
"You love him right?" Jovan menatap kaka kembarnya penuh arti. Sorot tajam remaja itu layangkan pada remaja lain yang 30 menit lebih tua darinya itu.
"it's none of your business I guess" balas Jeno tenang.
"Of course I am. Jangan main-main Jen"
"Hahaha. Urus saja urusan mu, biar aku selesaikan sendiri urusan ku"
Kedua netra berbeda warna milik Jovan memicing tajam. "Why? Aku tau kita masih 14 tahun, tapi memperjuangkan apa yang kita ingin kan apa yang kita ingin kan tidaklah salah. Selama itu benar"
"Kau tidak mengerti" ucap Jeno lirih. Matanya yang semula terlihat tegar perlahan berubah menjadi sendu.
"Tell me"
"Meski hubungan seperti paman Galih dan Paman Kevin sudah menjadi hal umum, bukan berarti semua orang tetap akan menerimanya"
"...." Tidak ada jawaban dari Jovan. Remaja tampan itu masih ingin mendengar cerita lebih lanjut dari kaka kembarnya.
"Termasuk keluarga bibi Ana. Aku tidak mau hubungan Erick dan keluarganya menjadi renggan karena aku"
"Ka...."
"Tapi Erick tidak mau mengerti itu. Karena senyatanya hubungan mereka tidak pernah dekat"
"Lalu apa masalahnya?"
"Aku tidak mau membuat mereka semakin berjarak"
"Kau tau? Bibi Ana dan ibunya bahkan tidak dekat. Karena mereka tidak memiliki ikatan darah"
Mata Jeno membola lebar. "A-apa?"
"Bodoh!" Setelah mengumpati sang kaka dengan satu kata menyebalkan, Jovan melenggang pergi begitu saja dari sana.
"Hey? Jovan? Apa maksudmu? Jovan!!" Jeno meneriaki nama sang adik, tapi si pemilik nama tidak menghiraukannya dan memilih terus berjalan.
**
Sejak mendapat telpon dari Jeno, Erick berjalan tak tentu arah. Dirinya hanya mengikuti langkah kakinya yang hanya ingin menghilangkan rasa kesal di hatinya.
Sampai akhirnya Erick tiba di sebuah cafe. Erick melongokkan kepalanya, melihat bagian dalam cafe dari balik jendela besar yang penuh dengan stiker kucing menempel di sana.
"Ada cafe di perbukitan seperti ini?"
"Wahhh"
Erick membuka pintu, masuk ke dalam cafe. Hal pertama yang netra birunya dapati adalah banyaknya makhluk berbulu lucu yang menyebar di setiap sudut cafe.
'Sepertinya ini cat cafe yang paman bilang tadi' Erick berucap dalam hati.
Erick berjengit kaget saat merasakan bulu halus yang menggerayangi kakinya. Kepalanya menunduk, mendapati seekor kucing gemuk dengan bulu lebat berwarna abu-abu meringkuk di kakinya.
"Oh? Hai cutie. Lucu sekali hm" dengan gemas Erick mengusap kepala makhluk gemas itu.
"Selamat datang" suara sapaan hangat kembali mengejutkan Erick.
"Eehh?" Erick bangkit dari posisi jongkoknya. Di hadapannya berdiri seorang wanita muda dengan seragam pelayan. Erick bisa tebak jika wanita di hadapannya ini pasti seusia bibi Ara.
"Apa kamu Erick?" Tanya wanita tersebut. Erick mengangguk kaku. 'Darimana wanita ini tau namanya?'
"Tuan Aldre memberitau kami jika keponakannya akan datang ke sini" seolah tau apa yang Erick pikirkan, pelayan wanita itu menjelaskan.
"A-ahh, aku mengerti" balas Erick gugup.
"Silahkan nikmati waktu mu di sini. Jika butuh sesuatu jangan sungkan beri tau kami"
"Tentu, terima kasih"
"Kalau begitu saya akan kembali bekerja lagi, ya"
"Silahkan"
Pelayan wanita tersebut pun pergi meninggalkan Erick yang kebingungan.
"Jadi cafe ini milik paman? Apa kebun bunganya juga? Tapi paman kan tidak suka bunga" Erick bergumam tanpa suara.
Erick berjalan menyusuri seisi cafe. Sesekali mulutnya akan memekik gemas melihat para makhluk berbulu yang saling bercanda satu sama lain.
"Bagus sekali. Harena pasti akan senang jika di ajak kemari"
Setelah lelah berkeliling, Erick mendudukan tubuhnya di salah satu meja yang berada dekat dengan rumah-rumahan kucing yang terbuat dari kayu dan di tempel di dinding.
Seorang pelayan mengantarkan segelas minuman ke meja Erick. Cukup membuat Erick terkejut karena dirinya belum memesan apa pun. Tapi setelahnya Erick mengucapkan terima kasih pada pelayan tersebut.
Drrttt...
Getaran di saku celananya mengganggu gerakan Erick yang tengah memenggak minuman miliknya. Tidak menghiraukan siapa pun yang tengah menghubunginya saat ini, karena Erick sudah bisa menebak siapa pelakunya.
"Akan ku hantam wajah mu dengan kursi saat kit bertemu nanti" desisnya sebal. Dirinya jadi menyesal menyalakan ponselnya kembali.
"Kenapa tidak di angkat?"
Aldre memasang senyum simpul di wajahnya. Jatuh cinta anak muda semenggemaskan ini ternyata. Apa dirinya juga dulu seperti ini?
"Angkatlah. Jeno pasti merindukan mu" ucap Aldre. Erick mendengus. "Gak perduli"
"You love him, right?"
"No"
"Really? Don't Lie to me, boy"
Erick terdiam tidak menjawab pertanyaan sang paman. Aldre mengulurkan tangannya, mengelus kepala Erick penuh kasih sayang.
"Manusia punya Cinta, tapi hidup punya Norma"
Erick menatap sang paman tak mengerti. Apa maksud dari perkataannya?
"Hubungan seperti diri mu dan Jeno mungkin sudah menjadi hal umum, tapi bukan berarti semua orang akan menerimanya"
"And, your mom parents its not"
Kepala Erick menunduk, matanya menatap kosong ke arah meja. Apa yang Aldre katakan membuatnya baru teringat satu hal, Jeno adalah orang yang sangat hati-hati saat bertindak. Lelaki itu sangat persis seperti sang bunda. Segala tindakannya akan dia pikirkan matang-matang, termasuk tentang hal ini.
"Bicaralah padanya, Erick. Kalian akan menemukan jalan keluarnya" ucap Aldre memberi nasehat.
"Bagaimana jika tidak menemukannya?" Tanya Erick dengan raut sedih.
"Setiap masalah pasti memiliki cara penyelesaiannya. Don't worried okay?"
**
Saat ini di mansion milik Justin. Isabella dan ke empat anaknya tengah duduk santai di ruang tengah. Tidak ada si kecil Valerie karena gadis menggemaskan itu sedang tidur siang bersama sahabatnya, Harena.
"Jeno" Isabella memanggil putra keduanya.
Jeno mendongak membalas tatapan sang bunda. Dirinya jelas tau kenapa bundanya itu memanggil namanya.
"Apa lagi yang Jovan adukan pada bunda?" Serunya tak santai. Sesekali matanha melirik sinis saudara kembarnya itu.
Isabella tertawa kecil. "Tenanglah. Bunda hanya ingin memastikan apa itu benar?"
"Hm"
"Hm?"
"Iya bunda"
"And Erick?"
"He love me to, but..."
"Ana parents right?"
"Yeah"
"Ana dan ibunya tidak memiliki ikatan darah. Ayahnya menikah lagi dengan sahabatnya setelah ibu kandung Ana meninggal. Mereka tidak dekat karena Ana yang membatasi diri. Meski begitu ibunya sangat menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri"
Jeno, Jeven, Jesslyn, dan Jovan mendengarkan dengan begitu cermat apa yang Isabella katakan.
"Ibunya memiliki trauma terhadap pasangan sesama jenis. Adiknya meninggal karena bunuh diri setelah tau bahwa calon suaminya berselingkuh dengan seorang lelaki yang merupakan teman sekolahnya"
"Tapi bunda...."
"Jeno. Jika menurutmu cinta mu dan Erick hanyalah cinta monyet maka lupakan dia, berhenti menghubunginya, dan jaga jarak darinya. Karena jika seperti ini, kau hanya akan membuatnya semakin terluka. Kau mengerti son?"
"Bunda mu benar son" Justin yang baru saja tiba melangkah mendekat. Pria itu masih dengan pakaian kerjanya.
"Ayah? Kenapa ayah pulang?" Tanya Jesslyn heran.
"Ayah sampai harus terburu-buru menyelesaikan pekerjaan ayah karena adik mu menelpon dan mengatakan kakanya sedang patah hati" ledek Justin melirik putra keduanya geli.
Jeno mendengus. Dirinya pasti akan menjadi bahan ejekan sampai seminggu ke depan.
"Mau ayah sampaikan pada paman Daniel?"
"Tidak perlu. Memangnys aku bocah" tolak Jeno ketus.
"Kau memang masih bocah" balas Jovan tak kalah ketus.
"Iya deh si paling dewasa" cibir Jeno.
"Wkwkwkwk"
.....
T b c?
Bye!