Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 39. MENYUSUP (REVISI)



Jovan melangkah santai masuk kedalam. Pakaian khas seorang anak pelayan melekat ditubuhnya. Remaja 13 tahun itu melangkah tanpa ragu, menunduk hormat pada setiap orang yang ditemuinya. Wajahnya yang dibaluri sedikit tanah mendukung penampilannya, membuat semakin tidak ada yang mencurigainya.


"Hei!! " panggil seseorang. Jovan menoleh, menunduk kan kepalanya. "Apa kau budak baru? " Tanya orang tersebut, Jovan mengangguk kecil.


"Kemana kau akan pergi? "


"Saya diperintahkan untuk membersihkan kamar tuan muda" Jovan menjawab pelan.


"Tuan muda? Siapa? " orang itu menatap Jovan curiga.


"Tuan muda, Al. Ada bebarapa barang yang akan diganti" ucap Jovan tanpa ragu.


Orang itu menganggukan kepalanya, menghilangkan kecurigaannya. "Ohh, baiklah. Kau tau dimana kamarnya bukan? "


"Tau, paman"


"Yasudah pergilah. Selesaikan dengan cepat, mengerti? " titahnya. Jovan membungkuk, berlalu pergi dari sana.


Tidak lama kemudian, Jovan tiba disebuah kamar dengan pintu besar, tanpa penjagaan sedikitpun. Mengeluarkan kunci di sakunya, membuka pintu dengan pelan. Pergerakannya benar-benar halus, padahal ia sedang dipantau oleh cctv, tapi remaja tampan itu tidak gugup sedikitpun.


Dengan perlahan kakinya melangkah kedalam, kembali menutup pintu, dan menguncinya. Matanya mengedar tajam dalam diam.


Seingatnya paman Aldrenya bukanlah seseorang yang menyukai nuansa gelap, tapi apa yang dilihat Jovan saat ini sungguh berbeda. Sepertinya kejadian enam tahun lalu, membuat paman kesayangannya itu berubah hampir 100%.


"Setiap hal mampu merubah seseorang sekecil apapun itu" gumamnya.


"Be careful boy, ada banyak ranjau didalam sana" suara sang bunda terdengar dari earpiece yang berada ditelingan kanan Jovan.


"Mengerti bunda" sahutnya tenang. Jovan mengenakan sarung tangan karetnya, mulai meneriksa setiap sisi kamar. Tangannya begitu berhati-hati menyentuh sesuatu.


Informasi yang didapatkan, ada sebuah alarm yang akan terhubung langsung dengan si pemilik kamar. Jadi jika alarm itu berbunyi, sang paman akan langsung mengetahui jika ada penyusup didalam kamarnya, dan lelaki itu akan menjebak si penyusup agar tidak bisa keluarkan.


Yang menjadi masalah saat ini adalah, alarm itu tidak memiliki suara, jadi tidak bisa memastika apakah kita sudah menyentuhnya atau belum.


.


.


Di dalam tempat persembunyian


"Kau mendapatkannya Isabella? "


"Tidak ka, sulit sekali melacak alarm itu!! " kesepeluh jari wanita dengan julukan godmother itu bergerak cepat diatas keyboard. Meretas setiap sistem yang ada didalam kamar sang adik.


"JOVAN STOP IT!! " tiba-tiba Isabella berteriak kencang. Membuat Kevin, Jovan, dan anak buah mereka terkejut.


"Ada apa? " Tanya Kevin cepat.


"Diam ditempatmu Jovan!! "


"Alarm itu tepat dibawah kakimu!! "


"SIAL!! ORANG BODOH MANA YANG MENARUH ALARM DIBAWAH LANTAI!! " Kesal Kevin.


.


.


Jovan menunduk menatap kedua kakinya. "Bunda" panggilnya. "Sebentar sayang! Damn!! Aku tidak bisa mematikannya! " Keluh Isabella.


"Jangan bergerak Jovan! Atau Alarmnya akan menyala! "


10 menit


Jovan menghela nafas, tidak mungkin hanya terus berdiam seperti ini. Dengan pelan menundukan badannya, melepas tali sepatunya dengan hati-hati. Jovan menarik kedua kakinya, bergerak sepelan mungkin, dan....


Menatap sekitar, tidak ada yang berubah dalam ruangan, itu artinya alarmnya tidak menyala.


Kembali mengedarkan pandangannya, kemudian terhenti pada sesuatu yang menarik perhatiannya. Melangkah mendekat, meraih benda itu.


Setelah memastikan semuanya, Jovan keluar dari sana, meninggalkan sepatunya. Lagipula sepatu itu bukan miliknya, tapi milik bocah yang sedang bermain dijalanan tadi.


"JOVAN!! "


"Jangan berteriak bunda, Jovan disini" Isabella dan Kevin terkejut. Jovan melangkah masuk dengan santai, seolah tidak terjadi apapun.


"Bagaimana kau bisa keluar? " Tanya Kevin bingung. Jovan menunduk, menunjukan kedua kakinya yang tidak mengenakan apapun.


Kevin bertepuk tangan, diikuti yang lain, menatap bangga bocah remaja didepannya. "Benar-benar anak Justin Scander dan Isabella Courtland. Luar biasa"


"Ayahmu akan mengamuk mendengar ini" keluh Isabella begitu mengingat sosok suaminya.


"Hahahaha" Kevin tertawa puas, Isabella memijat pelipisnya. "Baiklah, misi kita selesai hari ini, mari kita kembali ke markas"


Merekapun menuju markas, mengistirahatkan diri dan menyiapkan rencana mereka selanjutnya.


Begitu tiba dipintu markas, salah satu bodyguard menghampiri mereka dengan tergesa. "Ada apa? " Tanya Kevin.


Bodyguard tersebut membungkuk hormat, "maaf tuan, sejak tadi Mr. Scander menghubungi, beliau mencari nona Isabella. Tapi kami sudah memberitahunya bahwa anda sedang tidak ada ditempat, nona. Beliau bilang ada sesuatu yang penting, dan ini tentang nona Sin"


Isabella mengangguk, "terimakasih, kau boleh pergi" bodyguard tersebut kembali membungkuk, "saya permisi nona"


Isabella bergegas mengeluarkan ponselnya, begitupun Kevin, dan Jovan. "Bibi Leandra menghubungi Jovan, bunda! Jesslyn dan Jeno juga" ucap Jovan.


"Galih dan ka Dion juga menghubungiku" sahut Kevin. Keningnya berkerut pasti ada sesuatu yang tidak beres.


Isabella menempelkan ponselnya ditelinga setelah kembali menghubungi sang suami. "Boo?"


"Bee? Akhirnya kau menjawabku" seru Justin diseberang sana.


"Ada apa boo? "


"Kami mendapatkan pesan tentang Sin"


"Sin? Apa isinya? "


"Sebuah video. Aldre mengirim sebuah video pada Darren, aku belum melihat apa isinya, tapi sepertinya itu bukan hal yang baik, karena Darren terlihat shock" Justin menjelaskan dengan cepat.


"Dimana videonya? "


"Masih berada di ponsel Darren, tapi ponselnya berada ditangan papah sekarang"


"Bee, aku yakin kau tau dimana Sin! Iyakan? " tebak Justin.


Isabella terdiam, otaknya mulai menebak apa isi dari video tersebut, dan tebakkannya menuju pada satu arah, sebuah fakta yang dia sendiri terkejut mendengarnya.


"Aku akan menghubungi papah! " ucap Isabella datar.


"You're not answer my ask!! " Justin menyahut kesal. "Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, boo. Tapi aku akan butuh bantuan mu nanti" setelah itu Isabella memutuskan panggilannya sepihak.


"Ya, grandpa? "


.....


T B C?


Bye!