
"Jika aku jadi Virzan, aku akan melamar Geo detik itu juga"
Jesslyn melempar segenggam kulit kacang kearah adik kembarnya itu. Bibirnya mencebik setelah mendengar omong kosong Jovan.
"Kau saja tidak berani menghadapi paman Daniel. Lagak mu ingin menghadapi Daddy" cibirnya.
Spontan Jovan menyengir lebar. "Kan ada bunda hehe"
Jeno mendengus geli. "Tidak jelas" timpalnya.
Reaksi Jovan saat ini sebenarnya berawal dari Geo yang menelpon Jeno setelah dirinya kembali dari taman. Niat Geo hanya ingin menanyakan perihal Jeno yang tidak memberitahu kepulangannya pada sahabatnya yang lain dan memberitahu bahwa dirinya bertemu dengan Virzan saat jogging.
Sayangnya percakapan mereka didengar oleh si manusia julit, Jovan Scander. Untung saja Geo tidak mendengar segala macam perjulitan yang tadi sempat keluar dari bibir Jovan. Kalau tidak semua rahasia Virzan dipastikan akan terbongkar.
Jesslyn yang semula terdiam kembali teringat pertanyaan Geo yang belom sempat Jeno jawab, gadis itu dengan cepat menoleh ke arah kaka kembarnya. "Kau tidak memberitahu mereka tentang kepulangan Geo?" tanyanya dengan mata memicing.
Gelengan kepala Jeno berikan sebagai jawaban. "Aku lupa" ucapnya singkat.
"Sibuk merayu kekasihmu ye?" ejek Jovan penuh kejulitan. Sebelah alis Jeno menukik tajam. "Lama-lama kau seperti admin lambe turah" ujarnya.
"Hanya khusus untuk mu"
"Aku tidak menyangka bahwa kau se cinta itu padaku"
"Hidih!"
Ekspresi Jeno berubah menjadi penuh haru dan mata yang berbinar. "Apa aku begitu spesial bagimu? Ouh adik ku sayang maafkan kakak mu ini yang terlalu sering melupakan mu. Karena kau beban bagiku" ucapnya dengan wajah menyebalkan diakhir kalimat.
Jovan menatap sang kaka penuh permusuhan, bocah itu kemudian memejamkan matanya dan mulai menarik nafas panjang. "BUNDA AYAH JENO NONTON BOKEP!!!" teriaknya lantang.
"JENOOOO!!!!" teriakan sang ayah menyahut dengan nada tajam.
"Bocah biadab" Jeno menatap tajam adiknya yang di balas juluran lidah oleh Jovan.
Rasanya Jesslyn ingin sekali menyumpah serapah keduanya, tapi sayang baginya membuang-buang waktu hanya untuk meladeni dua orang gila yang sayangnya adalah saudara kembarnya.
"Kenapa aku harus lahir bersama kalian berdua?" serunya dengan nada jengkel.
"Karena kita di takdirkan sehidup semati" jawab Jovan santai.
Jeno bergidik jijik. "Tai"
"Eh? Ngomong-ngomong kau menyimpan tongkat mu dimana?" Entah kenapa Jeno jadi teringat tongkat milik Jovan yang didapatkan adiknya itu saat perang sebelumnya.
Satu alis Jovan terangkat. "Kenapa memangnya?"
"Hanya penasaran"
"Disimpan bunda dan grandpa. Paman Devan bilang akan sangat bahaya jika benda itu ada di sekitarku dengan kondisi aku yang belum bisa mengendalikannya" jelas Jovan.
Kepala Jeno mengangguk mengerti. "Padahal tanpa tongkat itupun kau tetap berbahaya. Mulut laknat mu lebih tepatnya"
Raut serius yang semula terpatri di wajah Jovan berubah menjadi raut kesal."Kaka sialan!"
"Kkkkkkk"
"Hahahahaha"
***
"Kenapa wajah mu seperti orang yang belum bayar hutang?"
"Lain kali jika paman Aldre datang pagi buta seperti tadi jangan bangunkan aku" Geo menjawab dengan ketus.
"Papah mu itu hobi olahraga masa anaknya pemalas. Kamu ini anak siapa sebenernya?"
"Anak mu" sahut Galih yang baru datang dari dapur dengan dua minuman ditangannya.
"Dengarkan itu" timpal Geo.
"Love~" rengek Kevin.
Galih menatap sang suami, kepalanya memiring ke samping. "Memangnya ada yang salah? Benar kan? Aku bahkan harus ngambek dulu baru kau mau olahraga" ucapnya membongkar kelakuan sang suami saat mereka masih kuliah dulu.
"Setidaknya jangan katakan itu di depan Geo" balas Kevin sambil melirik sang anak yang tengah tertawa puas.
Galih menggedikkan bahunya sekali. "Aku hanya bicara fakta"
Suara langkah kaki terdengar bersahutan dari arah tangga. Kiran dan Keano melangkah beriringan menuruni anak tangga.
"Kenapa kau tertawa seperti orang kesurupan?" Tanya Keano pada sang kaka yang masih asik tertawa.
Spontan Geo menghentikan tawanya menatap geli kearah adik kembarnya. "Kepo"
"Dih"
"Daddy apa kita jadi ke Chicago hari ini?" Kiran berjalan mendekati kedua orang tuanya kemudian mengambil tempat duduk ditengah-tengah mereka.
"Tentu sayang" jawab Kevin sambil mengelus lembut rambut putri kecilnya.
Geo mengernyitkan dahinya bingung, mulutnya menganga kecil. "Hah? Ngapain?" Tanyanya heran.
"Kau bilang kangen ka Vion dan ka Vien. Yasudah kita wujudkan kalau begitu" bukan Kevin melainkan Keano yang menjawab.
"AAAARRRRRGGGHHHHH!!! NERAKA!!!!"
"HAHAHAHAHA"
Keano tertawa geli. "Apasih malah teriak-teriak. Mendingan kau mandi sana, kau bau!" Serunya.
"Pahhhh~" Geo memberikan tatapan memelasnya pada sang papah, berharap lelaki itu mau menolongnya.
"Loh papah kan cuma ikut daddy" ucap Galih tak bisa membela.
"Aaaarrrggghhhh" Geo mengacak rambutnya frustasi.
"Helikopter paman mu hampir sampai Geo. Bersiaplah sekarang" ujar Kevin.
"Kita musuhan!" Seru Geo sebelum berjalan ke kamarnya dengan langkah kesal.
"Bahagia banget ya dia mau ketemu ka Vien" gumam Keano. "Hihihihi" Kiran tertawa kecil.
Tepat setelah Geo selesai bersiap suara helikopter yang terbang di atas mansion Aldebaren terdengar. Bahu Geo turun seketika, kakinya mendadak lemas. Tidak bisa membayangkan bahwa ia akan bertemu kaka sepupunya yang super rusuh.
"Nyungsruk ini mah"
****
See you!