
Setelah memakan waktu 8 jam perjalanan di udara, Galih dan seluruh keluarganya juga keluarga Courtland tiba di Frankfurt Internasional Airport, pukul 7 pagi waktu Jerman.
"Kita langsung ke Cartesy kan?" ujar Isabella. Revan menggeleng, "kita istirahat dulu sayang, nanti saat makan siang baru kita temui Jeno ya" ucapnya lembut.
"Tapi pah--" belum sempat Isabella melanjutkan ucapannya, Revano sudah lebih dulu menyela. "Ayo. Kasian anak-anak"
Akhirnya Isabella hanya bisa pasrah dan mengikuti sang papah, padahal ia sudah tak sabar untuk bertemu Jeno.
**
Geo meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku setelah tidur dengan posisi tak nyaman. Hari ini keluarganya dan keluarga Jeno akan datang. Sepertinya mereka juga sudah mendarat di Jerman.
Geo melangkah keluar dari kamar setelah mencuci wajah dan menggosok gigi, ia akan mandi setelah sarapan nanti.
Baru saja melangkah keluar dari kamar, aroma masakan sudah menusuk masuk ke dalam hidungnya.
"Si Jeno nih pasti" gumamnya sambil berjalan cepat menuju dapur. "Tuh kan bener"
Bisa Geo lihat tubuh tegap Jeno yang tengah berkutat dengan kompor dan panci dari balik counter dapur.
"Wihhh, sedep banget pagi-pagi. Berasa di siapin sarapan sama ayang" seruan itu meluncur dari bibir Kanfa yang sepertinya juga baru keluar dari kamar.
Geo mendengus. "Ayang pala bapak kau"
"Anjing wkwkwk"
Kanfa Agara, cowok ganteng tapi tengil asal Chicago. Kanza sebenarnya adalah teman kecil Geo dan Jeno, tapi mereka sudah lama tak bertemu karena Kanfa yang tinggal di Mexico bersama nenek dan kakeknya, orang tua dari sang mommy.
Kanfa adalah putra sulung Kenzo dan Felicya. Keduanya merupakan sahabat Isabella dan Galih yang sama-sama anggota The Ace saat kuliah dulu. Tapi mereka juga jarang bertemu karena Kenzo dan Felic yang tinggal di Chicago.
"Coba bayangin kalo kita gak se Roommate sama Jeno? Beh apa gak abis tabungan kita buat makan tiap hari" seruan lain muncul dari balik pintu balkon.
Hiro Mauvel, putra tunggal Saka dan Heska. Sebenarnya Hiro adalah sepupunya Jeno, karena sang ibu Heska masih satu darah dengan Isabella.
"Emang kita bertiga mah gak ada yang bisa di andelin dah" balas Geo.
"Lo ngapain di balkon, Ro?" Tanya Kanfa. "Nyebat hehehehe" jawab Hiro dengan cengiran tanpa bebannya.
Geo mengambil serbet di atas meja lalu melayangkannya pada kepala Hiro. "Pagi-pagi udah nyebat! Gua bilangin bapak Lo ye! Lu di amatin ama gua ya bangsat, jangan ngadi-ngadi dah anjing!"
"Iye-iye sekali doang ini. Gak nyebat ampe besok"
"Awas Lo ye. Gua lempar Lo dari balkon!"
"Kejam bener!"
"Anaknya black sweeper wkwkwk" sahut Kanfa. "Yee si anjing" balas Geo.
"Udah-udah berentem terus pagi-pagi, nih makan" Jeno melerai perdebatan ketiganya.
Karena keasikan berdebat mereka sampai tidak sadar bahwa Jeno telah menyelesaikan masakannya bahkan selesai menyiapkan makanan untuk mereka.
"Eh ngomong-ngomong, Rashel gak jadi masuk Cartesy?" Tanya Kanfa.
"Nanti dia nyusul bareng Jovan" jawab Hiro yang hendak menyuap makanan ke mulutnya. Kanfa mengangguk paham.
"Lucu ya, padahal geng orang tua kita dulu ada cewenya, tapi ini anaknya malah cowok semua kecuali Jesslyn" ucap Geo.
"Mangkannya Jesslyn gak mau gabung ama kita" seru Jeno mengingat sang adik yang menolak bergabung dengan The Ace.
Brakk!
Jeno menggebrak meja cukup keras membuat ketiga sahabatnya terkejut. "Nah itu Lo tau, Ro. Kesian adek gua kalau gabung ama kita. Otak kita gak ada yang lurus soalnya"
"HAHAHAHAHA ANJING WKWKWK"
**
"Kanfa sama Hiro udah masuk Cartesy ya?" Tanya Jesslyn pada Jovan di sebelahya.
Jovan, Keano, Erick, Brian dan Virzan menoleh cepat. "Emang?!" Seru mereka kompak.
"Loh kok aku nanya kalian malah balik nanya sih" ucap Jesslyn kesal.
"Iya, Hiro sama Kanfa udah masuk Cartesy. Paman Saka bilang Hiro maunya masuk tahun ini, kalo Kanfa karena dia taunya Geo masih di sana mangkannya dia ikut masuk tahun ini" ucap Jeven menjawab pertanyaan sang adik.
"Ouh"
"Abang fikir kalian tau loh"
Ke enamnya kompak menggeleng. "Kalo Rashel?" tanya Brian.
"Rashel menyusul bareng kalian nanti karena dia kan sempat telat masuk sekolah kemarin"
"Ka Virzan, ajarin main ini dong" itu suara Marvel, adik bungsu Virzan yang sifat nya mirip banget sama daddy nya.
"Main apa?" tanya Virzan. Marvel menyodorkan ponselnya pada sang kaka yang menampilkan game yang baru saja selesai downloadnya.
"Oh gampang ini. Nanti kaka ajarin ya" ucap Virzan. Kening Marvel mengkerut. "Kok nanti?"
"Emangnya tugas sekolah kamu udah selesai? Nanti di omelin papo loh, dari kemarin main hp terus"
"Tapi janji nanti di ajarin ya"
"Iya janji. Sana selesain dulu tugas sekolahnya"
"Oke" Marvel pun berlalu pergi dari sana.
"Anjai sayang adekkkk uhuyy" goda Jovan pada sepupunya itu. "Halah biasanya juga ribut mulu kerjaannya, pencitraan doang itu" ejek Brian.
"Yee si anjir. Namanya juga kakak adek" ujar Virzan membela diri.
"Hilih"
"Tuh Jov kaya gitu. Kamu mah sama Jeno ribut mulu" Jesslyn berseru sambil menunjuk Virzan.
"Dih dih. Kakak adek akur tuh gak asik. Kita kan pecinta keributan" Jovan berucap tanpa beban.
"Kesian Geo nanti kalo Jovan udah di Cartesy. Apa gak sawan tiap hari ngeliat adek kaka ribut" seru Erick.
"Heh!! Kaka ipar kurang asem!" protes Jovan yang tak terima.
"WKWKWKWK"
****
SEE YOU!