Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
124 | SANDWICH



Sore harinya, semuanya kembali berkumpul didalam ruang kerja Revan yang sangat luas.


"Kau membawa kalung itu bersamamu, Justin?" Tanya Revan menatap menantunya itu lekat.


Justin menjentikan jarinya sekali, lehernya yang semula kosong kini terisi kalung perak dengan sebuah liontin permata indah berwarna merah yang terperangkap didalam bandul yang diukir seperti menjerat permata tersebut.


"Kalung itu menyatu dengan baik padamu rupanya" ujar Revan lagi.


"Apa kita akan menghancurkan markas The Cruel'd setelah kita kembali?" Tanya Rion.


"Untuk apa? Kita bisa menghancurkunnya berbarengan dengan penyerangan Meso" jawab Aldre.


"Bagaimana caranya, Aldre? Markas itu berada di Amerika" balas Devan.


"Amerika? The Cruel'd punya markas di Amerika?" Mata Aldre memicing, dirinya tidak tau The Cruel'd punya markas di Amerika.


Devan dan Revano saling pandang, bagaimana mungkin Aldre tidak tau tentang itu? Padahal dia juga pemimpin The Cruel'd.


Justin yang semula bersender pada tembok perlahan mendekat pada Aldre. "Apa maksudmu?"


Sebelas alis Aldre menukik keatas masih dengan raut bingungnya. "Ka Justin tidak tau? Markas utama The Cruel'd ada di Florence"


"APA?!"


"lalu markas mana yang ka Justin dan ka Devan hancurkan?"


"Sialan! Pantas kalung itu tidak musnah! Brengsek Napolin!!" Umpat Devan kesal.


"Apa itu sebuah bangunan kuno dengan patung iblis didalamnya?" Rion ingat Kevin pernah menghancurkan sebuah bangunan kuno yang terletak dipinggir Florence dimana ada sebuah patung iblis berukuan cukup besar didalamnya.


"Ka Rion tau?"


Rion menoleh cepat pada sahabatnya yang masih berdiam tanpa suara. "Pantas kau familiar dengan Meso, Vin"


Semua orang memandang Kevin, menuntut penjelasan dari lelaki itu.


"Aku pernah menghancurkan setengah bangunan dari sebuah bangunan kuno dipinggiran Florence, beberapa bulan setelah tindakanku yang mengacaukan ekonomi dunia bawah tanah" jelas Kevin. "Itu kenapa aku mengenal Meso dan alasan Meso tau diriku" lanjutnya.


"Aku mengerti sekarang kenapa Meso terobsesi padamu"


Kevin beralih menatap Revan. "Jadi apa rencana kita, paman?"


"Boleh aku jujur?" Revan menyandarakn tubuhnya kekursi.


"Tentu"


"Aku tidak terbiasa membuat rencana seperti ini sebenarnya, aku terbiasa bergerak dengan perhitungan yang mendadak. Seperti rencana spontan yang muncul ketika dalam situasi tertentu, kau mengerti maksudku kan?"


Kevin dan yang lainnya mengangguk kompak. "Jadi aku tidak yakin apakah rencana ini tepat atau tidak"


"....." Syok! Mereka syok mendengar perkataan sang Godfather.


"Kau memang sesuatu sekali, paman" seru Rion.


"Jovan punya rencana" tiba-tiba Jovan yang sebelumnya hanya menyimak pembicaraan para orang dewasa kini bersuara. "Itu jika kalian mau mendengarkan"


Jovam berucap sedikit gugup karena pandangan para orang dewasa ini yang menatap dirinya lekat.


"Katakan, Jovan" Revano mengizinkan sang cucu untuk menjelaskan rencananya.


Jovan mulai menjelaskan rencana dengan detail dan terperinci tanpa terlawat sedikitpun. Dirinya sudah memikirkan rencana ini sejak lama, setelah melakukan pengamatan di perkebunan milik sang daddy, Kevin.


"Rencana yang sangat bagus, Prince. Kau benar-benar menuruni bundamu" puji Revan. Merasa bangga dengan kecerdasan cucunya itu.


Jovan sedikit mengingatkan Revan pada Isabella kecil dulu. Pantang menyerah dan sangat memahami lingkungan sekitarnya dengan baik. Bahkan tindakannya penuh kehati-hatian dan sulit terbaca, tidak akan ada yang menyangka bahwa dirinya melakukan hal tersebut. Dan itulah yang Jovan lakukan saat ini.


Devan dapat menangkap raut cemas Justin yang begitu kentara, mengerti perasaan adik iparnya yang begitu ingin terlepas dari dunia menyebalkan ini.


"Kau baik, Justin?" Tanya Devan.


"Ya, aku rasa" jawab Justin pelan.


.


.


"Ka Bella.." Panggil Ara pelan dari balik pintu dapur.


"Ada apa?" Balas Isabella ketus.


"Tunggu di ruang santai" masih dengan nada ketus Isabella menjawab.


Ara tersenyum sumringah. "Mm, baik" kemudian berbalik kembali menuji ruang santai.


Isabella menghentikan kegiatannya yang sedang memotong buah untuk ia buat salad. Membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan untuk membuat sandwich daging seperti permintaan Ara padanya tadi.


Dengan cekatan Isabella mengolah semua bahan, memasak daging dan satu buah sosis, lalu menyiapkan bahan lain selagi menunggu daging dan sosisnya matang.


"Bukannya tadi sudah sarapan, sayang? Kenapa membuat sandwich?" Sofia mendekat kearah sang putri yang tengah menyiapkan roti dan sayuran.


"Untuk Ara" jawab Isabella singkat. Sofia tersenyum haru, meski masih marah Isabella tetap memperhatikan sang sang adik. "Baiklah kalau gitu, mamah ke kamar dulu ya"


"Istirahatlah"


Sandwich telah siap. Isabella meletakannya diatas piring setelah memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu membawanya menuju ruang santai dimana Ara sudah menunggu. Ditangan kirinya ada segelas susu ibu hamil.


Ara menatap sandwichnya penuh antusias. "Terimakasih ka Bella" serunya dengan semangat.


"Mm" Isabella berbalik kembali ke dapur.


"Iiihhhh sandwich, mau dong" tangan Carissa terjulur hendak mengambil sepotong sandwich namun dengan cepat ditepis Ara, membuat gadis itu memberengut.


"Gak boleh, ini punya Ara" seru Ara dengan bibir mengerucut.


"Sepotong doang"


"Gak! Gak boleh! Bikin sendiri sana"


"Ara pelit"


"Biarin wleee"


"Hisshhh" Carissa menyilangkan tangannya didepan dada, menghempaskan tubuhnya kebelakang dengan kesal.


Ara melanjutkan makannya yang tertunda karena berdebat kecil dengan sahabatnya itu, gadis itu tidak memperdulikan ekspresi kesal Carissa dan tatapan sinisnya yang terus dilayangkan padanya.


"Ada apa dengan ekspresi jelekmu itu hm?" Sena yang baru datang duduk disingle sofa dengan si kecil Jieun dipangkuannya.


Carissa menatap sebentar kaka iparnya, masih dengan ekspresi kesal dan sedih yang dibuat-dibuat. Jarinya menunjuk kearah Ara yang tengah memakan sandwich.


"Kenapa dengan Ara?" Tanya Sena lagi.


"Carissa mau sandwichnya, tapi Ara pelit" adu Carissa merengek kecil.


"Ara sedang hamil, putri kecil. Wajar jika dia lebih sensitive dan pelit" ujar Sena.


"Aaaaahhhhh, tapi Carissa mau. Itu pasti buatan ka Bella"


"Kenapa gak minta sama ka Bella, hm?"


"Hhh, ka Bella lagi mode maung. Gara-gara dia nih"


Ara menoleh menjulurkan lidahnya pada Carissa, "Wleee" ledeknya.


"Araaaaa" Carissa memekik kencang membuat Jieun yang tengah menghisap dotnya terkejut.


"Carissa" tegur Sena, tangannya mengusap-usap pelan dada putra bungsunya. Bayi kecil itu bahkan sampai terlonjak saking kagetnya.


"Kkkkkk" Ara terkikik kecil, senang rasanya menggoda sahabatnya itu. "Nih" menyerahkan potongan terakhir sandwich miliknya.


"Iiiihhhh thank you"


"50000$"


"Aaaahhh"


"Hahahaha"


.....


T B C?


BYE!