Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
166



Sudah berminggu-minggu sejak penolakan yang Fedrick terima. Nyatanya tidak membuat lelaki itu menyerah sedikit pun meski sempat merasa murung. Hal itu membuat Sin merasa sangat terharu karena Fedrick benar-benar memperjuangkannnya meski lelaki itu jelas tau apa yang pernah terjadi sebelumnya.


Seperti siang ini, Sin baru saja menerima kiriman makan siang dan bucket besar cokelat dari Fedrick. Meski bukan lelaki itu sendiri yang mengirimkannya, tapi Sin merasa begitu terharu atas effort yang Fedrick berikan padanya.


Sin tersenyum manis menatap kotak makan dengan logo restorant favoritenya. Terkadang Sin bertanya-tanya seberapa banyak yang Fedrick tau tentang dirinya. Apa Carissa mengatakan banyak hal?


"Apa kau sudah gila tersenyum dengan kotak makan seperti itu?"


Panjang umur sekali. Baru saja di pikirkan, Carissa justru sudah menampakkan dirinya.


"Hai" sapa Sin pada sang sahabat. Carissa mendengus. "Kaku sekali"


" ck bawel!"


"Wiihhh cokelat dari siapa tuh" goda Carissa dengan senyum menyebalkannya.


"Kepo"


"Udah gak marah? Tumben kesini"


Mata Sin menelisik penampilan Carissa dari atas ke bawah, terus berulang-ulang. Gadis itu terlihat sedikit berantakan, padahal biasanya dia selalu terlihat rapih.


"Siapa yang marah" jawab Carissa kalem. "Lah? Yang kemaren?" satu alis Sin menukik.


"Hehehe, takut kamu ledekin"


"Yeee bocah semprul. Kacau banget sih? Abis ngapain?"


"Kepo ah. Ayo masuk"


Carissa meraih lengan Sin, menyeratnya masuk ke dalam ruang kerja milik gadis itu.


Selebihnya Sin kembali sibuk dengan pekerjaannya setelah menyimpan cokelat dan makan siang miliknya di tempat yang tepat. Sedangkan Carissa, gadis cantik itu sibuk memilih dan mencoba beberapa gaun yang ada di dalam ruangan Sin, tak lupa juga mengambil selfie di depan cermin.


"Gaunnya bagus. Buat aku ya" ucap Carissa tiba-tiba yang mengalihkan atensi sahabatnya dari kertas-kertas putih kesayangannya.


Kepala Sin yang semula menunduk fokus pada desainnya mendongak setelah mendengar suara sang sahabat. Di depan cermin, Carissa tengah mengenakan sebuah gaun berwarna biru langit dengan beberapa ukurin kupu-kupu di bagian bawahnya yang menambah kesan Indah dan cantik pada gaun tersebut. Carissa terlihat seperti seorang princess ketika memakai gaun tersebut.


"Kamu suka?" Tanya Sin yang di jawab anggukan antusias Carissa.


"Tapi itu gaun pengantin" ucap Sin. "Gak apa-apa, aku tetep mau. Yayayaya boleh ya buat aku?"


Sin terdiam sesaat. Sejujurnya gaun itu adalah gaun impiannya, saat mendesainnya Sin berharap bisa mengenakannya di hari pernikahannya dengan Aldre. Tapi impian itu sudah hancur, menyimpan gaun itu pun rasanya percuma.


Jadi dengan berat hati Sin memberikan gaun kesayangannya pada Carissa, dirinya juga tak tega melihat tatapan penuh harap yang di tunjukan sahabatnya itu.


"Baiklah" balas Sin dengan raut pasrah.


Carissa berlari ke arah Sin. Memeluknya dan memberikan sebuah kecupan singkat di pipi kanan Sin. "Aaaaaa makasih sahabat ku sayang"


Helaan nafas berat yang Sin hembuskan tanpa Carissa sadari meluncur bebas. Sin memejamkan matanya, mencoba melupakan bayang-bayang mimpinya selama ini. Dia sudah berjanji untuk tidak lagi terjebak pada masa lalu dan memulai hidup barunya. Dan itu berarti dirinya harus bisa melupakan segala bayang-bayang tentang Aldre dan cintanya.


"You can, Sin" bisik Sin lirih menyemangati dirinya sendiri.


Sin menghempaskan tubuhnya kebelakang, bersandar pada kursi. "Aku belum sehebat itu untuk mengadakan sebuah pameran atau fashion show" jawabnya santai.


Carissa mendengus. "Kamu sedang merendah untuk meroket ya?! Ka Bella bilang kamu designer terkenal di Spanyol" serunya tak santai.


"Ka Bella berlebihan" balas Sin sambil mengibaskan sebelah tangannya.


Mata Carissa memicing tajam. "Bilang aja kamu belum punya dana" sungutnya kesal. Sin terkekeh kecil, alasan sesungguhnya memang itu.


Skip time


Waktu makan siang telah tiba, Sin melangkah keluar dari butik miliknya menuju cafe terdekat. Dirinya hanya berjalan sendiri karena Carissa tidak bisa makan siang bersama karena ada urusan mendadak.


Setibanya di cafe tujuannya langkah Sin di hentikan oleh sosok yang tengah berdiri di depan cafe dengan kepala menunduk fokus ke layar ponsel. Sosok itu seperti sedang menunggu seseorang.


Tanpa sadar Sin tersenyum kecil, seingatnya Fedrick sudah kembali ke Washington, tapi lelaki itu justru masih menyempatkan diri menghampirinya untuk makan siang bersama. Padahal Sin jelas tau kalau Fedrick sedang sangat sibuk.


Fedrick? Ya, sosok yang tengah berdiri di depan cafe adalah Fedrick. Sin bergegas menghampiri tidak ingin membuat lelaki itu semakin menunggu lama.


"Fed" panggilnya lembut. Fedrick mendongak, matanya langsung bertemu dengan wajah cantik Sin.


Bibir Fedrick menyunggingkan sebuah senyum manis. Yang dirinya tunggu-tunggu akhirnya datang.


"Kamu udah nunggu lama ya? Kenapa gak nunggu di dalam?" tanya Sin.


"Gak ko, aku baru datang juga. Tadi masih rame, jadi aku nunggu di luar. Kamu sendiri? Carissa?" Mata Fedrick mencari sosok lain di belakang tubuh pujaan hatinya, tapi nyatanya tidak ada siapa pun. Karena sebelumnya Sin mengatakan bahwa ia sedang bersama Carissa.


"Ada urusan mendadak tadi"


"Oh. Yaudah kalau gitu, ayo masuk"


Keduanya pun masuk ke dalam cafe bersama. Fedrick meminta Sin untuk menunggunya di meja, sedangkan dia memesan makan siang mereka.


Pilihan Sin jatuh pada meja yang terletak di sudut cafe tepat di samping jendela. Sambil menunggu Fedrick, Sin mengeluarkan ponselnya dan mengecek beberapa email dari kliennya.


Sejak butiknya di buka kembali, Sin tidak berhenti menerima pesanan gaun hingga membuat dirinya cukup kewalahan.


"Nanti dulu main ponselnya, sekarang isi tenaga dulu" suara Fedrick membuat Sin terperanjat, lalu meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap lelaki di hadapannya kesal.


"Kamu ngagetin aku" protes Sin. Fedrick terkekeh. "Maaf ya, cantik"


Keduanya pun memulai makan siang mereka, sambil sesekali berbincang kecil. Membicarakan hal-hal random diselingi tawa.


Satu hal yang tidak Sin sadari saat ini adalah, bahwa secara perlahan Sin mulai membuka diri untuk Fedrick. Mempersilahkan lelaki itu masuk dan menjadi bagian dari salah satu ceritanya. Cerita baru yang sedang coba Sin rangkai. Dan gadis itu berharap bahwa ceritanya kali ini tidak menyimpan luka dan kesedihan apa pun. Sin hanya ingin bahagia seperti yang lainnya.


....


t b c?


bye!