Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
59



"gua ajak dia ke zoo. Harena ikut sama kami"


Jeno menatap layar ponselnya cukup lama, membaca pesan yang di kirimkan sang adik beberapa menit lalu.


"Take care of him"


Setelah membalas pesan tersebut Jeno langsung mematikan ponsel miliknya. Tubuhnya ia hempaskan ke belakang, bersandar pada kursi.


"Rumit banget kisah percintaan remaja 14 tahun" keluhnya.


Jeno merapihkan buku-buku miliknya yang berserakan di atas mata. Cowok itu baru saja selesai mengerjakan tugas dan laporan bulanan miliknya.


Meletakkan kembali buku-buku tersebut ke dalam rak kecil yang berada di atas meja, menempel pada dinding. Dan sebagian lagi ia masukkan ke dalam tas sekolahnya.


Setelah selesai Jeno kembali meraih ponselnya, jarinya bergerak menekan beberapa nomor yang sangat ia hafal di luar kepala, dan tanpa fikir panjang langsung menelpon pemilik nomor tersebut.


Cukup lama Jeno menunggu akhirnya orang tersebut menjawab telponnya.


"Halo? Siapa ini?" Tanya suara di seberang sana. Jeno memejamkan matanya, menahan rindu yang membuncah di hatinya.


"Halo? Kenapa tidak ada jawaban" lagi, suara orang itu kembali terdengar.


Setelah mengambil nafas sebanyak tiga kali Jeno akhirnya memberanikan diri untuk menjawab.


"Hai, sayang" jawabnya dengan suara sendu. Bisa Jeno dengan suara nafas yang tercekat dari seberang sana.


"Jeno?!" seru Erick kaget. Ya, yang Jeno telpon adalah Erick. Cowok menyebalkan itu akhirnya menyerah dengan egonya.


"Ya, ini aku. Kamu apa kabar, sayang?" Ucap Jeno.


"Jeno....." Jeno bisa merasakan suara Erick yang bergetar. Dirinya yakin kekasihnya itu sedang menahan tangisnya saat ini.


"Hei? Jangan nangis"


"Kamu brengsek tau gak!" seru Erick dengan perasaan kesal. "Kenapa tiba-tiba ngilang gitu aja? Kamu udah janji sama aku!" Semburnya dengan suara yang lebih keras.


"Maaf. Maafin aku, sayang. Aku mohon jangan nangis" Jeno merasa tubuhnya menjadi begitu lemas setelah mendengar suara tangisan Erick. Dirinya sangat tidak bisa jika mendengar kekasihnya itu menangis, apalagi jika itu karena dia sendiri.


"Kamu... Baik-baik aja kan?" Erick bertanya dengan suara yang sangat lirih.


"Ya, aku baik-baik aja. Kamu juga sehat kan? Apa kakek Rayyan kembali berulah?"


Erick menggelengkan kepalanya dengan kuat meski tau Jeno sama sekali tidak bisa melihatnya. "Aku baik, jauh lebih baik setelah mendengar suara kamu. Dan kakek juga tidak bertingkah apapun"


"Syukurlah. Lagi main ke zoo ya?" Tanya Jeno lagi yang membuat Erick terkejut. Bagaimana bisa kekasihnya itu tau dimana ia berada sekarang?


"Kok tau?" Ucap Erick heran. Bukannya menjawab Jeno justru malah tertawa kecil. "Aku punya banyak mata buat jagain kamu"


Mendengar jawaban Jeno, Erick dengan spontan menoleh pada remaja yang memiliki wajah hampir serupa kekasihnya itu. Sedangkan yang di tatap langsung melengoskan wajahnya ke arah lain, berpura-pura tidak tau apapun.


Bibir Erick mencebik, tidak adil sekali jika kekasihnya selalu tau keadaannya tapi dirinya justru tidak tau apapun.


"Curang sekali" seru Erick tak terima.


"Have fun ya, sayang" balas Jeno bersiap untuk memutus panggilannya.


"Kita bicara lagi nanti ya. Aku harus segera tidur sebelum para penjaga datang dan memeriksa"


"Tapi Jen--"


"I love you"


Tut tut tut...


Jeno meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, kemudian melangkah menuju ranjangnya. Sudah hampir pukul 9 dan ia harus segera tidur sebelum para penjaga memeriksanya dan mendapati dirinya yang masih terjaga.


Meski sama sekali belum mengantuk Jeno tetap memaksakan matanya untuk terpejam. Sudah mendengar suara sang kekasih sudah cukup meredakan sedikit rasa rindunya, jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak bisa tertidur dengan nyenyak malam ini.


"Selamat malam, Rick" ucap Jeno lirih sebelum akhirnya benar-benar memejamkan kedua matanya.


Skip time...


05.00am


Pagi harinya Jeno terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik. Tapi kali ini Jeno terbangun bukan karena alarm miliknya, karena seingat ia tidak mengaktifkan alarmnya semalam. Tapi ia terbangun karena ponselnya yang terus berdering.


Tanpa melihat pun Jeno tau siapa yang menghubunginya pagi-pagi buta seperti ini.


"Aku lupa mencabut nomornya"


Jeno bangkit dari atas ranjang, berjalan ke arah meja belajar miliknya. Benar saja dugaannya, yang menelponnya adalah Erick. Harusnya ia langsung mencabut nomor itu setelah selesai menelpon Erick semalam.


Jeno memang menggunakan nomor sekali pakai untuk menghubungi Erick. Demi menghindari sang kekasih agar tidak bisa menghubunginya.


Jeno meraih ponselnya, bukan untuk menjawab panggilan dari Erick, tapi justru untuk mencabut kartu sim tersebut dari ponselnya. Setelah selesai Jeno melemparkan ponselnya sedikit kasar ke atas meja.


Setelahnya Jeno beranjak menuju kamar mandi untuk memulai rutinitas paginya.


15 menit kemudian Jeno keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar. Memakai seragam miliknya dengan cepat lalu berjalan keluar dari kamar setelah mengambil ponsel dan tas sekolahnya.


Jeno meletakkan tas dan ponselnya di atas meja makan, cowok itu berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan makanan dari sana.


Pagi ini Jeno tidak akan membuat makanan yang berat, ia hanya akan membuat sarapan yang simple. Omelette dan sosis panggang.


"Morning, brother" sapa Hiro yang baru saja keluar dari kamar masih dengan muka bantalnya. Sepertinya cowok itu baru saja bangun.


"Morning" balas Jeno tanpa menoleh sedikitpun.


"Busett dah, udah rapih aja pak bos" serunya melihat Jeno yang sudah tampan dengan seragam sekolahnya.


"Mandi, abis itu sarapan. Jangan lupa bangunin yang lain" titah Jeno yang masih fokus pada pekerjaannya.


Hiro mengangkat kedua jempol miliknya ke atas. "Oke oke" lalu melangkah menuju kamar Kanfa dan Geo untuk membangunkan kedua sahabatnya itu.


Setelah memastikan keduanya bangun Hiro kembali masuk ke dalam kamar untuk segera bersiap.


*****


See you!