Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 44



Ucapan Aldre seperti sebuah bom yang meledak didalam hatinya. Mata Sin berkaca-kaca, tidak percaya sahabat sekaligus orang yang dicintainya akan berkata seperti itu.


"Aldre!! " desisnya, matanya memandang kearah cctv. "Harusnya kamu tau kalau kamu yang bikin aku seperti ini!! "


"Aku tidak pernah melakukan apapun padamu!"


"Harusnya kamu mencintai aku bukan si ****** Ara!!!" Sin menjerit marah.


"Aku akan menyesal seumur hidupku jika mencintaimu!" Balas Aldre tajam.


"A-apa?!"


"Sejak awal aku tidak pernah ingin mengenalmu, tapi sayangnya gadisku menganggapmu begitu berarti" Aldre mendengus.


"Dia bukan gadismu!! Aku aku yang lebih pantas untuk mu dan menyandang nyonya Aldre Skholvies" ujar Sin tak terima.


"Aku tidak suka barang bekas!! "


Roxy tertawa mendengar pertengkarang dua orang bodoh menurutnya ini. Ohhh komedi yang paling tolol yang pernah ia liat.


Sin tercekat. Kini seperti ada lebih dari satu bom yang menghantam hatinya. Air matanya mengalir deras, kini tak ada lagi alasan baginya untuk kembali. Dia bersumpah akan menghancurkan Ara lebih dari yang dia lakukan sebelumnya.


"Kau akan menyesal, Al!! " ucap Sin penuh ancaman.


"Aku atau kau? "


"The godmother princess of hell! Kau akan berhadapan langsung dengannya, Sin. Kau tidak akan lepas darinya"


"Tidak akan ada yang berani menyentuh keluarga Romanov!! " sahut Roxy penuh percaya diri.


Aldre terkekeh sinis, "Isabella Courtland tidak takut akan apapun kecuali Tuhan, Roxy. Dan Romanov..... Bukanlah apa-apa baginya"


DUARR


Suara ledakan cukup besar terdengar, Sin berjongkok melindungi dirinya dari ledakan itu. Cctv diatas meledak tepat setelah Aldre menyelesaikan ucapannya. Sepertinya benda itu dilengkapi bom.


"SIALAN ALDREEE!!!!! " Teriak Roxy untuk yang kesekian kalinya.


Tubuh besar Roxy bergetar karena amarah, cukup untuk mengulur waktu, sekarang saatnya untuk menjalankan rencana mereka.


"Panggil semua orang untuk berkumpul diruanganku. Sekarang!! " perintah Roxy. Salaha satu pengawal yang berdiri tak jauh darinya segera berlari menjalankan perintah bosnya.


"Aku tidak akan membiarkan kebahagiaanmu lebih lama Ara!! Aldre milikku, tidak ada yang boleh memilikinya selain aku!! "


.


.


Isabella menatap tajam seorang wanita yang duduk dengan tangan terikat dikursi. Perut besarnya menonjol, bisa ia tebak bahwa usianya sekitar 8 bulan.


"P-paman" wanita itu menatap sekelilingnya takut, lalu berhenti pada sang paman yang tengah memandangnya khawatir.


"Imelda Manufa. Apa itu benar namamu?" Tanya Isabella datar. Imelda mengangguk terbata. "kenapa kalian membawaku kesini? "


"Roxy Romanov, kau mengenalnya? "


"Roxy? Dia kekasihku"


"Aku butuh bantuanmu, Imelda"


"Bantuan? Bantuan apa? " Imelda mengernyit bingung. Dia tidak mengenal orang-orang didepannya ini, tapi kenapa mereka meminta bantuan padanya?


"Aku butuh bantuanmu untuk membawa Roxy padaku"


"A-apa yang Roxy lakukan? " Tanya Imelda khawatir.


"Aaakkhhh" belum sempat menjawab tiba-tiba Imelda mengerang, tangannya meremat kecil perutnya yang terasa begitu sakit. Lima kali lipat lebih sakit dari yang biasa ia rasakan.


Isabella tersenyum tipis, seolah tau apa yang terjadi pada wanita didepannya. "Kau kontraksi Imelda. Bayimu akan lahir sekarang"


"A-aku mohon, t-tolong! " bulir keringat mulai menetes dari kening wanita itu. "Jika kau bersedia membantuku! "Ucap Isabella.


"B-baiklah, a-aku akan melakukannya. Berjanji kau tidak akan menyentuh anakku"


"I'm promise! "


"Bawa dia kerumah sakit, dan perketat penjagaannya"


Paman Imelda adalah orang pertama yang bergerak cepat membantu keponakannya. Pria itu tidak bisa menghilangkan sedikitpun rasa khawatirnya.


"Jovan! "


"Ya, bunda"


"Awasi persalinannya, pastikan tidak ada yang menyentuh bayi itu"


"Mengerti"


.


.


"Jangan menangis baby. Kau merindukan bunda ya? Aku juga rindu mereka. Sabar ya bunda pasti pulang" Jeno tengah duduk diatas ranjang sambil memangku adik bungsunya yang sejak tadi terus menangis.


Tangannya bergerak kekanan dan kekiri guna menenangkan bayi kecil itu. Sesekali mengecupnya lembut. "Fero anak pintar, anak baik, anak manis. Ouhhh wajahmu sudah memerah adik kecil, jangan menangis lagi ok, kaka tidak mau kau pingsan"


Suara pintu yang terbuka tidak mengalihkan sedikitpun pandangan Jeno dari sang adik. Jeven masuk, dengan sebotol susu ditangannya.


"Nah, berikan pada Fero" ucap Jeven dengan tangan terulur memberikan botol susunya. "Ouh, terimakasih abang" jawab Jeno.


Jeven menolehkan kepalanya keseluruh ruangan, "kemana Jesslyn? "


"Ganti baju, tadi Fero mengompol dan mengenai baju Jesslyn"


"Oh. Ayah? "


"Ke kantor, abang. Sudah lebih dari seminggu ayah tidak masuk"


"Abang tidak sekolah? " Tanya Jeno.


"Abang akan berangkat sebentar lagi, abang sudah meminta izin tadi" jawab Jeven. "Kamu masih libur? "


"Emm, lusa aku dan Jesslyn sudah masuk. Seharusnya dengan Jovan juga" ucapnya lirih diakhir kalimat. Jeno menunduk lesu, begitu rindu dengan adik kembarnya itu. Mereka sangat susah dihubungi.


Jeven tersenyum, mengelus kepala sang adik penuh kasih sayang. "Mereka akan pulang, jangan khawatir. Jovan adikmu yang hebat, kau tau itukan? " Jeno mengangguk.


"Nah, abang berangkat dulu" Jeven menunduk, mencium gemas pipi gembil si kecil. "Abang sekolah dulu ya gembil. Jangan nakal, tapi kalau kedua kakamu yang nakal, ompoli lagi saja mereka"


"Abang~~" rengek Jeno. "Hahaha, baiklah abang pergi dulu"


"Hati-hati"


"Hm"


.....


T B C?


BYE!