
Tenda-tenda pengungsian mulai dibangun untuk para warga. Semuanya bergotong royong. Sebagian warga membantu mengumpulkan kayu untuk dijadikan penyangga, sedangkan para pasukan menyiapkan alas dan atap.
Untuk sementara mereka hanya akan membuat tempat untuk tidur malam ini. Karena pengungsian yang disiapkan masih belum selesai.
"Kembalilah lebih dulu, Kevin. Bawa mereka keruang bawah tanah! " perintah tuan Revano. "Ajak juga istrimu"
"Harusnya yang pulang lebih dulu itu papah. Sama sekali tidak berguna disini" Isabella menatap papahnya penuh permusuhan. Wanita itu masih kesal dengan kejadian tadi.
"Harusnya kamu senang. Jika papah tidak datang, kalian tidak akan menang dengan mudah" ucap Revano bangga.
"Berisik!!! "
Devan menggeleng. Sudah tidak terkejut dengan tingkah usil papahnya. Jangan dipertanyakan lagi darimana keusilan yang didapat Isabella. Jika Isabella senang mengusili saudara-saudaranya, maka sang papah senang mengusilinya.
"Biasanya kau yang menjahili kami, sekarang kau nikmati balasannya" sambar Devan.
"Nyinyinyi. Kenapa? Kau tidak bisa membalasku? Dasar anak manja" balas Isabella kesal.
"Heh!! " Devan menunjuk adiknya dengan kesal. Yang dibalas menantang wanita itu.
"Sudahlah, kalian ini sudah tua masih saja ribut" lerai Revano.
"Berisik!!! " sahut keduanya bersamaan.
Leo menggelengkan kepalanya. "Mereka bertiga memang tidak boleh disatukan" gerutunya. Harves terkekeh kecil, setuju dengan yang dikatakan sahabatnya.
.
Rumah sakit xx
Kondisi Carissa mulai membaik, tapi gadis itu masih belum sadar. Jason senantiasa menjaga adiknya, lelaki itu tidak beranjak sedikitpun. Bahkan sejak awal dia belum pulang sama sekali.
"Makan dulu, ka. Kamu belum makan sejak semalam" Sena mengelua pundak sang suami. Sudah yang kesekian kalianya ia membujuk suaminya untuk makan, tapi yang diajak bicara hanya melamun.
"Ka! " Jason tersentak kaget. Sena menepuk pundaknya lebih keras. "Makan dulu"
"Hm" mengambil kotak makan yang diberikan sang istri, Jason menyuap mulutnya dengan malas.
"Aku tau apa yang kaka pikirkan. Tapi seperti ini tidak akan membantu Carissa untuk sembuh. Kaka harus kuat, karena Carissa butuh kamu, ka"
"Terimakasih sayang" Jason menarik Sena kedalam pelukannya. Air matanya kembali menetes, ia gagal menjalankan amanat papinya untuk menjaga putri satu-satunya keluarga.
Ceklek
Pintu terbuka, menampilkan Darren, Steven, dan Linea istri Darren (saudra sepupu Sena dan Isabella).
"Selamat pagi" sapa Linea riang. "Pagi Lin" jawab Sena.
"Kita bawain cemilan sama beberapa buah" Steven meletakkan cemilan diatas meja samping ranjang. "Thank you, Steven"
"Santuy"
Darren menjatuhkan dirinya disebelah Jason. Lelaki itu terlihat murung. "Kenapa? " Tanya Jason.
"Galih dan yang lainnya dalam perjalan kembali" ucap Darren. "Mereka membawa Thomas dan Sin" lanjutnya.
"Kapan mereka tiba? "
"Siang ini"
"Paman Revano akan menyerahkan orang yang Carissa seperti ini pada ka Jason" jelas Linea.
Jason menatap tajam saudara iparnya. "Sin atau Thomas? " Linea menggeleng. "Bukan mereka. Kaka ingat wanita yang dibawa ka Kevin dan Jovan pulang? "
"Wanita yang habis melahirkan itu? " kali ini Linea mengangguk. "Kekasih wanita itu. Namanya Roxy, dia saudara angkat Aldre. Masih bagian dari anggota keluarga utama Romanov. Ayahnya adalah adik pemimpin Romanov"
"Apa masalah dia dengan adikku? Lebih dari enam tahun Carissa tidak berhubungan dengan Aldre! "
"Ini soal istana Romanov yang hancur, Jas. Dia berpikir bahwa Aldre yang melakukannga, jadi ia membalas dendam lewat Carissa" Steven yang sejak tadi diam akhirnya buka suara.
Jason mengepalkan tangannya kuat. Adiknya terluka dan ia tidak tau siapa yang harus ia salahkan.
Brakk
Pintu kamar rawat Carissa kembali terbuka. Semuanya menoleh, mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Di depan pintu, Isabella berdiri dengan tubuh berlumuran darah. Wanita itu seperti habis berendam di kolam darah. Apa pihak rumah sakit tidak terkejut melihatnya? Bagaimana bisa ia masuk.
"Aissshhh! Kau mengejutkan ku! " seru Steven kesal. Lelaki itu memagang dadanya yang berdetak lebih cepat. Bagus tidak terkena serangan jantung.
Isabella melangkah masuk. Bau anyir darah menyeruak dipenjuru ruangan. "Bagaimana keadaannya? "
"Jauh lebih baik dari sebelumnya, ka. Hanya saja Carissa masih belum bangun" jelas Sena.
"Cukup bagus untuk melanjutkan operasi" ucap Isabella. "Tapi kita belum mendapat pendonor yang tepat, ka. Karena Carissa juga butuh donor sumsum tulang belakang"
"Dont worry. Aku sudah mendapatkannya Sena" Isabella menatap adik sepupunya. "Maafkan aku, membuat Carissa seperti ini" Isabella mrundukkan tubuhnya dihadapan Jason.
Lelaki itu menangis. "Kau melakukan apa yang seharusnya kau lakukan sebagai seorang kaka. Setidaknya ini cukup untuk membalas luka adikku" ucap Jason.
.
Galih dan yang lainnya sudah tiba di mansion Courtland. Dan saat ini mereka tengah berada diruang bawah tanah.
Daniel bergidik ngeri melihat keadaan Thomas. Pisau di leher lelaki itu masih menancap kuat.
"Kenapa tidak dicabut? " Tanya Daniel. "Dia akan mati kehabisan darah, jika pisaunya dicabut, Daniel" jawab Rion.
"Siaa yang menusuknya? "
Kevin menunjuk pada Aldre diujung ruangan. "Adikmu" Daniel tercengang tak percaya. "Aku tidak akan bisa makan jika seperti ini"
"Yang menyuruh kau ikut kesini siapa? " Saka melirik sinis sahabatnya.
"Apa yang akan kita lakukan pada mereka? "
"Tunggu Isabella. Dia sedang menjemput Jason dan yang lainnya" jawab Kevin.
Galih menatap Ara yang tidak beranjak dari sebelah Sin. "Istirahatlah Ara" ucapnya. Ara menggeleng. "Ara mau disini. Ara mau mastiin kalau kalian gak menghukum Sin"
"Ara, mau kau tetap disini atau tidak kakakmu tidak akan melepaskannya"
"Ka Galih harus bujuk ka Bella"
"Tidak ada yang bisa menghentikannya Ara"
"Keynara Revano Coutland! " suara dingin Isabella menyeruak. Ara semakin mengeratkan pelukannya pada Sin.
"Keluar dari sini! " seru Isabella tajam. Sekali lagi Ara menggeleng. "Gak! Kecuali ka Bella janji gak akan sentuh Sin! "
"Baiklah! Jika kamu memilih melihat proses kematiannya! " Isabella kembali mengeluarkan pedang kesayangannya. Membuat Ara semakin panik.
"Ka Bella!!! " teriak gadis itu. "Jangan berteriak pada kaka Ara!!! "
Darren maju. Menarik lengan adiknya kuat. "Ka Darren!! " Darren tidak mengindahkan, lelaki itu hanya fokus pada sang adik.
PLAKK PLAKK
Dua kali tamparan ia layangkan pada pipi Sin. "Puas? PUAS KAMU HAH!!!! "
"KAKA GAK PERNAH MENGAJARKAN KAMU JADI SEPERTI INI SIN!!! "
"APA YANG SALAH? APA YANG KURANG KAMI BERIKAN SAMA KAMU?! JAWAB!!!! "
Darren mengamuk. Amarah yang ia tahan sejak awal kini pecah. Begitu kecewa dengan apa yang dilakukan adik yang sangat ia sayangi.
"Apa kaka pernah salah sama kamu sampai kamu seperti ini? "
"Apa kaka kurang baik mendidik kamu? "
"Apa kaka tidak membuat kamu bahagia, Sin?! "
"AYO JAWAB!!! "
"KENAPA KAMU NANGIS HAH?! KENAPA?! "
"MENYESAL!! KAMU MENYESAL?!! BUAT APA?!! "
Pertahanan Darren runtuh. Cengkramannya pada bahu Sin terlepas. Tubub Darren merosot kebawah. Suara tangisnya terdengar begitu pilu.
"Kaka.... Maafkan Sin hiks hiks" Sin berusaha meraih tubuh sang kaka, tapi Darren menghempas kasar tangan adiknya.
"Kamu gak tau seberapa bahagianya kaka memiliki kamu Sin! Kamu gak tau seberapa bahagianya kaka ketika daddy mengatakan bahwa kaka akan menjadi seorang kaka! Apa kau tau itu?!!! "
"Kakaaaa hiks hiks hiks "
"Apa kamu memikirkan kaka saat kamu melakukan ini? Hah?! "
"Maafkan Sin hiks hiks kaka... "
Darren bangkit melangkah keluar tanpa mengucapkan apapun lagi. Sin menunduk menyesal. Dia tidak mau sang kaka membencinya. Tapi Sin sadar apa yang dilakukannya.
Aldre menarik lengan Ara untuk keluar dari sana. Ara memberontak tidak ingin meninggalkan sahabatnya. Tapi Aldre tetap menarik gadisnya untuk keluar.
"Ka Jason.... Maafkan Sin.... Maaf"
.....
T B C?
BYE!