
Sejak pagi buta, Ara sudah sibuk menyiapkan sarapan, makanan berat, dan snack, juga jus, dan beberapa minuman segar lainnya. Rencananya setelah sarapan, dirinya dan keluarga kecilnya akan pergi berpiknik di kebun bunga milik Aldre. Piknik pertama mereka setelah menjadi keluarga.
"Selamat pagi, mommy" seruan hangat Aldre yang baru saja turun bersama putri kecilnya, Aldara menyapa telinga Ara.
Ara tersenyum hangat. "Selamat pagi, daddy. Selamat pagi, little princess" balasnya. Ara mengambil alih Aldara dari gendongan Aldre, bayi mungil itu melonjak senang begitu berada di gendongan sang momny.
"Ouhhh seneng banget di gendong mommy. Dimana Alaner?" Tanya Ara mencari keberadaan putra kecilnya.
Aldre menunjuk ke belakang tubuhnya, dimana Erick tengah melangkah turun dari tangga bersama Alaner di gendongannya. Ngomong-ngomong, remaja 14 tahun itu sudah seminggu menginap di rumah sang paman.
Papahnya tengah pergi menemani mamahnya ke rumah sakit yang berada di Aussie, keduanya baru akan kembali minggu depan. Dan sang adik Harena, sudah lebih dulu di akuisisi oleh sahabatnya Jovan. Erick sendiri memilih menginap di rumah sang paman, Aldre. Dirinya sedang kesal dengan kakanya Jovan, jadi tidak mau ikut bergabung bersama adiknya. Lagi pula dirinya lebih senang menganggu pamannya.
"Kau belom mandi, Erick?" Ara menatap Erick tak biasa. Remaja tampan itu biasanya sudah sangat rapih di jam segini.
Erick mendengus. "Salahkan suami mu, bibi. Dia membangunkan ku seperti mengajak tawuran. Aku bahkan belum sempat cuci muka" sungutnya.
Aldre hanya melengos tidak perduli dengan protesan keponakannya itu, memilih duduk di meja makan. Perutnya sudah keroncongan minta di isi.
"Alllll!!!" Tegur Ara.
"Iyaiya, I'm sorry okay" ucap Aldre malas.
"Bibiiii lihat paman"
"All!!"
"Dasar pengaduan. Paman minta maaf ya keponakan ku yang tampan. Mau apa hm?"
"Ps terbaru"
"Oke. Puas?"
"Hehehe thank you paman" Ketiganya pun menjalani sarapan dengan tenang.
Setelah selesai sarapan, Erick kembali menuju kamarnya untuk melakukan ritual paginya yang terlewat karena sang paman.
15 menit kemudian, Erick keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar, lalu masuk ke dalam walk in closet miliknya. Remaja tampan itu sudah rapih dengan kemeja kotak-kotak setengah lengan dengan warna biru, di padukan dengan celana pendek selutut berwarna senada, juga sepatu convers putih.
Erick berdiri di depan cermin, menata rambutnya serapih mungkin ala idol Korea. Mengoleskan sunscreen ke wajah dan tubuhnya agar tetap terlindungi dari teriknya matahati. Lalu menyomprotkan parfum sebagai sentuhan terakhir.
"Nah selesai" serunya bangga.
Erick melangkah keluar dari walk in closet. Meraih tas kecil miliknya di atas tempat tidur, juga ponselnya dari atas nakas. Kemudian kembali melangkah keluar dari dalam kamar.
"Mau kemana kamu?" Tanya Aldre begitu Erick berada di hadapannya.
"Piknik lah" jawab Erick tak santai. "Emangnya kamu di ajak?" Ledek Aldre.
"Di ajak sama bibi. Wleee"
"Bocah semprul"
"Berantem terus. Bawa ini ya, Rick" Ara menyerahkan keranjang piknik pada Erick. Lalu ketiganya pun masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, senyum lebar Ara juga tawa riang dari kedua baby Al menjadi pemandu perjalanan mereka. Baby Al tampak begitu riang berada di dalam mobil. Ini pertama kalinya bagi mereka jalan-jalan sejauh ini dari rumah.
Berbeda dengan baby Al, berbeda pula dengan kaka sepupu mereka yang sejak awal hanya melamun sambil memandang keluar ke jendela. Bahkan saat Alaner mengajaknya berbicara pun, Erick sama sekali tidak menghiraukan. Remaja tampan itu hanya fokus pada lamunannya.
Ara menoleh ke belakang, begitu pun Aldre yang melirik dari spion. "Apa Erick sedang memiliki masalah?" Tanya Ara pelan.
"Jeno. Erick selalu seperti ini jika bertengkar dengan Jeno" jawab Aldre pelan.
"Mereka pacaran?"
"Jika kamu tanya Jovan, bocah itu akan menjawab hal yang sama dengan ku. Tidak tau"
"Terkadang mereka bisa deket banget, kadang kaya orang gak kenal, kadang biasa aja"
"Apa ka Daniel tidak menyetujui hubungan mereka?"
"Kasian Erick"
"Memang. Tapi bagaimana pun, manusia punya cinta tapi dunia punya norma, sayang. Mungkin keluarganya ka Ana bisa menerima ka Galih, dan Ka Kevin, tapi bagaimana pun jawabannya tidak akan sama jika keluarga mereka sendiri yang seperti itu"
"Apa mereka jijik?"
"Tidak. Tapi untuk seseorang yang begitu memegang teguh ajaran agama, apa pun alasannya mereka tidak akan bisa menerimanya"
"Aku mengerti"
"Jeno sama seperti ka Bella, segala tindakannya pasti dia sudah pikirkan matang-matang"
Tanpa terasa karena obrolan panjang itu, Ara tidak menyadari jika mereka sudah tiba di perkebunan.
"Ayo turun" ajak Aldre.
"Hah?" Ara menatap sekelilingnya bingung. Sejak kapan mereka tiba?
"Hahaja. Kita sudah sampai sejak aku menjelaskan tentang keluarga ka Ana" seolah tau apa yanh di pikirkan sang istri, Aldre berucap.
"Iiissshhh. Kok gak ngasih tau sih"
"Ya abisnya kamu serius banget"
**
"Kenapa tidak jujur?" Jeven membuka suara. Mengangkat topik sensitif yang tak pernah mau adiknya itu bicarakan.
"Apa maksud abang?" Jeno bertanya balik. Tapi fokus matanya sibuk pada bangunan Lego yang sedang di buatnya.
"Kamu tau maksud abang"
"Perasaan kami hanya cinta monyet, abang. Perasaan itu akan hilang dengan sendirinya nanti"
"Benarkah? Kalau begitu harusnya kamu tidak perlu sampai kehilangan nafsu makan"
Gerakan tangan Jeno yang akan meletakkan lego terkahir sebagai puncak sebuah istana yang dirinya buat terhenti.
"Jangan membohongi diri mu sendiri, Jen" ucap Jeven lagi.
"Aku tidak. Abang tidak akan mengerti masalahnya"
"Kalau begitu katakan"
Jeno menatap abangnya dengan sorot frustasi. "Kalau begitu bisakah abang meminta restu orang tua bibi Ana untuk ku dan Erick?"
Kelu. Bibir Jeven menjadi keluar seketika. Bagaimana bisa dirinya lupa dengan fakta ini? Fakta tentang kelurga bibi kesayangannya yang begitu dekat dengan agama.
"Jeno..."
"You can't do it. Bahkan bunda pun tidak akan bisa melakukannya" lirih Jeno.
Jeven tidak tau harus menjawab apa, pikirannya mendadak kosong. Jika sudah seperti ini, dirinya tidak akan bisa memberikan solusi apa pun.
"Aku tidak mau memusingkannya lagi, bang. Biarkan perasaan ku dan Erick menghilang dengan sendirinya."
"Bagaimana jika perasaan kalian tidak akan hilang?"
"Berarti itu resiko yang harus kami tanggung"
.....
T b c?
Bye!