakkannya tepat di hadapan sang kekasih.


Erick menatap Jeno bingung. "Aku kan gak pesen jus"


"Aku yang pesen. Sekarang makan" ucap Jeno. Tangannya terjulur mengelus lembut rambut Erick.


"Kamu gak makan?"


"Aku udah makan, sayang"


Erick mengangguk sekilas meraih garpu dan mulai menikmati makanan miliknya dalam diam. Virzan, Brian, Jovan dan Jesslyn kompak menatap Jeno meminta penjelasan, Jeno balik menatap keempatnya memberi kode untuk tetap diam. Karena dirinya tidak bisa menjelaskan jika ada Erick di dekat mereka.


"Pulang sekolah kita jalan-jalan ya" ajak Erick pada Jeno begitu ia menyelesaikan suapan terakhirnya.


"Mau dong sayang. Tapi tumben kamu mau ngajak aku jalan-jalan duluan, kenapa?"


Erick mengerucutkan bibirnya, wajahnya kembali berubah sendu. "Aku gak mau pulang. Aku masih nginep di mansion kakek sampe minggu depan. Aku gak mau ketemu kakek, jadi kita jalan-jalan sampe malem ya"


Jeno menggeleng. "Gak bisa. Aku gak bisa bawa kamu pergi sampe malem" jawaban Jeno membuat Erick menunduk sedih. Sebab dirinya benar-benar tidak ingin pulang atau bertemu sang kakek.


"Tapi aku akan temani kamu di rumah. Oke?" Ucap Jeno lagi.


"Aku nginep dirumah kamu aja ya?" Pinta Erick. Jeno kembali menggeleng. "Nanti Harena nyariin kakanya"


"Ajak aja Harena nginep dirumah kita" sahut Jovan. Jeno mendelik tajam pada sang adik. "Diam kau pedofil"


"Sialan!"


"HAHAHAHAHAHA"


"Anjai Jovan si Pedofil"


"Aduin grandpa ah"


"Berisik!"


Jeno tidak memperdulikan ketiga saudaranya yang menggila, fokusnya kembali pada sang kekasih yang masih setia menampilkan ekpresi merengut nya.


"Sayang" panggil Jeno. "Jangan ngambek. Sekarang aku anter ke kelas ya? Sebentar lagi bel"


"Gak usah. Aku bisa sendiri" Erick bangkit dari duduknya berlalu pergi meninggalkan kelimanya tanpa sepatah kata.


"Kenapa si dia?" tanya Virzan yang sudah sangat penasaran sedari awal. Jeno menghembuskan nafas kasar. "Geo" jawabnya pelan.


Seolah paham maksud Jeno, Virzan memutuskan tidak bertanya lagi. Dirinya sudah hapal betul bagaimana hubungan Geo dan keluarganya.


"Keano" lirih Jovan yang masih bisa di dengar yang lainnya.


"Pengen banget gua tonjok mukanya Keano sebenernya. Bocah itu ada masalah apa sih sama hidupnya? Heran banget gua" celetuk Brian yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya.


"Gak tau" jawab Jeno singkat.


"Ada banyak faktor yang bisa bikin lu bersikap jahat sama saudara lo sendiri. Cinta salah satunya" ucap Jesslyn menimpali.


"Ada hal lain"


"Apa?"


"Iri"


"Keano gak suka diabaikan. Dia mau selalu jadi nomor satu. Dia mau orang-orang selalu ngutamain dia, pokoknya harus selalu dia yang jadi pilihan pertama" jelas Jeno.


"Lu udah hubungin Geo, ka?" tanya Jovan. Dirinya tidak ingin tau bagaimana keadaan sahabatnya Keano, karena sejujurnya Jovan lelah dengan sifat jelek Keano yang satu itu. Anak itu tidak bisa menerima nasihat dari orang lain, dan Keano selalu besar kepala jika menyangkut dirinya sendiri.


Jeno menggeleng atas pertanyaan sang adik. Disituasi seperti ini, Geo pasti tidak akan mau berhubungan dengan siapapun. Dia akan menolak semua panggilan yang diterimanya.


"Keano terlalu munafik" kesal Jesslyn.


"You right, princess" ucap Virzan.


***


See you lagi!!