
Flashback
Enam tahun lalu
Ara berlari memasuki sekolah dengan semangat, senyum manis tidak luput dari wajah cantiknya. Membalas setiap sapaan yang diberikan padanya.
Senyuman Ara semakin lebar begitu melihat ketiga sahabatnya. Gadis itu melambaikan tangan, kemudian berlari menuju ketiganya.
"Jangan berlari seperti Ara, kau bisa jatuh nanti" tegur Aldre. Ara memasang cengirannya. "Ada apa? Kau terlihat bahagia hari ini" Tanya Aldre.
"Ara seneng banget, Al" serunya antusias.
"Oh iya? Coba cerita"
"Kemarin, Thomas nembak Ara" Ara berseru riang. Wajahnya terpancar kebahagiaan.
Untuk sesaat Aldre terdiam, begitupun Carissa dan Sinfanka. "Jadi, kamu sama Thomas sudah jadian? " Tanya Sin. Ara mengangguk semangat, masih dengan senyum manis diwajahnya.
Aldre menatap Ara dengan pandangan yang sulit diartikan. Hatinya srolah tertancap pisau mendengar pernyataan sahabatnya.
Carissa menatap cemas Aldre, tau apa yang dirasakan lelaki itu. Sedangkan Sin langsung memeluk Ara, mengucapkan selamat atas hubungannya. "Selamat ya Ara"
"Terimakasih Sin"
"Aldre!!" Carissa berteriak, memanggil Aldre yang pergi begitu saja. Sin dan Ara menatap bingung. "Aldre kenapa? " Tanya Ara. Carissa menggeleng, tanda dirinya tidak tahu.
Beberapa bulan kemudian
Hubungan Aldre dan Ara merenggang. Jika ada Ara makan Aldre tidak ada, dan jika ada Aldre makan Ara tidak ada, begitu seterusnya.
Ara nampak murung, dia tidak mengerti kenapa Aldre menjauhinya. Terakhir kali mereka berbicara Aldre berteriak marah padanya dan memintanya menjauhi Thomas. Ara tidak tau alasannya, jadi dia menolak permintaan Aldre.
Menurut Ara Thomas baik, tidak ada yang salah dengan lelaki itu, hanya sedikit kasar ketika marah. Ara menyayangi Thomas, tapi ia juga menyayangi Aldre.
"Ara" panggil Carissa. Ara menoleh, menatap sedih kearah sahabatnya. "Sebenarnya Aldre kenapa Carissa? Kenapa Aldre begitu benci dengan Thomas? "
Carissa terdiam, tidak tau harus menjawab apa. "Ara sabar ya, mungkin Aldre masih butuh waktu"
"Carissa selalu bilang begitu. Ini sudah berbulan-bulan, tapi Aldre tetap sama"
Tiba-tiba Ara terdiam, pandangannya lurus kedepan, Carissa yang melihat itu menoleh ke arah yang sama. Didepan sana, Aldre dan Sin sedang bercanda gurau. Mereka seolah bahagia dengan interaksi mereka.
Ara berjalan cepat dengan kesal kearah keduanya, Carissa seketika panik, mengejar Ara dengan cepat. "Ara tunggu!! "
Ara sampai, berdiri tepat dibelakang Aldre, menarik tubub lelaki itu untuk berbalik menghadapnya. Tangannya melayang menampar Aldre, menciptakan bunyi yang begitu nyaring.
Carissa dan Sin terkejut dengan tindakan Ara. Aldre menatap tajam gadis dihadapannya, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Ara seorang atlit karate, jelas tamparannya akan sekuat itu.
"Kenapa Aldre ngejauhin Ara? Apa salah Ara? Aldre bersikap kaya gitu ke Ara!! "
"Bukannya Aldre sudah bilang, kalau Aldre gak suka Ara pacaran sama Thomas"
"Kenapa Aldre benci Thomas? "
"Karena dia gak baik, Ara"
"Tapi Thomas baik sama Ara, Aldre gak boleh berpikiran buruk sama seseorang! "
"Ara yang gak tau Thomas seperti apa! Dia udah nipu Ara"
"Aldre bohong!! "
"Kapan Aldre pernah bohong sama Ara?! Harusnya Ara dengerin Aldre!! "
Aldre pergi begitu saja. Tubuh Ara bergetar hebat, gadis itu mulai menangis kencang. Sin menatap kesal, Ara menganggumya dengan Aldre.
Ara menggeleng, "Ara gak mau pulang hiks, ada ka Bella dirumah hiks nanti Ara dimarahin"
"Yaudah, kita kerumah Carissa aja ya" Ara mengangguk.
Satu bulan kemudian
Hubungan Ara dan Thomas memburuk, perlahan-lahan Ara mulai tau sosok seperti apa Thomas. Berkali-kali Ara meminta putus, tapi Thomas tidak mengindahkna perkatannya.
Hari ini Thomas membawa Ara ke markas tempat biasa ia dan teman-temannya berkumpul. Ara memandang satu persatu setiap orang disana. Seketika hatinya diliputi perasaan takut.
"Kalau kamu mau keluar dari sini, kamu harus turuti kemauan kami" ujar Thomas.
"Sekarang buka pakaian kamu, kamu harus melayani kami semua" Thomas menarik paksa tubuh Ara untuk bangkit. Ara memberontak, meninju wajah lelaki bajingan itu, membuatnya terhuyung kebelakang.
"Brengsek!! " Ara mengeluarkan pisau lipat dari saku celana. Benda itu selalu dibawa kemanapun ia pergi.
Thomas dan teman-temannya tertawa, merasa lucu dengan tingkah Ara. Gadis itu pikir bisa melawan mereka dengan benda kecil itu? Konyol.
"Ayolah sayang. Lebih baik menerut pada kami ok? "
"Mundur!!! "
Salah satu teman Thomas memberi kode untuk menyerang gadis itu. Thomas memeluk Ara dari belakang, membuang pisau ditangannya. Ara memberontak sekuat tenaga, tetapi lelaki itu justru melemparnya kesofa.
Merobek paksa hodi yang Ara kenakan, beruntung Ara mengenakan kaos didalamnya. "Lepas!! Thomas lepasin!! "
"Sssttt, menurutlah dan aku tidak akan menyakitimu"
"Gak!! Lepasin Thomas aku mohon hiks"
"Udahlah langsung sikat aja! " seru salah satu diantara mereka.
Mereka mulai mengerubungi Ara, mengoyak pakain gadis itu. Namun seketika semuanya hening, saat darah mengalir keras dari tubuh Ara.
Bukan, bukan Ara yang terluka, tapi lelaki yang berada di atas tubuhnya. Lelaki itu berhenti bergerak, dengan sebuah jari yang menembus punggungnya.
Ara mendorong lelaki itu menjauh. Mereka yang melihat terkejut. Ada sebuah lubang cukup besar diperutnya, juga tangan Ara yang berlumuran darah.
Ara bangkit dari posisi berbaringnya, lidahnya terjulur menjilati darah ditangannya hingga bersih. Menoleh pada sekumpulan bajingan yang menatap takut kearahnya, lalu Menyeringai menyeramkan.
Hanya ada raungan kesakitan dan genangan darah yang menghiasi seluruh ruangan. Ara seolah kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri, menerjang mereka semua tanpa ampun. Sayang sekali Thomas berhasil kabur dari sana.
Lima menit sebelum Aldre dan yang lainnya datang, Ara jatuh pingsan dengan tubuh berlumuran darah. Tanpa tau ada seseorang yang bersembunyi dengan tubuh bergetat takut dipojok ruangan.
BRAK BRAK
Aldre mendobrak paksa pintu besar dihadapannya, bergegas masuk begitu pintu berhasil dibuka. Tapi seketika Tubuhnya berhenti saat melihat mayat yang berserakan.
"A-apa ini? "
Sejak saat itu kondisi Ara mulai tak terkendali. Mengamuk tanpa henti dan berkali-kali berusaha menyakiti dirinya.
Aldre juga memilih pergi tanpa pamit mengasingkan dirinya sendiri ditempat yang tidak diketahui siapapun"
FLASHBACK OFF
.....
T B C?
Bye!