Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
22. Fakta baru bagi Jeno



Selesai berkenalan dengan seluruh keluarga Scander, kini Jeno dan Erick memutuskan untuk duduk di tengah anak tangga dengan segelas sirup di tangan mereka sambil memperhatikan anggota keluarga yang saling bercengkrama dan bergosip ria.


"Apa opah sudah sembuh?" tanya Erick. Sejak berkenalan dengan ayah kandung Justin, Erick tak henti mencuri tatap pada sosok tertua dalam keluarga Scander itu.


"Kondisinya jauh lebih baik sekarang. Opah tidak bisa sembuh sempurna, tapi saat ini setidaknya beliau sudah bisa berdiri dan melangkah walau tidak lebih dari 20 menit" Jeno menjelaskan kondisi sang kakek yang memang sudah lebih baik dari sebelumnya.


Senyum Erick merekah setelah mendengarnya. "Benarkah? Itu bagus. Tandanya opah sangat survive untuk hidupnya"


Jeno terkekeh kecil, kekasih manisnya ini kenapa terdengar begitu excited. "Omah selalu membantu opah berlatih berdiri dan melangkah setiap pagi. Dan juga salah satu alasannya karena opah terlalu takut dengan ancaman bunda"


Ekspresi bingung Erick layangkan ke arah sang kekasih. "Ancaman bunda? Aunty Isabella maksudnya?" Jeno mengangguk. "Memangnya aunty mengancam apa?" tanya Erick lagi yang semakin penasaran.


"Jadi sebenarnya opah itu sudah sakit sejak ayah dan bunda belum menikah, bahkan saat itu bunda yang sedang kuliah di Cartesy belum lulus. Mungkin sekitar tiga bulan sebelum bunda lulus.


Saat itu gejalanya masih ringan, tapi opah sudah mulai sulit menggerakkan beberapa jari-jarinya"


"Kenapa tidak berobat?"


"Opah tidak mau. Beliau merasa bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.


Sampai akhirnya bunda lulus dan kembali ke LA. Bunda tidak tau jika opah sakit, tidak ada satu orang pun yang memberitahukan hal itu padanya.


Tapi akhirnya bunda tau setelah datang ke mansion seminggu setelah bunda kembali ke LA"


"Tunggu-tunggu, kenapa harus menunggu seminggu?"


"Karena saat itu bunda harus mengurus izin prakteknya yang di pindahkan dari Jerman ke LA, jadi bunda tidak sempat untuk datang ke mansion Scander.


Bunda terkejut saat bibi madie memberitaukan jika opah sakit, dan ayah juga terkejut ketika melihat bunda yang tiba-tiba sudah berada di Amerika.


Bunda marah pada opah karena opah yang menolak untuk berobat. Apalagi ketika bunda datang saat itu, opah sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur bahkan sudah mulai kesulitan bicara.


Akhirnya bunda mengancam akan membawa ayah pergi dan opah tidak boleh lagi bertemu ayah selamanya jika opah tidak mau berobat. Dan akhirnya, opah menurut dan mau untuk di bawa ke Rumah Sakit.


Beliau tidak ingin mengambil resiko kehilangan putra sulungnya lagi. Opah sangat menyayangi ayah, bagi opah ayah adalah sumber kebahagiaan utamanya"


"Pantas opah terlihat patuh saat bunda menegurnya"


"Hahaha bunda memang harus ekstra keras kalau soal opah. Karena terkadang opah sulit sekali di suruh minum obat"


"Resiko punya menantu dokter ya, yang"


"Hahahaha. Calon mertua mu loh itu"


"Hehehe"


Erick menyandarkan kepalanya di bahu Jeno, mencari posisi senyaman mungkin di sana.


Dari posisi yang agak jauh Aveline memperhatikan keduanya dengan perasaan gemas. "Mereka seperti orang dewasa ya" gumamnya.


Sena yang mendengar itu tertawa kecil. "Jeno itu pembawaannya dewasa sama seperti ayahnya, dan Erick mampu mengimbangi kekasihnya"


"Benar juga"


Isabella berkali-kali melirik jam yang menempel di dinding. Sudah pukul 1 siang. "Harusnya Geo sudah sampai" lirihnya kecil.


"Dia jadi pulang?" Tanya Justin. Isabella mengangguk. "Dia pasti bertemu ayah. Damn! Aku ingin sekali memukul wajah pria tua itu!" Ucap Isabella geram.


Justin berbicara selembut mungkin, meski dalam hati dirinya juga tengah menahan amarah karena kelakuan ayah dari adik angkatnya itu.


**


Jeno melangkah menghampiri ayah dan bundanya meninggalkan Erick yang tengah mengobrol dengan saudara-saudara nya yang lain.


"Geo sudah sampai" ucap Isabella begitu sang putra berdiri di depannya. "Erick sudah tau?" Tanyanya.


Jeno menggeleng. "Aku memintanya mematikan ponselnya biar jadi kejutan untuknya" jawabnya sambil meraih segalas minuman yang berada di atas meja.


"Bunda khawatir, Jeno"


"Don't worry bunda. Pria tua itu akan mendepatkan kebencian yang sama jika tidak bisa mengendalikan dirinya"


"Geo mewarisi sifat daddynya, aku rasa tante Ryani sudah menyadari perubahan sikap cucunya" timpal Justin.


"Sampai detik ini, tidak satupun dari keluarga Aldebaran yang bertemu dengan Keano ataupun Geo"


Jeno mengernyitkan keningnya tidak mengerti apa yang dikatakan sang bunda.


"Apa maksud bunda?"


"Jeno, daddy mu sangat membenci orang tuanya. Dia dan papahmu memiliki nasib yang sama, di abaikan oleh orang tua mereka sendiri. Papah mu adalah anak yang tidak diharapkan, dan daddy mu adalah penyesalan kedua orangtuanya. Dan karena hal itu, memupuk rasa benci dalam hati daddy mu hingga saat ini.


Papah mu masih mampu memaafkan orang tuanya, tapi tidak dengan daddy mu. Baginya....


Orang tuanya sudah mati"


Nafas Jeno tercekat setelah mendengar penjelasan sang bunda. Dirinya tidak pernah tau tentang hal ini sebelumnya.


"Itu artinya...."


"Ya. Bagi Geo kakek dan neneknya hanya Grandpa dan Grandma"


"Apa Geo juga.... Akan membenci saudaranya sendiri?"


"Alasannya bertahan hanyalah papahnya, Jeno" kali ini gantian Justin yang menjawab.


Mata Jeno berkaca-kaca, tidak mampu membayangkan bagaimana perasaan daddynya saat ini. Ketika putranya harus merasakan apa yang dirinya rasakan dulu.


"Jeno ingin peluk daddy" ucapnya lirih. Air matanya mulai mengalir, hati begitu sakit mendengar fakta mengejutkan yang di sampaikan orang tuanya.


"Kamu harus kuat untuk dirimu sendiri sebelum menjadi kuat untuk Geo. He's need you, Jen. Jika kamu rapuh, Geo hanya memiliki sisa satu penyangga untuknya agar tetap berdiri"


"Jeno mengerti"


"Sebelum itu, jangan lupa memberitahu Erick tentang keberangkatan mu"


Jeno menatap kesal sang ayah, tidak kah ayahnya ini melihat situasi?


"Apa? Ayah hanya mengingatkan" ujar Justin dengan wajah meledek. Isabella hanya memutar kedua matanya malas, suaminya ini selalu mampu menghancurkan suasana.


****


See you!