Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
28. Bertemu Virzan



Tubuh Geo menunduk dengan kedua tangan yang bertumpu pada lutut, nafasnya terengah diikuti keringat yang membanjiri pelipisnya.


Dirinya saat ini tengah berada di taman kota karena pagi-pagi sekali sang paman, Aldre datang menjemputnya untuk lari pagi disini.


"Baru segitu kau sudah lelah?" Tanya Aldre dengan nada mengejek. "Berapa lama kau tidak olahraga hah?"


Geo kembali berdiri tegak matanya menatap kesal lelaki yang lebih tua darinya itu. "Paman saja yang berlari seperti kuda" cibirnya.


"Itu memang dasarnya kau yang lelet. Ayo lanjut lagi"


"Aku lapar paman"


"Haishh? Baru lari beberapa putaran dan kau sudah mengeluh lapar?"


Ekspresi memelas Geo tunjukan berharap sang paman mau berbaik hati padanya. Karena demi tuhan, lari pagi adalah hal yang paling dirinya benci.


"Kita lari dua putaran lagi baru setelah itu kita cari sarapan" ucap Aldre mutlak.


"Yatuhan kenapa aku harus memiliki paman seperti ini?" Keluh Geo dengan kepala menengadah ke atas langit.


Aldre memutar bola matanya. "Lebay"


Keduanya pun melanjutkan lari pagi mereka meski Geo melakukannya dengan setengah hati. Aldre berlari lebih dulu diikuti Geo yang bergerak malas di belakangnya.


Sepanjang jalan yang Geo lakukan hanya terus mengeluarkan segala sumpah serapah untuk sang paman. Tau begini, dirinya tak akan bangun saat papahnya masuk ke kamar tadi.


"Paman Aldre memang manusia paling menyebalkan di muka bumi" gerutunya.


Tubuh Geo ambruk ke tanah padahal dirinya belom menyelesaikan dua putaran yang Aldre katakan. Ia sudah tidak sanggup lagi bergerak, dirinya sudah berlari mengelilingi taman kota sebanyak 7x. Ini bukan lari pagi namanya tapi latihan militer.


Aldre berjongkok di depan Geo yang masih pada posisi berbaring di atas tanahnya. "Papah mu sangat suka berolahraga, kau ini anak siapa?" Serunya kesal.


"Daddy" jawab Geo tanpa beban. Aldre menggaruk pelipisnya yang tak gatal sama sekali, matanya mengedar ke segala penjuru. "Aku lupa soal daddy mu"


perlahan Geo bangkit menatap Aldre dengan masa berbinar. "Hotdog depan taman ya paman"


"Dua putaran mu saja tidak kau selesaikan. Makan dirumah!"


"AAARRRGGGHHHH PAMAN JELEK!!! BAJINGAN"


"GEO!!!"


"Ada apa dengan dua orang gila ini?" Aldre dan Geo yang tengah saling melempar tatapan tajam menoleh pada seseorang yang baru saja menyebut mereka gila.


Setelah mengenali sosok tersebut dengan spontan Aldre memutar bola matanya. "Pergi!" usirnya.


"Hai Geo" sapa sosok tersebut pada bocah remaja di depannya.


"Hai paman Fedrick" balas Geo.


"Tidak perlu menyautinya, dia orang gila" seru Aldre sinis. Geo mendengus tak suka. "Memangnya paman waras?"


"Heh!!"


"Kau disini Fedrick? Oh morning Aldre and... Geo? Wooahh apakabar boy?"


Perdebatan Geo dan Aldre di hentikan oleh kedatangan Maxime dan Varrel juga Virzan yang berada di belakangnya.


"Halo paman Maxime. I'm good" Geo menampilkan senyum tipisnya. Maxime menoleh kebelakang menatap sang putra yang tengah fokus pada ponselnya. "Kau tidak menyapa Geo, V?" tanya Maxime yang sukses menghentikan gerakan jari Virzan di atas benda pipih itu.


Virzan mendongak menatap kaget paponya, lalu mengolokkan kepalanya ke sela-sela tubuh kedua orang tuanya.


"Geo?" ujarnya kaget begitu melihat tubuh sahabat yang sudah lama tidak ditemuinya.


Geo tersenyum sumringah mengangkat satu tangannya menyapa Virzan. "Yoo broo. What's up?"


"Lo kapan balik?" tanya Virzan yang masih dengan keterkejutannya.


"Parah banget gak ngabarin"


"Lah? Emangnya Jeno gak ngomong. Oh, hai paman Verrel" dirinya lupa menyapa satu orang dewasa di sebelah Maxime.


"Kau kurus sekali, boy" ucap Verrel.


"Yahh namanya juga anak sekolahan" Geo menjawab dengan santai.


"Emang anjir si Jeno. Bisa-bisanya dia gak ngomong" dumel Virzan. "Doi lagi sibuk ngurusin Erick yang ngambek" seru Geo.


"Manusia bucin tolol"


"Virzan!" tegur Maxime membuat sang putra memanyunkan bibirnya panik. Geo tertawa kecil, lucu melihat wajah panik sahabatnya itu.


Entah kenapa tapi Virzan merasa hatinya menghangat melihat dan menyaksikan tawa sahabatnya itu. Tapi juga terselip rasa sedih dihatinya melihat tubuh kurus Geo. Padahal sebelumnya di antara mereka, Geo memiliki badan yang paling besar.


"Lu sehat kan, Ge?" Virzan menelisik tubuh Geo yang begitu kurus. Pipi chubby nya bahkan menghilang tanpa sisa.


"Sehat gua sehat banget" jawab Geo sekenanya. Bocah itu tengah fokus pada sarapannya.


"Kalo sehat lo gak mungkin sekurus ini" ucap Virzan pelan.


"Stress dikit. Biasalah anak aksel, tau kan lu gimana"


"Yakin? Bukan karena yang lain?"


"Ck! Pertanyaan lu sama aja kaya yang lain"


"Semua orang tau, Ge"


Geo terdiam tidak bisa membalas perkataan Virzan. Nyatanya apa yang sahabatnya itu katakan memang benar dan tanpa memberitau pun semua orang sudah tau jawabannya.


Tangan Virzan terangkat mengelus lembur rambut hitam serupa Kevin Aldebaren itu.


Tindakan Virzan cukup membuat Geo tersentak tapi tidak menghentikannya. Geo justru merasa nyaman dengan perlakuan cowok itu.


Di meja yang lain para orang dewasa memperhatikan interaksi keduanya.


"Kayanya Geo gak tau ya?" ucap Fedrick. "Tau apa?" tanya Aldre. "Kepo amat"


"Anjing"


"Virzan suka Geo" jawab Maxime santai.


Kedua netra biru Aldre membola. "Woaahh pewaris tahta" serunya tak percaya.


Verrel terkekeh, dia suka ketika orang-orang menyebut putra ya sebagi pewaris tahta.


"Tapi Geo suka Jeven" ucap Aldre tiba-tiba begitu teringat penyebab Geo membenci saudaranya sendiri.


"Kami tau. Karena itu Virzan tidak mengatakan apapun tentang perasaannya"


"Jelas Virzan jauh lebih unggul daripada Jeven"


"Kau memujinya karena orang tuanya ada di depannya kan?" cibir Maxime.


"Ayolah ka Maxime. Memangnya siapa yang tidak mengincar putramu? Jika Virzan mau aku pasti menjodohkannya dengan anakku"


"Aku yang tidak setuju"


"Kkkkkkk"


****


See you!