Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
131 | PHOENIX DEATH SWORD



Dengan langkah tegap Justin melangkah turun melewati anak tangga. Netra hazelnya senantiasa menyorat tajam kearah Meso. Amarahnya hampir meledak melihat pria tua itu menyerang putra kesayangannya.


"Jadi kau Meso?" Tanya Justin.


Mata Meso memicing mendapati benda berkilau yang menggantung indah dileher Justin. Benda yang sangat dikenalinya.


"Sangat tidak sopan memakai benda orang lain tanpa izin Mr. Scander!" Seru Meso tajam.


"Aku tidak perduli, Meso!"


"Bagaimana kau bisa masuk kesini?!"


Justin menelengkan kepalanya kekiri. "Menerutmu?"


"Kembalikan kalung itu!" Pekik Meso kencang.


"Ambilah jika kau bisa" balas Justin dengan wajah mengejek.


Meso menggeram, situasinya akan sulit baginya jika seperti ini. Tapi bagaimanapun Meso cukup percaya diri karena tempat ini adalah miliknya, jadi tempat ini harus patuh padanya.


Meso kembali melayangkan sihirnya pada pasangan ayah dan anak itu, namun dengan mudah ditangkis oleh Justin. Jovan terkejut, dirinya tidak pernah tau bahwa ayahnya bisa menggunakan sihir. Jovan fikir hanya keluarga bundanyalah yang bisa menggunakannya.


"Akan ku pastikan kau mati hari ini, Justin Scander!!" Desis Meso marah.


Dagu Justin terangkat dengan angkuhnya. "Kau terlalu banyak bicara"


SRAKK..


SRAKK..


SRAKK..


Perang sihir tidak bisa lagi terelakkan kali ini. "Bersembunyi Jovan!!" Teriak Justin. Kakinya mundur mencari tempat yang lebih luas baginya untuk melawan Meso. Dirinya cukup kewalahan karena pria tua itu menyerangnya tanpa henti.


Tanpa banyak bertanya Jovan melaksanakan perintah sang ayah, bersembunyi dibalik salah satu pilar besar yang berada tak jauh dari posisinya.


"Mengaku kalah Justin?" Seringaian lebar Meso terbit. Pria itu bisa merasakan kemenangan didepan matanya yang akan tibs sebentar lagi.


Justin mendengus, mengusap darah yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya terbanting cukup keras kelantai karena serangan Meso yang mengenai tepat ketubuhnya.


Dibalik tembok tak jauh dari Jovan, Rion dan Kevin mengawasi pertarungan kedua orang itu sejak tadi. Keduanya tidak bisa banyak membantu karena sejujurnya mereka tidak memiliki sihir.


"Gimana cara bantu ka Justin?" Bisik Rion khawatir.


Kevin menggeleng tanda dirinya tidak tau. "Aku tidak tau, aku tidak memiliki sihir" jawabnya frustasi.


Rion menggigit bibir bagian dalamnya kuat. Hal ini selalu dirinya lakukan jika sedang gugup. "Kapan paman dan yang lain akan sampai"


BRAKK..


"AYAH!!!"


Suara hantaman tubuh Justin yang menabrak tembok terdengar keras. Dengan cepat Jovan berlari menghampiri tubuh sang ayah, namun sayangnya sebelum dirinya berhasil sampai tubuh Justin kembali melayang dan menghantam lantai dengan cepat.


Darah mengalir deras dari tubuh tuan besar Scander itu. Tidak ada pergerakan dari Justin, namun Jovan masih bisa merasakan nafas sang ayah yang mulai terputus.


Nafas Jovan tercekat, matanya memerah, tangannya mengepal kuat. Dengan susah payah Justin membuka matanya meski terasa berat. "Jovan.." Panggilnya lirih.


Tangannya terjulur berusaha meraih tubuh sang putra, Jovan mendekat menggenggam tangan sang ayah. "Ayah bertahanlah, Jovan mohon" bisiknya terisak.


"Maafkan ayah... Maaf..."


"Tidak ayah, tidak. AYAH!!!"


"JOVAN!!"


Rion dan Kevin berlari keluar dari persembunyian mereka. Meraih tubuh Justin yang mulai kaku.


"KA JUSTIN!!!" Teriakan panik dari Aldre yang baru saja keluar dari kamarnya. Lelaki itu terkejut melihat tubuh Justin yang sudah terbaring kaku.


"BRENGSEK MESO!!"


"HAHAHAHA" Meso tertawa keras. Kemenangna ini miliknya, tidak akan ada yang bisa mengalahkannya ditempat kekuasannya.


Mendengar tawa Meso yang seperti meledek kematian sang ayah membangkitkan amarah Jovan yang tidak pernah dirinya tunjukan sebelumnya. Cahaya merah mengelilingi tubuh Jovan seiring dengan amarahnya yang terus meluap.


Jovan membuka matanya yang berubah menjadi semerah darah, lebih merah dari Revan sebelumnya. Ditangannya keluar sebuah tongkat panjang dengan lambang burung Phoenix dibagian ujungnya, dengan ekor yang melilit sepanjang tokat.


PHOENIX DEATH SWORD


Tongkat panjang berwarna biru gelap dengan lambang burung Phoenix dengan ekor yang melilit seluruh bagian tongkat. Tongkat kematian Phoenix, lebih tepatnya sebuah pedang kematian yang dibentuk mirip seperti tongkat. Benda itu 1000xlipat lebih mematikan dari dua pedang Phoenix yang lainnya.


Sejauh ini tidak ada kekuatan sihir yang mampu menandinginya. Benda itu harusnya hanyalah sebuah dongeng belaka, karena tidak pernah ada seorangpun yang bisa mebangkitkanya sebelumnya. Karena itu Phoenix Death Sword dianggap sebagai omong kosong dalam dunia sihir. Entah siapa yang menciptkan pedang itu.


Jovan mengangkat tangannya tinggi keudara kemudian meghentakkan tongkat tersebut keatas tanah, meciptakan goncangan yang cukup besar. Tongkatnya berdiri kokoh dengan cahaya biru dan merah yang mengelilinginya. Jovan menjulurkan tangannya kearah Meso, cahaya kilat dengan warna biru meluncur dengan kecepatan tinggi kearah pria tua itu. Membuat tubuh Meso terpental jauh hingga menghatam patung iblis dibelakangnya, membuat patung itu hancur seketika.


"Sssstt, ba-bagaimana bisa...." Meso meringis tubuhnya sulit untuk ia gerakan. Jovan menahan tubuh Meso membuatnya tidak bisa bergerak. Dengan hitungan detik Jovan kembali menghempaskan tubuh Meso ketembok.


Sebuah lingkaran hitam muncul disamping tubuh Justin. Revan dan yang lainnya baru saja tiba.


"Apa yang terjadi?" Tanya Devan. Kevin menggeleng, dia sendiri tidak bisa memahami apa yang tengah terjadi sekarang.


"Lalu ada dengan Justin?"


"Meso membunuhnya ka"


"Apa?!"


"Jovan.." Tunjuk Farthur. "I-itu be-benda ditangannya--" dengan gemetar Farthur menunjuk benda ditangan Jovan.


Laxo terperangah begitupun dengan Revan. "Bagiamana--"


"Memangnya benda apa itu?" Tanya Aldre.


"PHOENIX DEATH WORDS! Harusnya benda hanya mitos" jawab Laxo cepat"


Devan, Rion, Kevin, Saka, dan Aldre bukannya tidak tau tentang benda itu. Mereka jelas pernah mendengarnya, tapi harusnya tongkat itu tidak pernah ada.


"Bagaimana Jovan bisa mendapatkannya?" Tanya Laxo tak percaya.


"Kami tidak tau. Jovan marah karena apa yang Meso lakukan pada ayahnya, lalu keluar cahaya berwarna merah dari tubuhnya" jawab Rion cepat.


"Bagaimana cara menghentikannya pah?" Tanya Devan khawatir pada sang papah.


"Papah tidak Devan, ini pertama kalinya papah melihat tongkat itu secara langsung" jawab Revan.


Meso berusaha untuk bangkit, tapi ia sudah tidak bisa menggerakan tubuhnya lagi. Darah mulai mengalir keluar dari tubuhnya yang penuh luka. "Bocah sialan!!" Meski hampir mati, Meso masih sempat mengumpati Jovan dengan mulut menjijikannya itu.


Jovan terkekeh senang. Itu balasan yang tepat untuk orang yang bernai menyakiti keluarganya. "Kau senang Meso? Kenapa tidak tertawa lagi?!" Tanya Jovan angkuh.


Jovan berjalan mendekat, memberikan serangan terakhir dari jarak dekat. Api cukup besar muncil membakar seluruh tubuh Meso. Teriakan memekikan Meso memenuhi bangunan besar itu.


"Paman, bagaimana dengan ka Justin?" Tanya Aldre.


"Don't worried"


"Bangunlah Justin"


"Hah?!"


Rion, Kevin, dan Aldre terperangah mendapati Justin yang perlahan bangkit dari posisinya. "Lah? Ka Justin?" Seru Mereka berbarengan.


"Kalian tidak lihat kalung dilehernya? Apa kau lupa Aldre? Kalung itu bagai nyawa kedua bagi pemiliknya"


Aldre mengumpat kasar dalam hati, dirinya lupa dengan fakta itu. "Brengsek!!"


Justin terkekeh geli, merasa rencananya berhasil. Tapi sedetik kemudian kekehannya berhenti menjadi sendu, dirinya tidak menyangka renacananya membuat sang putra menjadi seperti ini.


"Jovan" panggilnya mengalihkan atensi Jovan dari mayat Meso yang masih tertelan api ciptaannya.


"Ayah..."


Jovan berlari, berhambur memeluk sang ayah yang sudah kembali seperti semula. "Ayah... Hiks hiks"


"Maafkan ayah, nak"


.....


T b c?


Bye!