
Akhirnya, Akhirnya setelah perjuangan panjang dan biaya yang membengkakan kantong, semuanya telah usai. Tinggal menuju hari H dan semuanya akan damai seperti biasa.
"Hah! Selamat datang dunia. " ucap bahagia seorang gadis. Senyum lebar terukir di bibir tipisnya. Meregangkan kedua tangannya menikmati indahnya dunia.
Seorang remaja laki-laki dan seorang wanita dewasa berusia 39 tahun yang sejak tadi memperhatikan gadis itu terkekeh pelan. Kepala mereka menggeleng pelan melihat tingkah laku lucu gadis muda itu.
"Ayolah bibi, kenapa bibi terlihat seperti baru saja terlepas dari beban berat? " tanya remaja lelaki itu.
Senyum lebar tak lepas dari bibir Ara, "Aku bahkan merasa seolah terbebas dari kurungan iblis. " sahut Ara dengan riang. Remaja lelaki itu terkikik, "paman akan melotot tajam jika dia mendengar itu bibi. "
Ara mendengus, mengibaskan tangannya tidak perduli. "Cih!! Aku tidak perduli. Yang penting sekarang AKU BEBAS!! YAAAA!! " serunya Kencang. Wanita dewasa yang tak lain adalah Nemora hanya tertawa kecil. "Kau terlalu berlebihan little princess " ujar Nemora.
"Ayolah ka, biarkan aku menikmati indahnya hari ini, okay. "
"Terserah, yang terpenting jangan lupa untuk mengecek lagi semuanya jangan sampai ada yang salah atau kurang!! " Nemora memperingati, membuat Ara merengut. "Iya iya " sahutnya.
Nemora beranjak pergi dari sana meninggalkan sang putra dan adik bungsunya itu.
Harsel Renova, putra sulung Harves dan Nemora. Remaja 15 tahun itu melangkah ke arah sang bibi, "ulang tahunku nanti, bibi juga yang menyiapkannya ya? " ucap Harsel, lelaki muda itu menaik turunkan alisnya menggoda sang bibi.
Ara melotot, menggeleng cepat, "NO NO NO!! Bibi sudah hampir gila menghadapi pamanmu jangan suruh bibi menghadapi daddymu!! " sergah Ara.
Harsel memasang wajah merajuk, "ayolah bibiiii. Aku juga ingin meresakan pesta ulang tahun seperti ini. Ya ya ya!!! " bujuk Harsel. Ara kembali menggeleng, "gak pokoknya gak!! " tolak gadis itu.
"Ahhh bibi. Bibi pilih kasih!! " rajuknya. Ara tidak perduli dengan rengekan keponakannya, dia tidak mau lagi terlibat dengan dua pria menyebalkan yang sayangnya adalah kaka kandung dan kaka iparnya.
"Akan aku adukan pada daddy! " ancam Harsel. Ara melengos, "kau pikir aku perduli? " ledeknya.
"DADDY!! " Harsel berteriak pandangannya mengarah tepat ke belakang bibinya. Ara menoleh cepat matanya melotot melihat kaka iparnya baru saja keluar dari mobil.
"Jangan macam macam bocah nakal! "
"Biarin saja. Bibi pilih kasih padaku! "
"Harsel!! " Ara berlari secepat kilat, menjauh dari keponakannya yang biadab.
Harves menoleh mendengar teriakan putranya, alisnya menukik sebelah. Ara panik, gadis itu segera melarikan diri dari sana, membuat Harsel tertawa puas. Dia berhasil mengerjai bibinya.
"Ada apa? " tanya Harves. "Tidak ada dad. Aku hanya sedang mengerjai bibi Ara " jawab Harsel masih dengan tawa yang tersisa.
Harves menatap singkat putra sulungnya sebelum melangkah masuk, meninggalkan putranya yang masih tertawa tidak jelas.
Cassandine terkejut melihat Ara yang tiba-tiba berlari panik ke arahnya. "Kamu kenapa Ara? " Tanya Cassy heran.
Ara mengatur nafasnya yang tersengal. "Gak ada apa-apa, gak ada apa-apa" Jawabnya.
Cassandin melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, mengabaikan adik iparnya yang seperti orang linglung. Terkadang wanita itu merasa kasihan pada gadis ini. Dia selalu tertekan jika berada di sekitar kaka sulungnya.
"Lebih baik kamu masuk ke kamar dan istirahat " ucap Cassy yang masih berkutat dengan masakannya. "Oh. Kaka benar, aku harus istirahat " sahut Ara. Gadis itu melangkah keluar dari dapur.
Baru sepersekian detik Ara kembali lagi ke dapur. "Kenapa? " tanya Cassy. Ara menyengir, "hehehe laper ka " ucapnya polos. "Hih dasar. Yaudah kamu duduk dulu, sebentar lagi selesai kok ini "
Ara mengacungkan jempolnya, duduk manis di meja makan.
Tidak lama, semua orang mulai datang. Sudah waktunya makan siang. Devan masuk ke ruang makan, duduk di kursi miliknya. Ara mencoba tidak perduli dengan kehadiran sang kaka.
"Kaka suka hasil kerjamu Ara " ucap Devan memecah keheningan.
Ara mencebik, "kemarin saja mengoceh tidak jelas. Giliran sudah selesai baru memuji. Cih!!" cibirnya pelan.
"Jangan menggerutu. Kaka dengar yang kau katakan " perkataan Devan membuat Ara menoleh. Gadis itu menampilkan senyuman tanpa dosanya. "Kaka yang terbaik " pujinya.
Para pelayan mulai menghidangkan makanan satu persatu. Menatanya serapih mungkin, tanpa terlewat. Ara menatap lapar barisan makanan di hadapannya. Cacing - cacing di perutnya langsung membuat pesta.
Masakan Cassandine memang tidak pernah mengecewakan. Gadis itu memakan makanannya dengan lahap, bahkan tidak segan mengambil sepotong steak lagi.
"Bibi seperti tidak makan setahun. " ledek Harsel. Ara melirik sinis keponakannya, "Berisik!! " ucapnya kesal.
Devan mengelap mulutnya setelah selesai. Pria itu berdehem pelan, membuat semua orang menatapnya. "Twins! " panggilnya tegas. Vion dan Vien menegang. Si kembar saling pandang. Mereka mulai merasakan ancaman bahaya.
"Kalian tidak mendengarkan apa yang daddy dan grandpa katakan? " suaranya terdengar dingin. "Sepertinya kalian tidak jera dengan hukuman yang daddy berikan!"
"D-dad!! " Vion tergugup. Wajahnya panik, paman Josh pasti sudah mengadu pada daddynya itu.
"Daddy belum memintamu untuk membuka suara, Lavion Devano Courtland!! " Suaranya menggema. Menyiratkan bahwa pria itu tak ingin dibantah.
Cassandine hendak membuka mulutnya, tapi tatapan tajam sang suami memperingatinya untuk tetap diam.
"Haruskah daddy menyerahkanmu pada bibimu? " Vion dan Vien menoleh cepat. Mereka melotot, semakin panik. Mereka siap menerima hukuman apapun asal tidak melibatkan bibi mereka, Isabella.
"Ada apa Devan? " tanya Leo. Devan menoleh pada sahabatnya, sorot matanya tidak berubah sedikitpun. Tajam dan dingin.
"Mereka meminta hal yang sama pada Aldre "
Gerakan Ara seketika terhenti, begitu telinganya mendengar nama Aldre. "Ada apa dengan Aldre? " tanya Ara penasaran.
"Mereka meminta sebuah hadiah padanya " jawab Devan.
"Apa yang salah paman? " timpal Harsel. Remaja 14 tahun itu tidak mengerti kenapa pamannya sampai semarah ini? Apa yang salah dengan meminta hadiah? Bukankah wajar bahwa mereka akan berulang tahun!!
"Istana Romanov! " jawaban Leo membuat semua orang tercengang. A-apa?? Istana Romanov??
'What the ****?? Yang benar saja. Apa kedua sepupunya itu sudah gila? ' Harsel mengumpat dalam hati. Otaknya pasti sudah tertukar dengan saus bbq.
"Apa yang kalian fikirkan hingga kalian berani meminta hal itu padanya? " tanya Leo. Vion menatap adiknya, memintanya menjawab pertanyaan mafia dengan julukan Black Devil itu.
"Paman Aldre adalah pemilik istana itu sekarang " Jelas Vien. Lagi-lagi semua orang terkejut. Tidak mungkin!! Bagaimana bisa?? Istana itu tidak mungkin keluar dari keturunan asli Romanov!
"Jangan bercanda Vien! "
"Vien tidak bercanda daddy! Memang itu kenyataannya! "
"How could that be? " tanya Harves memastikan.
Vien menggeleng. "Aku juga tidak mengerti paman, tapi yang jelas istana itu milik paman Aldre saat ini " Jelas Vien.
"Lalu kenapa kalian memintanya? " tanya Cassandin pada kedua anaknya itu. "Kami hanya ingin memastikan mom, apakah itu benar atau tidak, dan kami pikir, daddy mengetahui hal ini, tapi ternyata tidak " kali ini giliran Vion yang menjawab.
"Pantas saja Kevin murka pada kalian. " sahut Rion.
Devan termenung. Tidak mungkin jika Aldre mendapakatannya secara percuma. Lelaki itu pasti memiliki hubungan dengan keluarga Romanov. Dia harus mencari tahu hal ini.
"Apa grandpamu tahu? " tanya Devan lagi.
"Kami tidak tahu dad "
"Tapi ka Bella, tidak mungkin tidak mengetahuinya bukan? " ucap Ara.
"Terkadang ketika kamu berada di tempat yang gelap, kamu berpikir bahwa kamu telah dikubur; tetapi, sebenarnya kamu telah ditanam."