Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
94 | KEBERANGKATAN SIN



Skholvies corp junior


Aldre mendorong pintu ruang kerjanya bertepatan dengan ponselnya yang berdering. Panggilan dari sang kekasih menerbitkan senyum lelaki itu pagi ini.


"Al, kamu gak dateng?"


"Dateng?" Aldre mengernyit bingung dengan perkataan kekasihnya.


Datang? Kemana? Seingatnya mereka tidak memiliki janji kencan hari ini.


"Rehabilitation, Al" ucap Ara.


Aahh, Aldre ingat sekarang. Gadis itu akan dipindahkan hari ini. Tepat dua bulan setelah ia masuk rehabilitasi.


"Untuk apa?" Tanya Aldre malas.


"Al, Sin akan dipindahkan ketempat pengasingannya hari ini" jawab Ara sendu.


"Aku tidak perduli, Ra"


"Tapi Al--"


"Ra! Aku benar-benar tidak perduli dengan apapun yang terjadi pada wanita itu. Jadi jangan pernah berharap aku akan datang. Mengerti?!"


Tanpa pamit Aldre mematikan sambungan telponnya. Melempar ponselnya kesal keatas sofa.


.


Ara menatap nanar ponselnya. Aldre memutuskan panggilan mereka begitu saja. Entah bagaimana lagi ia harus membujuk kekasihnya itu.


Ara menoleh pada kedua sahabatnya yang tengah berpelukan. Ia harus bicara apa pada Sin? Gadis itu begitu berharap Aldre akan datang.


Ara kembali melangkah memdekat kearah keduanya. "Ra, gimana?" Tanya Carissa begitu Ara tiba dihadapan mereka.


Kepala gadis manis itu menggeleng kecil. "Maaf ya Sin, Aldre ada raat penting pagi ini, dan gak bisa dia tinggalin" Ara terpaksa bohong agar Sin tidak merasa sedih.


"Gak apa-apa, Ra. Aku ngerti kok" jawab Sin pelan. "Aku kedalam dulu ya, aku belum pamitan sama yang lain"


Carissa menarik lengan Ara begitu Sin sudah kembali masuk kedalam pusat Rehab. "Bohong! Aldre pasti emang gak mau dateng kan?" Cecar Carissa.


"Car.... Aku gak bisa bujuk Aldre. Kamu tau bagaimana dia kan?"


"Kenapa Aldre masih gak bisa maafin, Sin?" Carissa berucap dengan sedih. Kedua matanha berkaca-kaca.


"Kalau kamu menempatkan posisi kamu jadi dia, maka kamu akan mengerti alasannya" balas Ara lembut. Menarik tubuh sahabatnya itu kedalam pelukannya.


Sin memandang keduanya dari jauh. Ia jelas tau mengapa Aldre tidak datang, dan ia juga mengerti kenapa Ara harus berbohong padanya. Sin tidak akan menuntut apapun, dia akan menerimanya. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak hadir saat ini, dan ia sangat mengerti itu.


Meski begitu, Sin sangat berharap ia bisa memeluk keduanya hari ini.


.


"Kau tidak bisa menyimpan dendam terus menerus dalam hatimu, Aldre" ucap Leo.


"Jangan ikut campur urusanku, ka Leo. Kau tidak tau bagaimana rasanya" balas Aldre sarkas.


"Aku tau, sangat tau bagaimana rasanya"


"Benarkah?" Aldre memandang pria tua disebelahnya dengan remeh.


"Setidaknya Ara masih bisa kau sentuh dan tatap sesukamu, Al. Tapi aku... Aku kehilangan saudaraku selamanya. Duniaku runtuh sampai tak bersisa"


Leo menatap Aldre yang juga tengah menatapnya. Ia yakin bocah itu pasti tau cerita ini.


"Ka Vion...." Ucap Aldre lirih.


"Kau tau siapa yang membunuhnya?"


"Musuhmu"


Leo menggeleng. "Kau dihianati sahabatmu, seseorang yang tidak memiliki ikatan darah denganmu. Tapi kami.... Dikhianati saudara sendiri" suara Leo memelan diakhir kalimatnya.


"A-apa?" Aldre menatap tak percaya sosok disebelahnya.


"Kakaku. Kaka kandung kami, yang kabur dari rumah bertahun-tahun Demi kebebasan hidupnya. Kau tidak tau seberapa hancurnya hatiku saat itu. Sampai aku tidak tau siapa yang harus aku salahkan"


Pikiran Leo berputar kembali pada ingatannya 20 tahun yang lalu. Saat ia harus kehilangan satu-satunya kaka yang ia miliki untuk selamanya.


Bertahun-tahun mengejar musuh yang membunuh sang kaka, Vion. Tapi kenyataan pahit yang semakin menghantam hatinya harus Leo terima. Ketika ia mengetahui bahwa orang yang membunuh saudaranya adalah kaka kandungnya sendiri, sosok yang hampir ia lupakan keberadaannya.


"Tapi kenapa?"


"Vien selalu mengatakan pada kami bahwa ada seseorang yang mengejar-ngejarnya, tapi tidak pernah memberitahu kami siapa orang itu. She know who's man. Tapi dia memilih untuk diam dan menyembunyikannya dari kami"


"Awalnya kami pikir dia menargetkan Devan karena kami memang musuh abadi hingga saat ini. Tapi setelah aku menemukannya, aku tau bahwa ia mendapatkan targetnya dengan tepat"


Aldre merasa bibirnya kelu. Tidak ada satu katapun yang keluar untuk merespon cerita pria dihadapannya ini.


"Dalam masalah kalian, kau adalah Vien, Sin adalah dia, dan Ara adalah Vion. Dan aku-- aku adalah Carissa"


"Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya, Al. Kau tidak akan bahagia karena terus menyimpan dendam dalam hatimu"


Aldre menatap lekat kedua netra biru gelap milik Leo. Ia bisa melihat dengan jelas, kilatan amarah yang masih cukup besar disana."Apa kau memaafkannya, ka?"


Aldre jelas tau jawabannya, tapi ia ingin mendengarnya sendiri dari pria itu.


Leo menggeleng. "Sejak saat itu, kau satu-satunya orang yang melihatku tersenyum kembali, Aldre"


.


Di tempat pusat Rehabilitasi.


"Mom, dad" suara Darren yang cukup kencang membuat semua orang menoleh, begitupun Sin yang tengah berpamitan dengan teman-temannya.


Air mata Sin luruh melihat kehadiran kedua orang tuanya. "Mom, Dad" lirihnya.


Maiva, ibu Sin, dan Darren. Beralri cepat kearag putrinya. Sin yang melihat itu dengan cepat meraih tubuh sang ibu.


"Mom, maafkan Sin" gadis itu menangis terisak dalam dekapan sang ibu.


"Mommy sudah memaafkanmu, sayang" ucap Maiva lembut.


Sevin mendekat, mengelus lembut rambut putrinya. "Dad... Maafkan Sin"


"Dad, sudah memaafkanmu, nak"


"Berjanjilah kau akan berubah menjadi lebih baik"


"Sin berjanji, dad"


"Bagaimana kalian bisa berubah pikiran?" Tanya Darren setelah tersadar dari keterkejutannya.


Kedua suami istri itu menoleh kebelakang. Pada sosok yang mengubah keputusan mereka didetik terakhir.


"Aldre..." Ara menatap terkejut kehadiran sang kekasih. Seingatnya lelaki itu tadi menolak untuk datang.


Tidak hanya Ara, bahkan yang lainnya pun ikut terkejut. Aldre mendekat, berdiri tegak didepan Sin.


"Al--"


"Aku sudah memaafkanmu. Berjanjilan kau akan menjadi pribadi yang lebih baik" ucap Aldre tegas.


Sin mengangguk semangat. "Aku berjanji, Al. Terimakasih"


Aldre menarik Sin kedalam pelukannya. Memeluk erat sahabatnya itu. Tangis Sin pecah, beban yang dipikulnya selama ini melepakan diri dengan bahagia.


Ara dan Carissa menangis haru melihat keduanya. "Setelah ini kita akan kembali kaya dulu lagi kan, Ra?"


"Pasti, Car. Pasti"


"Kau melakukan yang terbaik, ka Leo" gumam Isabella.


Waktu keberangkatan Sin tiba. Ia akan dijaga ketat menuju tempat pengasingannya oleh pasukan Phoenix. Kevin sendiri yang akan memimpin keberangkatannya.


"Titip Sin ya, ka Kevin" pinta Carissa pada Kevin.


"Ka Kevin dapet apa?" Bals Kevin menggoda Carissa.


"Aaaahhhh ka Kevin maahhhh. Ka Galihhhhh"


"Hahahah, bercanda sayang. Dasar pengaduan"


"Biarin"


"Ayo Sin sudah waktunya kita berangkat" panggil Saka.


"Iya, ka Saka. Aku pamit ya semua"


"Hati-hati, Sin"


"Hati-hati, sayang"


"Ara gak boleh nikah duluan sebelum aku balik. Nanti aku culik anak kamu"


"Aaahhhhh Siiiiinnnnn"


"Hahahaha, dadah semua"


.....


T B C?


BYE!