
"Jeno masih marah sama ayah?" dengan gerakan pelan Justin mengambil tempat di samping sang putra.
"Ayah minta maaf. Maaf karena sudah menjadi egois dan pembohong. Maafkan ayah nak" Justin kembali berbicara meski Jeno sama sekali tidal merespon perkataannya.
"Jika ayah dan bunda jadi bercerai, ayah akan keluar dari rumah dan pergi jauh. Ayah tidak akan muncul lagi di hadapan kalian, tapi tolong maafkan ayah. Ayah tidak akan bisa pergi dengan tenang jika kalian masih marah pada ayah"
Justin menundukkan kepalanya menatap ke lantai. Istrinya sudah tak mau lagi berbicara dengannya, begitupun anak-anak nya yang lain. Jeno adalah harapan satu-satunya yang ia miliki.
"Selama ini.... Jeno selalu mengagumi sosok ayah yang menurut Jeno sangat luar biasa. Tapi nyatanya ayah bahkan lebih buruk dari seorang pecundang"
Jeno menggeram kesal, apakah selama ini ayahnya selalu seperti ini jika menghadapi masalah.
Spontan Justin kembali menegakkan kepalanya dan menatap kearah Jeno yang masih menatap lurus ke depan. "Nak..."
"Apa ayah selalu seperti ini setiap menghadapi masalah?! Bersikap seperti pecundang!"
"Yang selalu ayah lakukan adalah menekan bunda mu agar patuh dan menurut pada ayah. Itu yang ayah lakukan setiap kali kami memiliki masalah"
Decakan keras meluncur begitu saja dari mulut Jeno. Ekspresi wajahnya yang semula datar berubah menjadi marah.
"Sekarang bagaimana ayah menekan bunda agar patuh pada ayah hah?!"
Justin menggeleng. "Kamu dan saudara-saudara mu adalah harapan ayah saat ini"
"Omong kosong! Apa semua keluarga Scander adalah seorang pecundang?"
"Nak.... Maafkan ayah. Ayah tidak pernah bisa menepati janji ayah pada bunda mu"
"Nyatanya ayah dan bunda sama saja, kalian pembohong!"
Justin hanya bisa menunduk pasrah dan menerima segala amarah yang Jeno tumpahkan padanya. Bagaimana pun, dirinya adalah sumber dari semua masalah ini.
"Jika kalian ingin bercerai silahkan bercerai! Tapi jangan pernah berpikir bahwa aku masihlah anak kalian!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Jeno beranjak dari kursinya dan berlalu pergi dari sana. Meninggalkan sang ayah dengan air mata yang siap mengalir.
*
Tanpa Justin dan Jeno sadari semua orang ternyata mendengar pembicaraan mereka, tapi tidak berani berkomentar apa pun.
Erick hanya bisa menatap sedih punggung kekasihnya yang sudah berjalan menjauh. Ternyata hidup di dalam keluarga Scander tidak semenyenangkan yang ia pikirkan selama ini.
"Berat ya jadi anak sulung keluarga Scander" Erick bergumam kecil.
Di lain sisi, Kevin hanya bisa menatap lekat putra sulungnya. Ketika sahabatnya berusaha menyelesaikan masalah dalam rumah tangga mereka, dirinya justru tidak bisa melakukan apapun.
Kevin yakin Geo pasti mendengar segala perkataan yang keluar dari mulut Jeno, tapi putranya itu bersikap seolah tidak perduli dan tidak mendengar apapun.
Geo hanya fokus pada cemilan di depannya dari pada menanggapi pembicaraan Jeno dan ayahnya.
"A-aahh, habisnya kamu fokus sekali dengan makanan mu" Kevin mengelak sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal.
Geo menatap daddy nya itu dengan tatapan malas. "Daddy ini tidak jelas. Kenap papah bisa menikah dengan daddy?!"
"HEH!!"
"Kkkkkkk, sudah-sudah kalian baru berbaikan jangan membuat daddy mu kembali kesal, Geo" lerai Galih.
"Daddy yang mulai duluan" ucap Geo membela diri.
Kevin menatap kesal putranya. "Bocah ini benar-benar"
**
"Jika kau ingin tau banyak tentang bunda mu, maka tanyakanlah pada papah mu. Tapi jika kau ingin tau tentang daddy mu, paman bisa menceritakan segalanya pada mu"
Jeno mendongak, mendapati kaka kedua bundanya berdiri tepat di belakangnya.
Saat ini Jeno tengah berjongkok di pinggir danau buatan yang berada di taman belakang mansion Courtland. Bersama seekor harimau putih besar di sebelahnya yang sudah berusia cukup tua. Eyon, harimau putih milik Isabella.
"Seberapa hancur hidup ayah selama ini paman?" Tanya Jeno.
Javin berjongkok di samping Eyon, mengelus bulu putih milik kucing besar yang selama ini lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya karena Isabella yang bersekolah tanpa pernah pulang selama bertahun-tanu, lalu langsung menikah begitu ia lulus.
Meski begitu, Isabella terus memantau para kesayangannya meski dari jauh.
"Isabella adalah alasan satu-satunya Justin untuk tetap hidup. Alasan Justin masih mempertahankan nyawanya hingga kini.
Jika Isabella pergi dari hidupnya maka ayah mu akan pergi dari dunia ini"
Jeno terdiam, apa yang terjadi pada ayahnya kenapa beliau sampai berpikir seperti itu?
"Paman.... Ayah...."
"Justin adalah putra tunggal keluarga Scander. Putra tunggal Jezin dan Patricia"
Kening Jeno mengkerut dalam, bukankah paman Andreas adalah adik ayahnya? Kenapa pamannya ini malah mengatakan bahwa ayahnya adalah putra tunggal keluarga Scander?
"Lalu paman Andreas?"
"Dia bukan anak kandung Jezin. Andreas adalah anak dari hasil perselingkuhan Patricia dulu"
****
See you next part!