
"Tingkah tolol apalagi yang kau lakukan?"
Keano sungguh merasa muk melihat kelakuan saudara kembarnya yang sejak beberapa menit lalu hanya mondar-mandir di depannya seperti orang bodoh.
"Bisakah kau berhenti Geo!" sentaknya keras. "Berisik!" balas Geo tak kalah keras.
"Kau membuatku pusing bodoh!"
"Sebenarnya tingkah bodoh apalagi yang kau lakukan hah?!"
"Aku baru saja melakukan ketololan dan aku yakin sebentar lagi aku akan mati"
Sebelah alis Keano terangkat ke atas. "Apa maksudmu?"
"Aku baru saja keceplosan menceritakan tentang masa lalu ayah dan bunda pada..."
"Sahabatmu?" tebak Keano. Geo mengangguk cepat.
Keano menarik nafas panjang, satu tangannya terangkat memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut hebat. "Bah! Bocah tolol ini. Jika ayah mengejar mu aku tidak akan ikut campur. Dasar bego!"
"Bisakah kau setidaknya bersimpati padaku?"
"Cih! Tidak sudi"
Kevin dan Galih yang berdiri tak jauh dari mereka tak sengaja mendengarkan pembicaraan keduanya. Kepala Galih mendongak, menatap khawatir ke arah sang suami. "Ka..."
Kevin menjilat bibirnya yang terasa kering. "Minta maaf pada ka Justin. Setelah itu kita berjanji untuk tidak membahas hal ini pada anak-anak"
"Isabella..."
"Tenanglah dia akan baik-baik saja"
Meski sudah di tenangkan sang suami rasa khawatir Galih nyatanya tak berkurang sedikit pun. Galih paham betul bagaimana tabiat suami sahabatnya itu, lelaki itu tak mungkin melepaskan sahabatnya begitu saja.
"Maafkan aku, dear"
**
"Bunda, apa ayah marah?" Jesslyn bertanya pada Isabella yang kini berada di dalam kamarnya. Perdebatan antara ayah dan saudaranya tadi cukup membuat Jesslyn ketakutan.
Tangan Isabella bergerak naik turun mengelus halus puncak kepala putrinya. "Tidak sayang, ayah hanya sedikit kesal"
"Benarkah? Tapi ayah menatap Jeno tajam sekali"
"Jangan dipikirkan oke? Sekarang tidur ya, besok kan harus sekolah"
Jesslyn menurut, melakukan perintah sang bunda tanpa bertanya apapun lagi. "Iya bunda. Selamat malam, bunda"
"Selamat malam, princess" satu kecupan kecil Isabella tinggalkan di kening Jesslyn sebelumnya dirinya beranjak dan keluar dari kamar putrinya.
Dengan langkah berat Isabella berjalan menuju kamar miliknya, dari jarak yang sedikit jauh dirinya bisa melihat pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat.
"Boo..." Panggilnya pada Justin yang tengah berdiri tegak menatap keluar jendela.
Justin menolehkan kepalanya ke samping, Isabella bisa melihat sang suami yang tidak mengenakan apapun pada tubuh bagian atasnya. Hanya sebuah celana tidur tipis yang menempel apik di pinggangnya.
Sembari berjalan mendekat sesekali Isabella menoleh pada sebuah pintu yang terletak tepat di sebelah pintu kamar mandi. Dalam hati berharap dirinya tak dibawa masuk ke dalam sana oleh suaminya.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Isabella begitu dirinya berdiri tepat di belakang punggung Justin.
Satu tangan Justin terjulur untuk menutup gorden, kemudian berbalik menghadap wanita yang paling di cintainya itu.
"Aku menunggu mu. Sudah lama bukan?" Suara Justin terdengar serak dan dalam tanda bahwa lelaki itu tengah menahan sesuatu.
"Jeven"
"Boo, bisakah kita bicara?"
"Aku atau kau?"
"Tapi Boo--"
"Choice!"
Kedua netra abu gelap itu terpejam seiring dengan tarikan nafas dalam, namun dalam hitungan detik kembali terbuka menatap patuh pada kedua netra hazel bak singa kelaparan.
"Aku" satu kata yang keluar dari bibir Isabella sukses menampilkan seringai mengerikan di wajah Justin. Seringai yang sangat Isabella benci.
"Do it"
***
'Sedang apa kau?'
Jeno mengirim pesan pada Geo, setelah berpikir panjang bocah itu akhirnya mengambil sebuah keputusan.
'Baru akan tidur. Kenapa?' balasan dari Geo, Jeno dapatkan dua menit kemudian.
'Bereskan barang mu, kita berangkat sekarang'
'Kau Gila?! Jangan bercanda Jen!'
'Aku serius. Aku tunggu di depan gerbang rumah mu!'
Geo menggeram kesal, apa-apaan sahabatnya itu. Apa bocah itu sudah gila?! Bagaimana dirinya harus mengatakan hal ini pada sang papah?
Dengan perasaan kesal Geo beranjak turun dari atas ranjang, berjalan masuk ke dalam walk inj closet miliknya. Mengganti baju tidur yang dikenakannya dengan pakaian rapih, juga tak lupa mengambil sebuah jaket kulit dari dalam lemari.
Geo bersyukur karena ia tidak mengacak-ngacak kopernya, jadi tidak perlu terburu-buru membereskannya kembali.
Sepelan mungkin Geo berusaha untuk keluar tanpa suara, ia berjalan mengendap menuju kamar orang tuanya, membuka sedikit pintu dan mengendap masuk ke sana.
Pemandangan yang Geo dapatkan adalah kedua orang tuanya yang sudah tertidur pulas.
'Maafin Geo pah. Maaf Geo pergi tanpa pamit' batinnya sedih.
Geo mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, mengetikkan sesuatu di sana yang ia kirimkan ke ponsel sang papah.
"Geo pergi dulu pah. Titip papah ya dad" setelah mengucapkan kalimat itu Geo memberikan kecupan kecil di. Kedua pipi dan kening Galih, juga melakukan hal yang sama pada daddynya.
Bertepatan dengan dirinya yang berhasil keluar dari rumah, mobil milik Jeno sudah tiba di depan gerbang.
TIN TIN!!
"Berisik sialan!" Umpat Geo kasar.
"Aku akan membunuhmu jika papah ku bangun!" Semburan marah Geo layangkan pada Jeno begitu dirinya masuk ke dalam mobil.
"Kenapa kau membawa koper mu ke depan bodoh?!" Seru Jeno.
"Itu karena kau berisik sialan! Lebih baik kau jalan dan jangan berisik!!"
****
See you!