
Aldre melempar pulpen ditangannya dengan kesal. Ia sudah muak bermain kucing-kucingan seperti ini, sampai kapan mereka akan terus berdiri seperti orang bodoh? Dan lagi, kenapa Isabella dan kaka iparnya tidak juga bergerak?
Sialan, mereka membuatnya pusing!!
"Brengsek! Apa mereka pikir kita sedang bermain benteng? Bajingan!! "
"Jika aku menyerang lebih dulu aku akan mati ditangan Isabella! Aku butuh tau rencana wanita itu! AAARRRGHHHH! " Teriaknya marah.
"Dan lagi apa yang daddy lakukan? Kenapa dia tidak juga menarik bajingan Roxy kembali ke istana?! "
Setelah pulpen, kini ponselnya yang lelaki itu lemparkan. "Damn! Kenapa daddy tidak bisa dihubungi? "
"Hahhhh, dasar Mafia brengsek!! "
(Terus saja mengumpat seperti orang bodoh Aldre, kau tidak tau saja apa yang terjadi pada ayah angkatmu.)
Kembali pada layar didepannya. Aldre menatap seksama gambar didalam layar tv nya, yang tengah menampilkan sahabat kesayangannya-- ohh sorry, mantan sahabat maksudnya, tengah bergoyang indah di atas tubuh seorang lelaki yang tak lain adalah sepupu angkat keparatnya.
Alunan musik merdu yang berasal dari kedua orang itu membuat Aldre yang tadi marah-marah tidak jelas kini tertawa keras, tangannya memukul meja dengan kencang.
Aldre bersiul heboh, menikmati live streamingnya yang tak terduga. "Bukankah akan bagus jika aku kirimkan pada si sulung Forist? "
Dengan cepat jari-jari lelaki itu bergerak diatas keyboard, menyalin video tersebut dan mengirimkannya pada putra sulung keluarga Forist, Darren Forist. Sebelum itu, ia lebih dulu menghapus lokasinya agar tidak terdeteksi.
"Nah, mari kita kirim wussshhhh"
.
.
.
.
Kembali ke Mansion Courtland
Darren tersentak akibat getaran ponsel di saku celananya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak disangkanya, Aldre! pesan tersebut berisikan sebuah Video.
"Aldre" gumam Darren. Semua orang menoleh, menatapnya penasaran. "Aldre mengirim pesan" lanjutnya lagi.
Dengan cepat Darren membukanya, Galih dan Jason mendekat. Sebuah Video. Darren memutar Video tersebut, mata ketiganya langsung membelalak, musik indah yang tadi Aldre dengarkan kini didengar mereka.
"What the ****!! " seru Jason.
"Sin... " air mata Darren kembali menetes, tidak menyangka sang adik berani melakukan hal seperti ini.
"Berikan pada paman, Galih" ucap tuan Revano. Galih menyerahkan ponsel Darren pada tuan Revano.
Tuan Revano terkejut melihat gambar dihadapannya, tubuhnya tersentak kecil. Ara bergegas menghampiri sang papah, tapi Jason dengan cepat menghalanginya untuk mendekat, takut salah satu Alter ego Ara akan keluar.
"Ada apa? " Tanya Ara cemas. Melihat reaksi keempatnya membuat pikiran buruk Ara menyerang. "Ka Galih, ada apa sebenarnya? Kenapa Ka Darren bereaksi seperti itu? " menatap Galih bingung, tapi Galih hanya diam.
Ara kembali menatap sang papah, meminta penjelasan. "Pah... "
Carissa hanya terdiam, otaknya berpikir kegilaan apa lagi yang dilakukan sahabatnya itu.
"Baik pah" Justin berbalik, berjalan keluar menuju kamarnya, ponselnya ia tinggalkan disana.
"Apa Kevin bisa dihubungi, Galih? "
"Tidak bisa paman, ponselnya tidak aktif sejak semalam" ucap Galih.
"Bagaimana dengan Jovan? " Tanya Leandra. "Jovan hampir tidak pernah memegang ponsel, Leandra. Isabella yang menyimpan ponselnya" kali ini nyonya Sofia yang menyahut setelah terdiam sejak tadi.
Davide menatap sang adik, "Jas!" panggilnya. "Ya" sahut Jason. "Bawa Darren ke ruang santai, biarkan dia menenangkan dirinya dulu" Jason mengangguk, meraih lengan sahabatnya yang terlihat shock.
Darren menepis tangan Jason, juga melepaskan pegangan Galih pada lengannya dengan kasar. "Aku akan pulang, aku harus bicara dengan orang tuaku" ucapnya dengan lemah.
"Darren... "
"Tidak ka David, aku haru memberitahu orang tuaku. Aku pamit! " Darren menggerakkan kakinya dengan cepat. "Ikuti dia! " perintah David.
"Ayo, Gal"
"Sebentar" Galih berbalik, mengambil ponselnya dan juga kunci mobil milik sang ayah. "Ayo, ka" kemudian keduanya berlari menyusl Darren yang sudah lebih dulu pergi.
.
.
.
.
"Aku tidak menyangka kau sehebat ini, Sin" puji Roxy yang kini mengancingkan kemejanya. Sin mendengus, memutar bola matanya malas. "Ini pengalaman pertamaku" ujarnya santai.
Gerakam Roxy terhenti, menatap tidak percaya gadis disebelahnya. "What?! Are you kidding me!" Serunya heboh.
Sin tertawa geli, kepalanya sampai mendongak kebelakang. "Tentu saja tidak bodoh! Yang benar saja"
"Sialan!! "
"Tunggu, aku dengar kakak dan ayahmu adalah seorang pemuka agama yang begitu taat, bagaimana bisa kau seliar ini? "
"Ayolah Roxy, apa yang kaka dan ayahku lakukan aku tidak perlu mengikutinya bukan? " ucap Sin sarkas.
Roxy mengangguk kecil, "kau benar. Keluarganya malaikat, dia lebih memilih menjadi iblis, benar-benar sialan hahahaha"
"Diam kau bajingan!! "
.....
Terkadang aku berharap aku tak pernah bertemu denganmu. Karena dengan begitu aku bisa tidur nyenyak di malam hari tanpa tahu ada orang sepertimu di luar sana.
.....
T B C?
Bye!