
"Jadi.. Siapa namanya?" Wajah Carissa terlihat begitu penasaran.
"Aldara Jeverus Skholvies dan Alaner Revano Courtland" jawab Aldre.
"Eehh? Kok marganya beda?" Seru Keano bingung.
"Jika ada yang berani macam-macam dengan mereka, maka orang itu akan berurusan dengan dua keluarga mengerikan"
"Hah?"
"Abaikan itu hanya pikiran random seorang Aldre Skholvies" timpal Ara.
"Loh. Memang benar sayanggg" Aldre merengek pada sang kekasih. Padahal apa yang dipikirkannya bukanlah hal random.
"Ya ya terserah" balas Ara malas.
"Dasar ayah muda" celetuk Daniel.
"Oh.. Ka Justin tadi Isabella mau kemana ko buru-buru?" Kevin bertanya pada Justin. Dirinya baru teringat tentang saudra iparnya itu yang tiba-tiba pergi tanpa mengatakan apapun.
Justin menggeleng. "Entahlah. Dia tidak bilang mau kemana, tapi katanya ada urusan penting"
"Ouh"
Justin beralih pada Ara, mendekat, dan mengekus rambut ibu bau itu penuh sayang. "Selamat ya little princess, ku sudah menjadi ibu sekarang. Ka Justin tau ini hal baru bagimu dan Aldre, tapi ka Justin percaya kalian akan menjadi orang tua yang baik. Jangan ragu untuk bertanya apapun pada ka Justin ya"
"Terimakasih ka Justin. Ara akan berusaha menjadi orang tua yang baik" ucap Ara.
"Ka Justin percaya itu. Nah, ka Justin harus pulang dulu sekarang, kasian anak-anak dirumah tidak ada yang menemani"
"Jeven belum pulang?"
"Belum. Dia ada kegiatan berkemah sampai beberapa hari kedepan"
"Besok kalau kesini lagi, bawa Fero ya ka. Ara kangen"
"Fero tidak boleh masuk rumah sakit Ara. Dia masih kecil" timpal Ana.
"Aaahhhh" Ara mendesah kecewa.
"Kalian bisa bertemu saat kamu sudah pulang nanti" ucap Justin.
"Yaudahdeh gak apa-apa"
"Ka Justin gak mau ngasih kado?" Aldre mengedipkan-ngedipkan penuh harap. Berharap kedua anaknya mendapatkan hadiah besar dari calon kaka iparnya ini.
Justin mendengus geli. "Mau hadiah apa?"
"YASS" Aldre berseru kencang membuat kedua anaknya tersentak kaget. Beruntungnya dua bayi mungil itu tidak menangis.
"All!!" Tegur Ana dengan masa melotot.
"Hehehe"
"Aldre mau salah satu pulau pribadi milik ka Justin" ujar Aldre ringan. Ara menepuk kencang sang kekasih. "Yang harusnya dapat hadiah itu anak kita bukan kamu"
"Ya itu juga buat anak kita. Investasi sayang" elaknya.
"Alasan!"
"Tidak apa-apa Ara. Nanti ka Justin katakan dulu pada ka Bella ya, karena dia yang memegng suratnya" ucap Justin.
Badan Aldre lemas seketika. "Yah, alamat gak jadu dapet ini mah"
"Kekekeke"
"Yasudah kalau gitu ka Justin pulang dulu ya" Justin berpamitan pada semua orang.
"Hati-hati ka Justin"
"Mm"
"Kau juga pulang bocah. Kau belum mandi sejak tadi" Galih menutup hidungnya, meledek sang adik yang belum mandi sejak siang tadi padahal saat ini sudah hampir jam 7 malam.
Aldre mencium aroma tubuhnya. Benara juga yang dikatakan kakaknya itu. Ia hampir lupa untuk mandi. "Hehehe"
"Sono mandi" Ara mendorong tubuh Aldre untuk menjauh darinya. Hidungnya mengkerut merasakan aroma tubub kekasihnya yang sebenarnya tidak bau sama sekali.
"Iyaiya. Aldre titip Ara sama sikembar sebentar ya ka"
"Tenang. Saat kau balik anak-anakmu sudah menghilang, jadi jangan khawatir" sahut Kevin.
"Aaaa ka Kevinnn"
"Berisik! Udah sono pergi" omel Galih.
"Iyaiya. Dasar galak" cupp. Aldre mencuri sebuah kecupan singkat dari bibir Ara kemudiam berlari keluar.
"Tidurlah little princess" Daniel duduk dikursi yang sebelumnya ditempati Aldre.
Ara menggeleng dengan bibir mengerucut. "Tidak mau. Ara gak ngantuk, Ara mau nonton TV aja"
"Baiklah" Daniel meraih remot tv, lalu menyalakan televisi besar yang menempel ditembok.
"Tadi makan malamnya habis?" Tanya Daniel.
"Habis. Aldre melotot soalnya" Ara mengadu dengan rait cemberut.
"Hahaha"
Ara menoleh kanan kiri mencari sosok sahabatnya yang tidak terlihat dimanapun. Kepalanya berhenti menoleh begitu mendapati Carissa yang tertidur disofa.
"Lah? Tidur dia"
"Nanti bawa Carissa pulang ya ka. Kesian kalau tidur disini"
"Mm"
*
Isabella tiba dipinggir pantai tepat pukul 2 pagi. Ia menggunakan kapal pesiar pibadi milik suaminya untuk tiba dipulau kecil yang dipijakinya saat ini.
Kakinya menelusuri pasir menuju pemukiman penduduk yang berada 500 meter dari pinggir pantai. Kepalanya menoleh mencari rumah yang menjadi tujuannya.
"Isabella" panggilan itu membuat Isabella menoleh. Didepan sana tak jauh dari posisinya berdiri, seorang pria yang begitu dikenalinya berdiri didepan sebuah rumah sambil menatapnya.
"Kau disini Darren?" Tanya Isabella melangkah menghampiri sahabatnya itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Darren lagi. Bukankah masa hukuman adiknya masihlah panjang.
"Dimana Sin?"
"Didalam. Dia sudah tidur. Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Ara sudah melahirkan siang tadi"
"Benarkah? Wahhh, keponakanku bertambah"
"Lalu kenapa kau disini? Bukankah kau bisa menghubungi Sin jika ingin memberitahunya"
"Bolehkah aku beristirahat dulu? Akan aku beritau saat Sin bangun nanti"
"Haiiish wanita ini. Ayo masuk"
Darren mengajak Isabella masuk kedalam rumah dimana menjadi tempat sang adik Sin tinggal. Rumah kecil yang nyaman khas rumah pinggir pantai yang dihasi beberapa pohon kelapa besa disekelilingnya.
"Istirahatlah. Maaf jika kamarnya terlalu kecil" Darren membuka sebuah pintu kamar tamu, dan membiarkan Isabella masuk setelahnya.
"Aku bisa tidur dimanapun dan kau tau itu"
"I know. Istirahatlah, selamat pagi"
"Kekekek"
"Kau tidak tidur?"
"Aku terbiasa bangun jam segini jika berada disini" jawab Darren
Kening Isabea mengkerut. "Apa kau ingin menghitungi pasar pantai?"
"Memangnya aku kurang kerjaan. Pemandangannya bagus jika malam hari"
"Agak laen manusia ini"
"Ck. Tidur sana"
Pagi harinya.
Sin keluar dari kamarnya pukul 6 pagi, berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan. Tidak lama Darren muncul dengan kaki penuh pasir, pria itu baru saja berkeliling pantai.
"Buat tiga porsi ya sayang" ucap Darren saat melihat sang adik yang mulai menyiapkan bahan-bahan.
"Eehh buat siapa emangnya?"
"Nanti juga kamu tau"
"Hah?"
"Udah ah. Kaka mau mandi dulu"
Setelah sarapan siap Sin menyusunnya diatas meja makan bertepatan dengan Darren yang keluar dari kamar mandi.
"Ayo sarapan" ajak Sin pada sang kaka.
"Sebentar. Kaka mau bangunkan dia dulu"
"Memangnya kita punya tamu?"
"Mm"
Darren mengetuk pintu kama tamu yang ditempati Isabella. Tidak lama pintu terbuka dengan keadaan Isabella yang sudah segar.
Mata Sin menbola, mulutnya terbuka lebar saat telah melihat siapa yang keluar dari kamar tamu. "Ka Bella!!!"
"kenapa ka Bella disini?" tanya Sin cepat.
"jauh lebih baik kita sarapan dulu karena aku lapar omong-omong" jawab Isabella.
"o-oh o-oke"
Sin menyerahkn sepiring pasta yang dibuatnya kehadapan Isabella. setelahnya tidak ada suara dari mereka kecuali dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
.....
T b c?
Bye!
note : gamba hanya ilustrasi