
Perkataan Isabella terus terngiang dikepala Justin. Ia tidak ingin mengambil resiko besar kalung sialan ini akan menyukai putranya. Ia tidak mau putranya terjebak seperti dirinya. Tapi saat ini, Justin tau dia tidak memiliki pilihan lain, istrinya itu pasti bukan tanpa alasan mengatakan hal itu.
"Boo" suara lembut sang istri mengalun indah dipendengaran Justin.
Bisa pria itu lihat tubuh sang istri yang berbalut gaun tidur satin berlengan panjang dengan warna hitam berdiri diambang pintu ruang kerjanya.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Justin begitu sang istri menutup pintu.
"Aku menunggumu. Fero tidak mau memejamkan matanya karena ayahnya tidak ada" jawab Isabella lembut. "Masih memikirkan perkataanku?"
"Mm"
"Ini sudah malam, Boo. Kita cari solusinya lagi besok"
"Ayo kita tidur" Justin merengkuh pinggang Isabella, membawa wanita itu kembali kedalam kamar mereka.
.
.
Diambang pintu ruang kerja Aldre, Leo tengah bersandar malas ditembok. Menatap pemilik ruangan yang terus berteriak seperti orang kesetanan sejak beberapa jam yang lalu.
"Kau tidak akan bisa menyelesaikan semuanya sendiri jika hanya mengandalkan dirimu, bocah" Leo akhirnya membuka suara setelah hanya diam memperhatikan sejak tadi.
"Jangan bertingkah seolah kau mengetahui segalanya!" Balas Aldre sarkas.
"Aku hanya berbagi pengalaman" jawab Leo santai.
"Aku tau kau ingin menghancurkan mereka, tapi kekuatanmu saja tidak cukup. Kau butuh kekuatan yang lebih besar untuk melakukannya" lanjutnya lagi.
"Ka Bella bahkan bisa melakukan semuanya sendiri"
"Tidak semuanya, bocah. Lagipula tidak ada yang bisa menandingi cara berpikirnya. Termasuk kau, Bodoh!"
"Jadi menurutmu, aku harus menyerah dan bergabung dengan kalian? Sialan!" Lagi, sejak bersama Leo, Aldre jadi lebih sering mengungkapan kata cinta yang indah.
"Itu keputusanmu, bocah. Kau jelas tau mana yang lebih menguntungkanmu dan mana yang merugikanmu" Leo berbalik, kembali menuju kamar tamu. Kamar yang beberapa hari ini dia tempati.
"Aaassshhh! Kenapa jadi runyam seperti ini? Jovan sialan!"
Harusnya ia bisa mengurus masalah ini sendirian andai saja, si bocah menyebalkan itu tidak mengambil kalung kesayangannya. Dan, Aldre bisa memastikan bahwa pria tua itu pasti sudah mengetahui segalanya.
.
.
Pagi hari yang cerah.
Sarapan pagi dimansion Scander pagi ini hanya diisi oleh sang nyonya besar dan keenam anak-anaknya.
"Dimana ayah, bunda?" Tanya sisulung Jeven.
"Ayah masih tidur, sayang. Semalaman ayah tidak bisa tidur" jawab Isabella. Wanita itu kembali melanjutkan kegiatannya yang tengah menyuapi putri bungsunya, Valerie.
"Bunda.." Panggil Jovan. Isabella kembali menoleh. "Ada apa?"
"Jovan mendengar pembicaraan bunda dan ayah semalam"
"Pembicaraan apa?" Tanya Jeven bingung.
Isabella menatap putranya dengan raut tenang. "Lalu?" Jovan mengulum bibirnya gugup. "Bolehkah aku bicara dengan ayah?"
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Aku hanya ingin membantu"
Jeven menatap adik dan bundanya bergantian. Apa yang kedua orang ini bicarakan sebenarnya?
"Kalian ini membicarakan apa sebenarnya?" Kening Jeven mengkerut.
"Lanjutkan saja makan kalian. Kita bicara lagi nanti, Jovan" jawab Isabella.
"Bunda--" Jeven kembali bungkam saat mendapatkan tatapan tajam dari sang bunda.
Suara langkah kaki dari arah pintu membuat mereka menoleh. Sang kepala keluarga yang sepertinya baru saja bangun melangkah masuk kedalam ruang makan.
Pria tampan itu tanpa banyak bicara mendudukn dirinya dikusti miliknya. Mengambil sepotong sandwich dan melahapnya tanpa ucapan selama pagi yang biasa dikeluarkannya.
Jeven mengangguk. Bergerak bangkit dari kursinya, menggendong Valerie, dan mengajak sikembar untuk ikut bersamanya.
"Feel bad"
Kunyahan Justin memelan. Melempar kecil sandwichnya yang masih tersisa sedikit keatas piring. "Tidak pernah seburuk ini sebelumnya" balas Justin gusar.
"Kau bisa menyelesaikannya, Boo"
"Aku harus membujuk, Aldre. Tapi sebelum itu aku harus mendapatkan apa yang aku cari"
"I know you can. Ka Leo sedang membujuk Aldre untuk mau bekerja sama dengan kita, kamu hanya perlu melakukan apa yang perlu kamu lakukan"
Isabella berjalan kebelakang tubuh sang suami, memeluknya erat, menyalurkan segala kekuatan yang dimilikinya.
"Aku akan membantumu, Boo. Aku akan pastikan bahwa Aldre mau bekerja sama dengan kita"
"Aku merepotkanmu, Bee"
"Sama sekali tidak. Bukankah ini tugas seorang istri?"
Kepala Justin bersandar pada tubuh bagian depan Isabella. Matanya terpejam erat, perasaannya menjadi sedikit lebih baik sekarang.
.
Di ruang bermain
"Jovan, beritau abang apa yang terjadi dengan ayah dan bunda?" Tanya Jeven.
Jovan menggeleng, "tidak ada apapun, abang"
Decakan kesal keluar dari bibir sisulung. "Jangan berbohong. Beritau kaka apa yang terjadi!"
"Tapi aku tidak berbohong" lagi, Jovan mengelak dari pertanyaan abangnya itu.
"Apa ini karena kalung yang kau ambil dari paman Aldre?" Jeno yang sejak tadi menyimak akhirnya ikut penasaran.
Jovan terdiam, matanya menatap kebawah menghindari tatapan para saudaranya.
"Memangnya ada apa dengan kalung itu?" Tanya Jesslyn ikut membuka suara.
"Aku tidak tau, Jes. Tapi paman terlihat marah saat ayah mengembalikan kalung itu padanya"
"Ayolah, Jovan. Beritau abang apa yang terjadi sebenarnya" Jeven seolah tidak mau menyerah membujuk adiknya itu.
"Abang! Jovan gak akan bicara apapun, kalau abang ingin tau tanyakan sendiri pada ayah dan bunda" Jovan merebahkan tubuhnya diatas karpet dengan posisi miring, kemudian memajamkan kedua matanya.
"Ck!"
"Apa hal ini sangat berat sampai ayah seperti itu?"
"Seharusnya, iya"
Bukan hal biasa bagi mereka melihat sosok sang ayah yang bahkan sampai bangun terlambat seperti ini. Justin Scander adalah orang yang disiplin tentang waktu. Jika pria itu sampai melewatkan waktu sarapannya, berarti ada sesuatu hal berat yang mengganggunya.
Jeven menghela nafas berat, ia lupa adiknya yang satu ini sama kerasnya dengan kedua orang tuanya. Bukan hal mudah membujuknya untuk membeberkan sesuatu.
"Terus sekarang gimana, abang?" Jesslyn, Jeno, dan si kecil Valeri menatap kompak kaka tertua mereka.
"Aissshhh, jangan menatap avang seperti itu"
"Hihihihi"
"Jadi?"
"Ya gak gimana-gimana. Tunggu aja sampai ayah dan bunda jujur sendiri"
.....
T B C?
BYE!
Isabella Scander cantika kan?