Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 60



"Baiklah! Cukup main-mainnya" tuan Revano melakukan serangan balik. Tidak memberikan celah apapun pada musuh dihadapannya.


Berkali-kali tubuh Laxo terpental menghantam tanah. Lelaki itu kewalahan menghadapi sang Godfather, padahal sebelumnya ia yang menantang lebih dulu.


"Hanya segitu kekuatanmu? "


"Diam kau!!! Sial sakit sekali! "


"Jadi kapan kau akan membunuhku? "


"Revano!!!!!! "


"Hahahahahaha" dengan santainya tuan Revano bersandar pada pohon dibelakangnya.


Laxo menatapnya kesal. Matanya melirik pada Haybie yang tengah menjilati kakinya. Tuan Revano mendengus geli, 'mengincar anakku heh? '


"Kau mau mengincarnya? Kau yakin? Dia tidak ada bedanya dengan wanita diujung sana yang sedang berputar" mengangkat dagunya menunjuk putri kesayangannya yabg masih asik menari.


"Berisik!!! " kesal Laxo.


"Boy! " Haybie menoleh. Mengguling-gulingkan tubuhnya diatas rumput. "Menggemaskan bukan? "


"Apanya yang menggemaskan?! Apa kau buta?!!! " Lexo mengamuk. Tuan Revano kembali tertawa. "Bagaimana bisa dia sebesar ini? "


"Tentu saja bisa! Apa kau mau satu? "


Laxo menatap Haybie antusias, matanya berbinar terang. "Bolehkah? " tanyanya senang. tuan Revano mengangguk, "tentu. Jika kau rela menjadi santapannya! Hahahaha"


Ekspresi yang tadinya bahagia kini menjadi datar. Laxo menatap musuh bebuyutannya penuh dendam.


PLAAAKKKK


"Akkkssshh! Sakit bodoh! " tuan Revano meringis. Keningnya berdenyut terkena batu yang dilemparkan Laxo.


"Rasakan itu. HAHAHAHAHA"


"sialan! Kau terima ini! " keduanya kini saling membalas lemparan batu satu sama lain. Mereka lebih mirip bocah yang sedang bertengkar karena memperebutkan satu mainan ketimbang seorang ketua mafia.


Diatas bukit, Leo dan Harves menatap tidak percaya apa yang mereka saksikan. Keduanya ternganga lebar. "What the ****!" Leo berseru.


"Apa dia benar-benar Godfather? " Tanya Harves tak percaya.


Jos yang berdiri tepat di belakang keduanya menoleh pada sang kaka, William. "Kau yakin itu Godfather dan musuh abadinya? " Jos meyakinkan dirinya dan menyangkal apa yang dilihat matanya.


William terdiam, ia juga sama terkejutnya. "Y-ya, se-seharusnya gitu sih" jawabnya bingung.


Bahkan Roxy, Sin, Aldre dan yang lainnya juga tercengang. Perkelahian dua orang itu jauh dari ekspetasi mereka.


Di tempat lain


Kevin dan Galih tertawa terbahak-bahak. Dua pemimpin Mafia paling disegani bertengkar layaknya anak kecil. Kedua suami istri itu tak lagi sanggup melanjutkan pertarungan. Mereka terlalu lemas karena tertawa. Bahkan kedua pasukan pun ikut tertawa. Bukannya bertarung mereka kini malah sibuk menjadi supporter.


Jovan dan Isabella saling tatap. "Grandpamu" tunjuk Isabella. Jovan menggeleng, "papahnya, bunda"


"Tapi dia grandpamu"


"Ya tapi tetep aja papahnya, bunda"


"Menantu ayahmu! "


"Suaminya grandma! " sahut mereka berbarengan.


Isabella meraih ponselnya. Menyalakan kamera, kemudian merekam aksi kedua pria tua itu.


Kedua aktor utama masih asik saling melempar batu sesekali melempar ejeka satu sama lain.


Keduanya bersembunyi di balik pohon, menghindari serangan yang diberikan lawan.


"Yahhh gak kena. Payah!! Huhhh"


"Aduhhhh"


"Hahahaha, aku menang lagi huhuhuhu" seru Revano senang.


"Aissshhh, ku balas kau! "


Revano menghindar, bersembunyi di balik pohon. "Gak kenapa gak kenapa wlee"


Laxo melempar baru ditangannya sembarangan, kemudian berlari menangkap musuh tercintanya. Revano dengan cepat menghindar.


Jika tadi saling melempar batu cinta, kini keduanya cosplay film India. Mereka berputar mengelilingi Haybie, membuat harimau besar itu kebingungan.


Sesekali Revano akan mengibaskan rambutnya ala seorang gadis yang sedang dikejar kekasihnya.


"Hah hah hah, tunggu tunggu aku lelah " ucap Laxo. Nafasnya tersengal. "Ok " Revano ikut duduk tak jauh darinya.


"Lanjut besok lagi aja gimana? Laper nih"


"Season 2 maksudnya? "


"Ahh cape. Suit ajalah"


Keduanya suit. "Menang!!! " seru Revano. Laxo mendengus kesal. "Gak gak ulang. 5 kali ya"


"Ok"


Mereka melakukan suit kembali, yang tetap dimenangkan Revano. Laxo mendengus dia hanya menang dua kali. "Ahh gak asik. Pulang ah, laper" ambeknya.


"Yeeuuu ambekan" Revano kembali mengejek Laxo yang sudah berjalan lebih dulu.


"Bodo" Laxo berjalan melewati Isabella dan Jovan begitu saja. "Bye, Godmother" sapanya santai.


"Yuk boy, kita pulang" ajak Revano. Haybie bangkit, mengikuti papahnya.


Isabella membanting pedangnya kesal. "Pah!!!!! " jeritnya. "Bagaimana bisa kau menjadi Godfather? " tanyanya tak percaya.


"Uang berbicara, Isabella! " sahut Laxo.


"Aku bukan kau monyet" balas Revano.


"Hahahaha"


Mereka benar-benar berakhir dengan kemenangan yang konyol. Sia-sia Isabella menghabisi musuhnya. Laxo bahkan tidak menurunkan pasukannya sama sekali, lelaki itu hanya ingin bermain-main.


Begitupun Revano. Pasukannya hanya diperintahkan melindungi warga desa dan hutan. Bukan untuk melawan musuh.


"Bajingan!! " umpat Isabella.


.


.


"Bagaiman dengan rumah kami tuan Devan? " kepala desa menatap desanya yang hancur. Ia benar-benar bingung harus membawa seluruh warga desa tinggal dimana.


"Jangan khawatir pak. Kami akan membangun desa baru untuk kalian" ucap Devan. "Untuk sementar, kalian akan tinggal di pengungsian yang kami sediakan sampai tempat tinggal baru kalian selesai"lanjutnya lagi.


Kepala desa tersenyum lega, begitupun warga desa yang lain. "Terimakasih banyak tuan Devan"


"Jangan berterima kasih pak. Kami harusnya yang minta maaf, karena mengganggu ketenangan kalian"


"Kami mengerti"


"Kalau begitu, pasukan kami akan membantu kalian membereskan barang-barang kalian"


Kepala desa dan warga menuruni bukit didampingi para pasukan membereskan harta benda mereka.


.....


T b c?


Bye!