Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
43.



Setelah melalui pertengkaran kecil dengan Erick, kini akhirnya Jeno duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Tidak hanya Jeno, Jovan dan Jesslyn pun ikut duduk di sebelahnya, juga si kecil Valerie dan Fero yang berada di gendongan Jeven.


"Ayah dan bunda akan menceritakan segalanya pada kalian" Justin akhirnya membuka suara setelah terdiam cukup lama.


"Tidak perlu" jawab Jovan cepat. Isabella dan Justin saling pandang dengan kening berkerut.


"Kenapa?"


"Untuk apa kalian ceritakan jika akhirnya tetap akan ada yang kalian sembunyikan dari kamu" suara Jeno terdengar tegas dan tajam.


Justin tergelak, tak percaya bahwa putranya sudah sedewasa ini. Bayi kembarnya kini sudah tumbuh besar dan bahkan berani menegurnya ketika ia salah.


"Nak..."


"Kejujuran itu tidak ada gunanya jika kalian masih menyimpan kebohongan. Menutup luka hanya untuk membuat luka yang lain"


"Kamu tidak mengerti Jeno--" perkataan Isabella di potong cepat oleh Jeno. "Tidak mengerti apa bunda?! Selama ini kami bertanya-tanya kenapa bunda begitu menjaga jarak dengan keluarga ayah?


Bahkan hingga detik ini selama 14 tahun kami tidak pernah benar-benar mengobrol dengan omah dan opah.


Bunda pikir Jeno gak tau kalau bunda sadap ponsel kami?! Setiap kali kami berkunjung ke mansion Scander, opah selalu mengatakan bahwa kami tidak pernah menjawab telponnya.


Bagaimana bisa kami mengerti jika kalian tidak pernah mengatakan apapun? Bukankah itu tidak adil bunda!" Jeno marah, sangat marah dengan sikap bundanya selama ini.


Selama mendengar penjelasan Jeno, Justin tak henti menatap sedih ke arah istrinya. Dirinya tak pernah tau bahwa selama ini istrinya begitu keras berusaha agar anak-anak mereka tak dekat dengan keluarganya.


"Kenapa bunda benci mereka? Kenapa bunda bersikap seperti ini?" seru Jeno dengan nada yang lebih tenang.


Isabella terdiam, kepalanya menunduk ke bawah. Hatinya terasa berdenyut sakit setelah mendengar segala penuturan yang keluar dari mulut Jeno. Ia harus siap membuka kembali luka lamanya setelah ini.


Kepala Isabella menoleh ke samping ke arah sang suami yang masih menatapnya.


"Kenapa diam? Katakan semuanya! Kau sudah berjanji!" seru Isabella penuh penekanan pada Justin.


Justin menatap Isabella lamat, meneliti wajah cantik pujaan hatinya yang menemaninya hampir seumur hidupnya ini. Kemudian mengalihkan pandangan dan menatap sang putra


"Ayah akan jelaskan semuanya"


***


Erick kembali dengan dua kotak makan di tangannya, juga dua minuman yang ia beli di salah satu food truck yang ada di area taman umum.


Kakinya ia bawa melangkah ke arah kursi panjang yang terdapat sebuah meja batu di depannya. Tangannya menyodorkan satu kotak makanan ke arah sang kekasih yang diam sambil memandang lurus ke depan.


"Makan dulu. Overthinking juga butuh tenaga" ucap Erick.


Jeno menghentikan acara melamun nya, menatap kotak yang di sodorkan kekasihnya itu tanpa minat.


"Terimakasih"


"Mm"


"Kamu gak makan?" tanya Jeno yang melihat Erick hanya diam. "Nungguin kamu. Kalo kamu buka makanan nya aku juga buka" ucap Erick.


Jeno mendengus. "Pinter banget ngelawan aku" lalu membuka kotak makan dengan gerakan malas.


Senyum lebar mengembang di wajah Erick, ia tidak mau kekasihnya itu sampai sakit jika melewatkan makanannya, jadi selama dirinya di sini ia akan memastikan Jeno makan dengan baik.


"Makasih ya sayang"


"Apasih ah"


Jeno tertawa gemas melihat reaksi sang kekasih yang malu-malu. Erick berkali lipat terlihat lebih manis dari sebelumnya dengan wajah memerah.


Geo dan yang lainnya duduk tak jauh dari keduanya. Memerhatikan dua pasangan kekasih itu dengan ekpresi kesal.


"Pa maksud coba?" seru Kanfa tak terima. Pasalnya dirinya seorang jomblo dan kedua sahabatnya itu sama sekali tidak sopan dengan mengumbar kemesraan di depannya.


"Kira-kira kalau sendal gua nemplok di mukanya Erick, gua mati cuma gak nafas aja?" timpal Brian.


"Ya paling lu mengurangi beban hidup paman Javin" balas Hiro. Brian mendelik kesal. "Yeee si anjing"


"Mau kemana Ge?" tanya Jovan begitu melihat Geo yang bangkit dari duduknya.


"Buang sampah" jawab Geo singkat. Cowok itu berjalan ke arah tong sampah yang berada di belakang Erick.


"Lah? Itu belakang kita tong sampah anjir" seru Keano yang keheranan dengan tingkah saudara kembarnya itu.


"Biarin, liatin aja si Geo mau ngapain" ujar Jovan.


Geo berjalan melewati meja Erick dan Jeno, sedangkan Jeno yang sadar dengan kehadiran Geo melirik sahabatnya itu.


"MAKASIH SAYANG!!!" seru Geo dengan suara lantang. "APASIH AH" lanjutnya lagi sambil meniru gaya malu-malu Erick.


Jeno mendelik tajam ke arah Geo, tapi cowok itu tidak perduli dan memilih kembali ke tempatnya. Sedangkan Erick hanya bisa menunduk malu.


"Mereka ngeliatin kita" cicit Erick. "Biarin aja mereka sirik karena jomblo" ucap Jeno sambil meraih satu tangan Erick dan mengelusnya lembut.


"MAKASIH SAYANG"


"APASIH AH"


Teriakan Geo kembali terdengar, cowok itu sampai rela bolak-balik sambil melewati Jeno dan Erick dengan sampah makanan di tangannya hanya demi menggoda dua manusia bucin itu.


"MAKASIH SAYANGGGHGG"


"APA-- AAAKKKSSSHHH"


Geo meringis sambil memegang kepalanya yang berdenyut karena mendapat lembaran sepatu dari Jeno.


"Diem atau gua tampol muka lu!" geram Jeno.


"MAKASIH SAYANGHH"


"GEO!!!"


"KABOOORRRE"


"WKWKWKWKWKHAHAHAHAHA"


****


SEE YOU SOON!