Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 67



Beberapa hari kemudian


Kondisi Carissa semakin membaik setiap harinya. Lusa, ia akan memulai operasi cangkok tulangnya. Dan Isabella sendiri yang akan mengawasi operasi tersebut.


Hubungan Ara dan Aldre berjalan dengan lancar. Keromantisan mereka cukup membuat Carissa kesal dan iri, ia juga ingin memiliki kekasih yang memanjakannya seperti Aldre.


Sin, gadis itu sudah dipindahkan ke Rehabilitasi. Ara dan Carissa berkomunikasi dengannya setiap hari. Ia tidak diijinkan mendapatkan kunjungan dari siapapun. Kedua orang tuanya sudah bisa memaafkan segala tindakan putri mereka. Darren bahkan tidak pernah absen menghubungi dan mengirimkan keperluan sang adik.


Thomas dan Roxy. Keduanya sudah mati, hukuman yang diberikan Revano tidak main-main terhadap keduanya. Roxy baru dimakamkan tiga hari yang lalu. Revano masih memberikan belas kasihnya mengingat lelaki bajingan itu memiliki seorang anak.


Sedangkan Thomas, ia meminta untuk menjadi pendonor bagi Carissa sebagai tebusan atas rasa bersalahnya. Dan bersyukurnya karena lelaki itu sehat dan memenuhi kriteria pendonor. Sedangkan sepupunya Metio, memilih melanjutkan hidupnya dan pindah ke tempat lain, guna melupakan semua kejadian mengerikan itu.


"Ada apa, sayang? " Jason mengusap lembut rambut sang adik. Menatapnya penuh sayang.


"Akhirnya, semuanya udah berakhir ya ka. Sekarang keadaan kembali seperti dulu" jawab Carissa dengan bahagia.


Jason mengangguk setuju, meski adik satu-satunya harus berkorban, tapi setidaknya masa suram itu telah berakhir.


"Siap untuk operasimu? "


"Sangat siap" jawab Carissa penuh semangat. "Adik kaka pasti sembuh, jangan khawatirkan apapun, oke? "


"Mm, siap bos"


Sena keluar dari kamar mandi dengan baskom dan handuk kecil ditangannya. Ibu dua anak itu tersenyum. "Nahh, waktunya membersihkan tubuhmu, putri kecil"


Meletakkan baskom tersebut di atas nakas. Sena menatap sang suami, "kamu mau mengintip adikmu? "


"E-eh. Hehehe" Jason tersenyum malu. Berbalik badan, Jason melangkah keluar.


Sena membantu Carissa melepaskan pakaiannya, lalu membersihkan tubuh gadis itu dengan pelan dan lembut.


Setelah selesai, wanita cantik itu menyiapkan pakaian ganti sang adik, dan kembali membntunya mengenakan pakaian.


"Kaka udah beberapa hari disini? Gak pulang? Jieun pasti nyariin" ucap Carissa


"Sebentar lagi kaka pulang. Ka Sania yang akan jaga kamu disini mulai nanti malam, siang ini dia akan sampai" jelas Sena. "Kaka akan balik lagi saat kamu operasi nanti, ya"


"Mm, salam but Jieun ya ka. Kangen banget sama si gembul"


"Iya, nanti kaka sampaikan. Mami juga bilang Jieun sering nyariin kamu, biasanya kan bangun tidur yang pertama diliat muka kamu"


"Aku mau video call sama Jieun nanti"


"Mm"


Tok tok tok


Jason masuk kembali. Lelaki itu tidak sendiri, ada Darren, Steven, Galih, dan Kevin yang membuntutinya.


"Selamat pagi, Putri kecil" sapa Steven dengan riang. Carissa memasang senyum manisnya, "selamat pagi ka Steven"


"Bagaimana keadaanmu, putri kecil? " Tanya Kevin. "Baik ka, Kevin. Lebih baik dari sebelumnya" jawab Carissa lembut.


"Mm, Ka Aveline dan ka Linea gak ikut? "


"Nanti mereka menyusul, sayang. Mereka sedang membeli beberpa kue untukmu di toko depan rumah sakit" jelas Steven. Carissa mengangguk kecil.


Gadis cantik itu menatap Darren yang berdiri disebelahnya. Lelaki itu membawa parsel buah yang sudah ia letakkan dimeja kecil samping nakas.


"Ka Darren... Sin..? "


Darren mengelus sayang puncak kepala adik sahabatnya itu. "Dia baik-baik saja. Para perawat bilang, kondisinya terus mengalami perkembangan. Dia bahkan membuka jasa motivator disana"


"Hahaha, benarkah? "


Darren mengangguk. "Saat kaka tanya untuk apa? Dia bilang gini 'lumayan ka, penghasilan tambahan. Keluar dari sini Sin jadi orang kaya' gitu katanya"


Carissa menggigit bibirnya, berusaha menahan tawanya yang akan meledak. Sedangkan Steven dan yang lain sudah tertawa keras.


"Bayarannya pasti mahal" ujar Galih yang berhasil mengontrol kembali dirinya.


"Bukan lagi. 1000$ per 30 menit, kalo lewat harus tambah 1000$ lagi"


"Sikap pemerasnya semakin kesana kesini ternyata"


"Mau tau gak sudah berapa yang dia kantongin? "


"Berapa? "


"100.000$"


Kevin sampai terbengong mendengarnya. Berapa lama dia mendapatkan sebanyak itu?


"Dan itu hanya dalam satu minggu. Setiap pasien yang dijenguk keluargnya, mereka pasti minta duit cuma buat bayar jasanya Sin" lanjut Darren lagi, sudah lelah dengan kelakuan adiknya.


"Perampok berkedok motivator" sahut Jason geli.


"Ini pasti ajar-ajarannya Isabella nih. Yang sering ngerampok kita kan dulu dia" celetuk Steven. Yang lain kompak mengatakan setuju.


"Heh! Jangan sembarangan ya kalo ngomong!! " mereka terperanjat, dengan kompak menoleh ke belakang. Didepan pintu, Isabella berdiri dengan jas dokternya. Dibelakangnya ada Linea dan Aveline yang sedang terkikik kecil.


Isabella memandang kelima orang itu dengan wajah cemberut. Tidak terima dirinya difitnah seperti itu, meski kenyataannya itu memang benar.


Kelima orang itu kompak memasang cengiran polos mereka.


"Sudah lama tidak melihat mu memakai jas ini, dear" ucap Galih, menatap penampilan sahabatnya dari atas sampai bawah.


Isabella tersenyum miring, "ya, aku bahkan hampir lupa dimana menyimpannya"


"Apa kau masih sekeren dulu, Dear? Saat kau pertama kali mengenakan jas itu" timpal Kevin menggoda.


"Apa itu pantas dipertanyakan? Aku selalu menjadi primadona, ka. Dan seharusnya kau ingat itu! " balas Isabella mengedipkan matanya sombong.


Steven menatap sinis satu-satunya wanita dalam genk mereka. "Somobongnyaaaaaaaa! Gua jambak juga Lo!"


Darren menepuk pundak Steven, memberikan kesabaran pada sahabatnya itu. "Sabar, orang sabar bisulan"


"Haha lucu! "


.


.


Dua orang perawat yang biasanya mendapingi Sin selama disana menatap tidak percaya pemandangan didepannya.


Pasalnya didalam kamar, diatas tempat tidurnya, Sin tengah asik menghitung uang tanpa menghiraukan kedatangan dua perawat yang biasa menemaninya.


"Aku yakin banget kalau aku ngelamar kerja di pusat rehabilitasi deh. Apa aku salah masuk gedung ya? " gumam salah satu perawat dengan wajah bingungnya.


"Gak cuma kamu deh yang nyasar kayanya, tapi aku juga" timpal teman disebelahnya.


Sin mengangkat kepalanya begitu menyadari ada orang lain dikamarnya. Cengiran gadis itu tampil, "eehehehe ada suster. Ngapain sus? "


"Haha, ini biasa kiriman dari kaka kamu" suster yang pertama bicara melangkah dengan ragu, menyerahkan bingkisan ditangannya.


"Ouhh. Wah, ini kan Cake favorite gue aaaaaaa udah lama gak makan ini"


Sin meraih salah satu cake dengan banyak potongan buah diatasnya, melahapnya dalam satu gigitan. Senyumnya terbit begitu rasa manis dan asam cake meleleh dilidahnya.


"Aaaaaaaaa enak banget. Sus mau coba gak? Nih nih cobain " gadis itu memberikan masing-masing satu potong cake pada kedua suster.


Dengan ragu, kedua suster memasukkan cake tersebut kedalam mulut mereka. Reaksi mereka betikutnya tidak jauh berbeda dengan Sin.


"Waahhhh, enak banget"


"Iya, ngomong-ngomong, ini tokonya sebelah mana, Sin?


"Itu loh yang depan mall persis. Yang antriannya udah kaya nonton konser" ucap Sin menjelaskan dengan semangat.


"Ihh, kalo itu mah aku tau. Aku biasa beli puding disana. Puding cokelatnya enak bangeeettt. Nyesel banget gak pernah nyobain cakenya" salah satu suster mengacungkan jempolnya.


"Setuju. Coklat kocoknya juga gak ada tandingan" timpal yang lain.


Sin berbinar mendengar cokelat kocok. "Ihhh, setuju. Pesen yuk sus, boleh gak si pesen dari luar? "


"Ya kalo kita mah boleh, kamu yang gak "


"Aaaaahhhh, masa gak bolehhhhh" Sin mendesah kecewa, padahal ia sangat ingin minuman favoritenya itu.


"Kenapa gak telpon kaka kamu aja? "Usul suster.


"Oh iya. Minjem ponsel, sus" suster tersebut mengeluarkan ponselnya, mengetikkan nomor sang kaka dengan cepat.


Nada sambungan terdengar. Sin mengetukkan jarinya dipinggir ranjang menunggu jawaban dari seberang.


"Halo"


"Kakaaaa"


.


Suara deringan ponsel mengintrupsi candaan mereka. Semua orang menatap kearah Darren yang tengah mengeluarkan ponselnya.


"Siapa? " Tanya Jason. "Susternya Sin" jawab Darren.


Jarinya menggeser tombol hijau dilayar ponselnya, kemudian menempelkan benda pipih itu ketelinganya.


"Halo" jawab Darren.


"Kakaaaaa" teriakan sang adik menjadi jawaban. "Sin? "


Carissa yang mendengar nama Sin menoleh cepat. Begitupun yang lainnya.


"Ada apa sayang? "


"Kakaaaa, mau cokelat kocok" rengek Sin.


Darren mengernyit, "cokelat kocok? "


"Iya, cokelat kocok. Itulah ditempat kaka beli cake ini, kan ada cokelat kocok. Beliin"


"Kaka pikir kamu kenapa? Yasudah, besok kaka belikan ya" ucap Darren.


"Aaaaaa sekarang" Sin kembali merengek.


"Kaka sedang dirumah sakit, sayang"


"Ouhhh, kaka menjenguk Carissa? Apa operasinha lancar? "


"Operasinya masih lusa anak nakal! Dasar pikun"


"E-eh, hehehehe"


Linea menyenggol lengan sang suami, memberikan kode untuk menyalakan spiker.


"Bisnis mu lancar anak nakal? " Tanya Linea. Suara tepukan tangan menyahut. "Lancar, non. Lancar banget dah pokoknya" sahut salah satu suster.


"Lama-lama tempat Rehab berubah jadi gedung curhat motivator" timpalnya lagi dengan kesal.


Linea dan yang lainnya tertawa. "Ada-ada aja" jawab linea.


"Ihhhh, suster. Gak boleh sirik gitu dong" ujar Sin kesal.


"Ya abisnya kamu, kami dijadiin assisten doang tapi gak di gaji"


"Issshhh ngomong dong. Nih udah ya"


"Nah gitu dong. Senang berbisnis dengan anda" ucap kedua suster kompak. "Nyinyinyi"


.....


T B C?


BYE!