
"Galih mau pulang ke rumah Galih, ayah" pamit Galih pada sang ayah begitu dirinya tiba kembali di kediaman Skholvies.
Dahi Rayyan mengernyit bingung. "Kenapa?"
Kepala Galih menunduk, pandangannya beralih menatap lantai, kedua tangannya saling bertautan. "Ayah tau kalau putra sulung Galih jarang sekali pulang. Galih gak mau membuatnya merasa tidak nyaman selama di sini" ucap Galih berusaha untuk tetap tenang.
Rayyan memejamkan matanya erat. Dirinya paham dan sadar apa yang ia lakukan pada cucunya adalah hal yang salah, Rayyan tidak ingin hal ini membuat hubungannya dengan putra keduanya itu kembali retak.
"Ayah minta maaf. Maaf karena ayah gagal mengendalikan diri, jika itu memang keputusan kamu makan ayah terima. Sampaikan maaf ayah pada Geo"
"Kenapa tidak mengatakannya secara langsung?"
"....."
"Ayah takut mengulanginya lagi? Seperti yang ayah lakukan pada Galih dulu!"
Kevin yang berdiri tak jauh dari keduanya sengaja memberikan ruang perlahan mendekat begitu mendengar nada suara Galih yang naik.
"Love. Tenanglah"
Galih sama sekali tidak menghiraukan suaminya, mata nya menatap tajam ke arah sang ayah. "Ayah memang tidak bisa di percaya! Semua yang keluar dari mulut ayah itu hanya omong kosong!!" Bentaknya.
Rayyan menunduk dalam tak berani menatap wajah Galih.
Mendengar teriakan Galih yang menggema, Riyani dan yang lainnya berlari menghampiri. Mereka terkejut melihat Kevin yang menahan kuat tubuh Galih.
"Kevin, ada apa? Kenapa Galih berteriak seperti itu?" Riyani bertanya pada Kevin dengan khawatir.
"Tidak apa-apa ibu. Jangan khawatir" jawab Kevin pelan.
"Papah, Geo lapar" Galih menoleh ke arah Geo mendapati sang anak menatapnya dengan raut polos. Hal itu membuat emosinya mereda, sorot tajamnya berubah menjadi lembut.
"Geo mau makan apa , sayang?" Tanya Galih dengan senyum kecil di bibirnya. "Geo mau spaghetti carbonara boleh?" Ucap Geo.
Galih mengangguk. "Tentu. Tunggu sebentar ya, papah akan buatkan"
"Terimakasih papah"
"Sama-sama, sayang" Galih beranjak pergi menuju dapur, diikuti Geo, Keano, dan Kiransa di belakangnya.
Kevin hanya bisa menatap kepergian anak dan istrinya dengan helaan nafas berat. Kemudian kembali mengalihkan pandangannya kepada ayah mertuanya.
"Bisakah sekali saja ayah tidak membuat keluarga ku bersedih? Aku sama sekali tidak mengerti ada apa dengan dirimu sebenarnya?" Sorot mata Kevin memicing dengan raut lelah.
"Berhenti menyakiti istri dan anak ku? Atau aku akan membuat Galih membenci mu seumur hidupmu" ancam Kevin.
Jujur saja dirinya sudah begitu muak dengan segala macam tingkah laku ayah mertuanya. Pemimpin keluarga Skholvies itu tak pernah berubah sejak dulu. Selalu bersikap semaunya seolah dirinya lah yang paling benar.
****
Sejak beberapa menit yang lalu Jeno tidak sekalipun mengalihkan tatapannya dari Erick yang tengah menundukkan kepalanya dan menampilkan ekspresi sedih. Padahal saat pamit pulang tadi, Erick masih terlihat ceria bahkan tertawa lebar.
"Sayang" panggil Jeno. Saat ini keduanya tengah melakukan video call.
"Mmh" hanya deheman singkat yang keluar dari mulut Erick.
"Ada apa? Kenapa wajah kamu sedih kaya gitu?"
Erick terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaan Jeno, bocah itu bahkan mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Paman Galih bertengkar dengan kakek" cicitnya pelan.
"Apa yang terjadi?" Tanya Jeno.
"Sepertinya paman Galih teringat masa lalunya. Jika Geo tidak menghentikannya, paman Galih pasti sudah mengamuk"
"Apa keputusan ku untuk menunda keberangkatan ini salah?" Jeno bergumam kecil namun sayangnya ucapannya masih bisa di dengar oleh Erick.
"Geo akan tinggal dirumahnya selama dia berlibur, Jeno" sahut Erick cepat, ada nada panik yang terselip dalam suaranya.
Jeno menatap kekasihnya itu geli, rasa khawatir nya pada sahabatnya menghilang karena suara panik Erick.
"Tenang sayang. Aku tau Geo gak akan tinggal di mansion Skholvies" ucapnya dengan senyum menggoda.
Erick terkesiap, rona merah perlahan memenuhi area pipinya. "Dasar jelek" cibirnya.
"Kkkkkk gemes banget"
Setelah beberapa saat akhirnya Erick pamit ijin untuk tidur, matanya sudah lelah dan tak sanggup lagi untuk terus terbuka meski sebenarnya ia masih ingin mengobrol dengan kekasihnya.
"Langsung tidur okay" ucap Jeno. Erick mengangguk singkat dengan wajah mengantuknya yang sangat lucu bagi Jeno.
"Selamat malam" cicitnya kecil. "Selamat malam, sayang. Have a nice dream and I love you"
"Wlee"
"Hahahaha"
***
Di kamar Geo
"Papah jangan bertengkar lagi sama kakek" Geo mendongakkan kepalanya menatap sang papah dari bawah karena posisinya yang tiduran di atas pangkuan lelaki itu.
Bibir Galih menyunggingkan senyum kecil. "Papah tidak bertengkar, sayang" alibinya.
"Lalu kenapa marah-marah?"
"Papah tidak sengaja"
"Boleh papah tidur disini sama Geo?"
"Tentu saja"
"Lalu daddy?" Kevin menyaut dari ambang pintu. "Daddy sana tidur sendiri di kamar" Geo mengibaskan tangannya di udara memberi tanda mengusir pada daddynya.
"Cih! Baru sehari disini kau sudah berani menyabotase papah"
Geo melengos tidak perduli. "Pria tua itu berisik sekali ya pah?"
Tawa kecil meluncur dari bibir Galih. "Hahahaha. Biarkan saja dia"
"Ck! Dasar pelakor"
"Nyenyenyenye"
****
See you!