
Didalam walk in closet kamar masing-masing, Isabella dan Galih melakukan hal yang sama, membereskan beberapa pakaian suami mereka kedalam koper. Karena beberapa hari lagi, kedua pria itu akan pergi untuk menyelesaikan segala kekacauan ini.
Meski masih dilingkupi amarah, Isabella, dan Galih sama sekali tidak melupakan tugas mereka sebagai seorang istri. Dalam batin tetap tersimpan perasaan khawatir yang mendalam untuk kedua pria yang mereka cintai.
Kevin dan Justin hanya bisa menatap keduanya dalam diam tanpa berani mengganggu. Hati mereka terasa hangat hanya dengan moment kecil seperti ini. Meski harus tetap menahan sedih karena pergi dalam keadaan hubungan mereka yang berantakan.
Koper ditutup, kegiatan beres-beres itu sudah selesai. Isabella menoleh kearah sang suami yang memandangnya penuh cinta dari ambang pintu ruang ganti. Wajah wanita itu masih datar, tanpa membalas tatapan hangat suaminya, Isabella melangkah keluar dari sana.
"Terimakasih, honey" ucap Justin hangat begitu Isabella melewatinya.
Isabella masuk kedalam kamar mandi, ia belum mandi tadi sore karena terburu-buru menyiapkan makan malam. Mengejar waktu untuk segera membereskan barang-barang yang perlu Justin bawa nanti. Justin bisa mendengar suara kucuran air shower dari dalam kamar mandi.
Tanpa menoleh kearah Kevin, Galih bangkit, dan berjalan keluar dari ruang ganti. Pembicaraan mereka beberapa jam yang lalu seolah tidak mempengaruhinya sedikitpun.
"Terimakasih, love" ucap Kevin tepat disamping telinga Galih, membuat si empu berjengit kaget.
Galih merangkak naik keatas ranjang, menarik selimut untuk menutup tubuhnya lalu mulai berkelana kealam mimpi. Sedangkan Kevin, lelaki itu berbaring diatas sofa dengan selimut tipis yang melindunginya. Kevin tidak berani naik keatas ranjang, ia takut membuat sang istri semakin marah padanya.
Galih kembali membuka matanya beberapa menit kemudian, tubuhnya bangkit perlahan dari atas ranjang, menatap lekat wajah tampan Kevin yang sudah terlelap.
'Aku mengerti, hubby. Terimakasih sudah menyayangi Aldre, tapi maaf aku masih belum bisa memaafkanmu'
Tanpa sadar, air mata kembali mengalir dari kedua pipi chubi itu, dengan cepat Galih menghapusnya, dan kembali membaringkan tubuhnya. Kali ini lelaki manis itu benar-benar mengarungi alam mimpi.
.
.
"Sejak aku datang kau terus melamun, bocah. Aku disini bukan untuk menemanimu melamun" seruan menyebalkan Leo menyadarkan Aldre dari lamunan panjangnya.
Aldre menatap Leo kesal, kenapa pria tua ini muncul lagi dihadapannya? "Berisik, apa kau tidak bosan menggangguku?! Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau!"
Leo terkikik, "mengganggumu menjadi kesenanganku sekarang" balasnya santai.
"Bajingan keparat! Apa kau seorang duda hah?! Ganggu saja istrimu brengsek!"
"HAHAHAHAHA"
Wajah marah Aldre begitu menggemaskan bagi Leo, selain sang kaka Arvion, ini pertama kalinya Leo mengganggu orang lain. Dan rasanya begitu menyenangkan, ia seperti memiliki mainan baru.
Leo menunjuk tepat kearah wajah Aldre. "Kau lucu, jadi aku akan terus mengganggumu"
"Brengsek!"
"Berhenti mengumpat bocah nakal!" Omel Daniel yang baru saja masuk. Ada sebuah kantong plastik ditangannya, dan sebuah paper bag cokelat ditangan yang lain dengan logo restorant cepat saji terkenal.
"Kau darimana Daniel?" Tanya Leo. Saat dirinya datang beberapa menit lalu memang tidak ada siapapun selain sang pemilik ruangan.
"Mencari makan malam. Sejak kapan ka Leo disini?" Jawab Daniel.
"20 menit, kurasa"
"Ka Leo sudah makan malam?kebetulan aku membeli lebih" tawar Daniel menunjukan paper bag cokelat yang dibawanya.
Aldre mendengus. "Tidak usah ditawari, pria tua ini pasti sudah makan"
"Ahhh kebetulan sekali, aku datang kesini memang ingin menumpang makan. Biasanya orang sakit mendapatkan banyak makanan dari orang yang menjenguknya" ujar Leo dengan nada menyebalkan miliknya.
"Pria tua brengsek!!"
"Aldre" tegur Daniel.
Daniel meletakkan paper bag diatas meja sofa, mengeluarkan dua bungkus burger dan memberikannya masing-masing satu pada Leo dan Aldre yang langsung diterima keduanya dengan senang hati.
"Ka Daniel tidak makan?" Tanya Aldre. "Kaka sudah makan ditempat tadi" jawab Daniel.
"Apa paman Rayyan akan kembali?" Leo menyelesaikan potongan terakhir burger miliknya, melemparkan bungkusnya ketempat sampah yang berada dipojok ruangan.
"Tidak. Ayah akan istirahat dirumah malam ini" jawab Daniel sambil merebahkan tubuhnya disisi sofa yang lain.
"Harusnya kau tidak perlu menunggui bocah ini, Daniel. Biarkan saja dia"
"Inginnya seperti itu, tapi aku khawatir bocah ini akan membuat kekacauan"
"Benar juga, kalau begitu ayo kita rante dia"
"Menyaut saja, tidak ada yang mengajakmu berbicara!" Balas Leo tak kalah sinis.
.
.
Nemoura yang terbangun tengah malam menghampiri Devan yang berdiam di ruang santai "Bagaimana keadaan Ara, ka?"
"Kaka tidak tau, tidak sempat bertemu dengannya" jawab Devan.
"Papah akan memberikan hukuman yang berat kan?" Nemoura agak khawatir dengan keadaan si bungsu, dirinya baru mendapatkan kabar tentang kehamilan adiknya itu tadi pagi.
"Kamu tau bagaimana papah, Nemoura. Hal-hal seperti ini tidak akan ada konsekuensi darinya"
"Tidak perlu khawatir, papah masih terlalu sibuk sekarang, dan Aldre masih belum pulih. Jadi hukumannya tidak akan diberikan sekarang"
"Tidak bisakah ditunda sampai anaknya lahir?"
"Tentu. Jika kau bisa membujuk kaka"
Nemoura menyerah, papahnya tidak akan mudah luluh jika dalam keadaan seperti ini. Dirinya bukan Isabella atau Devan yang berani melawan perintah kepala keluarga Courtland itu.
"Aku akan pulang ke LA"
"Untuk apa?"
"Ka Harves ingin aku membawa anak-anak kesana. Akan jauh lebih aman jika kami berada disana"
"Bawa istriku bersamamu jika begitu"
"Memang harus!"
"Tidurlah. Harves tidak akan senang melihatmu masih terjaga dijam seperti ini"
"Mm. Selamat malam, ka"
"Selamat malam"
Nemoura bangkit, berjalan kembali kekamarnya membawa segelas air yang sebelumnya dirinya ambil dari dapur.
Devan kembali membaca laporan yang diserahkan Robert sore tadi. Laporan tentang pergerakan Meso. Cukup mengherankan karena lelaki itu tidak melakukan pergerakan apapun selain terakhir kali saat mencoba menculik Kevin.
Otak Devan berpikir keras apa kiranya yang lelaki itu rencanakan. Semua keturunan The Cruel'd adalah orang-orang licik, mereka pasti merencanakan sesuatu yang tak terduga. Devan berpikir haruskah dirinya berbicara tentang hal ini atau tidak dengan Isabella.
"Apa yang lelaki itu rencanakan? Kenapa tidak ada pergerakan apapun dirinya?"
.
.
"Aku pikir kau akan menyerah, Meso?"
"Menyerah? Yang benar saja. Aku tidak akan menyerah sebelum bajingan itu mati! Nyawa ayahku harus terbayarkan!"
"Kau cukup gigih juga ternyata. Meski setelah bertahun-tahun masih belum bisa menyentuh seorang Devan Antonio Courtland"
"Aku akui dulu aku cukup lemah, tapi sekarang aku sudah sangat kuat hanya untuk sekedar menghancurkan bajingan itu"
Dasar sombong!
"Benarkah? Tapi kenapa kau membutuhkan bantuan Black Sweeper?"
Meso menatap lawan bicaranya tajam. Sebagai seorang bawahan seharusnya lelaki itu diam saja tanpa mengomentari tindakannya.
"Terserah saja, yang penting nyawaku tidak terkorban hanya untuk dendam bodohmu itu!"
.....
T B C?
BYE!