
Sedikit penjelasan tentang Sosiopat, ya!
Ini aku ambil dari websote halodoc.com
"Sosiopat adalah jenis gangguan kepribadian yang ditandai dengan perilaku dan pola pikir antisosial. Karakter seorang sosiopat umumnya adalah perilaku yang eksploitatif, melanggar hukum, tidak peduli dengan orang lain, dan kasar.
Mereka juga cenderung punya pemikirannya sendiri yang tidak logis dan tidak bisa diprediksi. Seorang sosiopat biasanya tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Ia justru cenderung mengabaikannya, dan hanya fokus pada pemikirannya pribadi, serta mengesampingkan orang lain."
.
.
.
Aldre baru saja tiba di mansion keluarganya tepat saat waktu menunjukan pukul lima sore, kebetulan pekerjaannya selesai lebih awal.
Sejak kembali dari mansion Courtland, lelaki itu lebih sering tidur di rumah daripada apartmentnya.
Begitu masuk kedalam, Aldre disambut oleh keponakan cantiknya yang berlari kearah nya. Lelaki itu berjongkok, guna menyambut gadis kecil kesayangannya.
"Welcome home, paman" seru Karena senang.
"Thank you, baby"
Karena mengecup kedua pipi Aldre bergantian. Yang dibalas Aldre mengecup dahi gadis kecil itu.
"Kalau begitu paman mandi dulu, ya"
"Ok"
Karena kembali turun dari pangkuan Aldre, berlari kembali menuju saudara-saudaranya. Aldre melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Setelah selesai makan malam, semua orang berkumpul di ruang keluarga, sedikit berbagi cerita tentang kegiatan mereka hari ini.
Aldre tidak menghiraukan sedikitpun keluarganya yang sedang mengobrol, lelaki hanya fokus menatap Harena yang saat tengah bermain dengan Kiransa.
Lebih tepatnya menatap kalung yang ada dileher gadis itu. Aldre merasa kalung itu tidak asing baginya.
"Aldre, ada apa? " tanya Ana. Wanita itu sadar adik iparnya itu terus menatap tajam putrinya.
Aldre melirik kaka iparnya, "siapa yang memberikan kalung itu pada Harena?"
"Kalung? " Ana menatap sang Putri, ia batu teringat kalung indah yang dipakai putrinya. "Ouh, kalung itu. Karena bilang dari Jovan, oleh-oleh katanya"
"Ada apa Aldre?" gantian Kevin yang bertanya.
Nafas Aldre memburu, ia hampir melupakan kalung kesayangannya yang dicuri bocah tengik itu.
"Kenapa kau terlihat marah, Al? " seru Galih heran.
"Harena" panggil Aldre. Karena menoleh, menghampiri sang paman. "Ya, paman"
"Boleh paman liat kalungmu?"
"Mm"
Aldre meraih kalung itu, memperhatikannya dengan seksama. Tidak salah lagi kalung itu memang miliknya. Tapi masalahnya adalah liontinnya berbeda. Dasar bocah tengik sialan! Dia menyembunyikan liontin aslinya.
"Boleh paman minta?"
"Emm, jangan. Ini dari ka Jovan, paman"
"Ya, paman tau. Tapi kalung ini milik paman, ka Jovan mencurinya dari kamar paman"
"Jadi bisakah paman memintanya kembali?"
"Benarkah?"
Aldre menampilkan eskpresi sedihnya, membuat Harena dengan tidak rela memberikan kalung itu kepada sang paman.
"Kau yakin itu kalungmu nak?" tanya Rayyan. Tidak tega melihat wajah cucunya yang bersedih.
"Iya! Tapi liontinnya bukan. Bocah itu menukarnya. Sialan!"
Aldre merogoh ponselnya dengan kasar. Mendial satu nama disana, menempelkan ponselnya ke telinga.
"Ya Aldre" ucap sebuah suara diseberang sana.
"Ka Justin"
Ya Aldre memang menghubungi Justin. Karena Jovan hanya akan patuh pada sang ayah.
"Hm"
"Apa ka Justin ada dirumah?"
"Ya, ada apa?"
"Bisakah aku minta tolong"
"Katakan"
"Saat menjalani misi dengan ka Bella, Jovan menyelinap masuk kekamarku, dan aku yakin ka Justin sudah tau"
"Lalu?"
"Dia mencuri kalung kesayanganku. Putramu memberikannya pada Harena, tapi dia mengangganti liontinnya"
"Bisakah ka Justin membantuku untuk mendapatkannya kembali"
Aldre bida nendenvar sedikit geraman kesal dari lawan bicaranya. "Tentu, akan aku berikan padamu jika aku sudah mendapatkannya"
"Terimakasih ka Justin, maaf mengganggu waktumu"
"Tidak sama sekali" Panggilan tertutup
"Jovan tidak mengatakan bahwa ia menemukan sesuatu dikamarmu" ucap Kevin.
Tangan yang menggenggam kalung Indah itu diremat kencang. Jovan terlalu lancang, harusnya bocag itu tidak mengambil apa yang bukan miliknya.
.
Mansion Scander
Setelah mendapat telpon dari Aldre, Justin dengan cepat melangkah menuju kamar putranya. Ia mendobrak kencang pintu cokelat didepannya dengan satu kaki.
Sang pemilik kamar terkejut. Jovan yang tengah belajar, menoleh takut pada sang ayah.
Dalam sekali lihat bocah itu tau sang ayah tengah murka padanya. Tapi kali ini ia tidak tau apa kesalahannya.
"A-ayah"
"Kau mencuri sesuatu dari kamar pamanmu, little prince?" Justin menatap tajam putranya itu.
Jovan tidak menjawab, matanya bergetar ketakutan. Darimana ayahnya tau?
"Jawab pertanyaan ayah, son! Kenapa kau hanya diam?" ucap Justin datar.
"Ma-maaf, ayah"
"Dimana kalung itu?"
"Harena! Jovan memberikannya pada Harena" jawab Jovan pelan.
"Benarkah?" Justin memeringkan kepalanya, netranya menggelap. Ia tidak suka jika ada yang berani berbohong padanya.
"Kau tau ayah bukan? Ayah benci pembohong!"
"Tapi Jovan tidak berbohong, ayah" sergah Jovan cepat.
"Kau mengganti liontinnya!"
"APA KAU BELAJAR JADI PENCURI SEKARANG?!!!"
BUG!!
"Booo!!!"
Tubuh Jovan terlempar cukup keras setelah mendapat pukulan telak dari sanga yah diwajahnya. Sudut bibir bocah itu sobek, bahkan mengeluarkan darah.
Isabella yang baru saja tiba menjadi panik, saat Putri bungsunya mengatakan bahwa ayahnya mengamuk. Dan semaki panik saat suaminya memukul wajah sang putra.
"Apa yang kau lakukan?!" ujar Isabella marah.
Justin menatap istrinya murka, "tanyakan pada putramu! Aku tidak pernah mengajarinya menjadi pencuri!!"
"Pencuri? Apa maksudmu?" wanita cantik itu menatap suami dan anaknya bergantian. "Jovan!" tuntunya minta penjelasan.
"Maad bunda" masih dengan posisinya yang tersungkur dilantai, Jovan tidak berani bergerak sedikitpun.
"Apa yang kau lakukan?"
"Jovan.... Mengambil sesuatu dari kamar paman Aldre"
"Apa?"
"Jovan menemukan sebuah kalung bunda. Kalung itu dipajang diatas dinding. Maafkan Jovan, kalungnya sangat Indah jadi Jovan mengambilnya"
"Apa kau sudah gila?!"
"Sekarang dimana kalung itu?"
"Jovan memberikannya pada Harena"
Isabella memijat pelan pelipisnya, lalu kembali menatap suaminya. "Bukankah seharusnya kalung itu sudah kembali pada pemiliknya?"
"Dia mengganti liontinnya Isabella! Apa kau ingin menciptakan masalah?!!" Murka Justin.
Isabella memejamkan matanya erat. Ini salahnya, harusnya ia tidak menfajak sang putra saat itu. Dan sekarang suaminya mengamuk.
Demi tuhan.... Ia benar - benar lelah saat ini.
"Berikan Liontinnya Jovan!! NOW!!!" bentak Isabella.
Bocah 13 tahun itu, merogoh saku celananya. Mengambil permata berbentuk hati yang ia simpan disana, dan menyerahkannya pada sang bunda.
"Kau tidak boleh pergi kemanapun sampai kau sadar kesalahanmu!" putus Justin mutlak.
Kemudian suami istri itu keluar dari sana, meninggalkan Jovan tanpa bicara apapun lagi.
Jeno, Jessly, dan Valerie berlari masuk kedalam kamar. Jeno dengan sigap membantu adik kembarnya bangkit, menuntunnya untuk duduk disofa.
"Ambil obat dan air hangat, Jes" perintah Jeno.
Jesslyn menurut, berlari kecil kedalam kamar mandi. Tidak lama gadis itu kembali dengan barang-barang yang sebelumnya diminta Jeno.
"Tahan sebentar, aku akan mengompres lukamu" ucap Jeno.
Suara ringisan kecil keluar dari bibir Jovan. Pukulan ayahnya memang tidak main-main. Pantas jika sang bunda saja kalah.
"pelan-pelan " ringis Jovan.
"Aku sudah pelan, bodoh. Makannya jangan mencari masalah" balas Jeno dengan sewot.
"Ck! Bawel"
PLAKK
.....
T B C?
BYE