
"Selesaikan sarapanmu dengan cepat, Jovan. Latihan kita mulai sebentar lagi" ucap Leo.
"Baik, paman" Jovan menjawab dengan lemas, kemudian mulai memakan sarapannya.
"Ayo, Aldre" Leo bangkit dari duduknya, namun lelaki itu hanya diam karena orang dipanggilnya seperti tidaj mendengarkan apapun perkataannya.
"Aku pikir bocah ini tidak cukup tuli untuk tidak mendengar perkataanku" sindir Leo.
Tidak ada reaksi dari Aldre, lelaki itu enggan melepaskan pelukannya pada pinggang ramping sang kekasih.
"Ada apa dengan kekasihmu, Ara?" Tanya Daniel heran. Tidak biasanya bocah ini menjadi manja seperti ini.
Ara menghembuskan nafas lelah, tidak tau lagi bagaimana caranya melepaskan pelukan Aldre pada tubuhnya.
"Ara gak tau, ka Daniel. Sejak semalam Aldre seperti ini, bahkan semalam dia menangis keras hanya karena Ara tinggal ke kamar mandi" jawab Ara.
"WHAT?!" Mereka terkejut mendengar penuturan Ara. Aldre menangis? Seorang Aldre Skholvies? Menangis? Tidak bisa dipercaya.
Isabella terdiam, menatap lekat adik bungsunya yang duduk tepat dihadapannya. Netr abu gelapnya menelisik setiap jengkal tubuh mungil adiknya itu.
"Kapan terakhir kau datang bulan, Ara?" Tanya Isabella dengan datar dan dingin.
Semua orang kompak menoleh kearahnya, bahkan Aldre yang tengah bermanja pun menoleh. Ara membalas tatapan sang kaka gugup, ia baru sadar telah melupakan jadwal datang bulannya.
"Jawab!"
"B-bulan lalu" jawab Ara gugup. Kepalanya menunduk kebawah, tidak berani lagi membalas tatapan tajam Isabella.
"Apa jadwal latihan hari ini, ka Leo?"
"Bertarung" jawab Leo santai.
Kevin menatap bingung kaka sahabatnya itu, seingatnya mereka akan melanjutkan latihan tembak kemarin, kenapa sekarang malah jadi bertarung.
"Ana bawa Ara kekamarnya"
"Baik, ka" Ana merengkuh lengan Ara, menuntunnya kembali ke kamar.
"Lawanmu hari ini aku, Aldre!"
Aldre meneguk salivanya kasar, ia tau nyawanya tidakakan selamat kali ini.
"Bee" panggil Justin pelan.
"Jangan menghalangiku, Boo. Atau kau yang mau menggantikannya!" Dingin. Nada yang Isabella gunakan semakin dingin. Dan Justin tau bukan saat yang tepat menghentikan istrinya.
Kevin menatap kesal Leo, yang ditatap hanya menampilkan seringaiannya. Lelaki itu jelas paham apa yang akan Isabella lakukan, karena itu ia mengatakan bertarung untuk latihan hari ini, padahal seharusnya latihan bertarung mereka lakukan minggu depan.
"Apa lagi yang kau tunggu?" Tanya Isabella sarkas.
"T-tapi ka--"
"Atau kau ingin berhadapan langsung dengan pedang kesayanganku"
'Bajingan!' Aldre mengumpat keras dalam hati.
Setibanya didalam kamar, Ana menuntun Ara untuk langsung masuk kedalam kamar mandi. "Kenapa kita ke kamar mandi, ka Ana?" Tanya Ara bingung.
Ana tidak menjawab, dokter kandungan itu sibuk mencari sesuatu didalam tas hitamnya.
"Kamu coba ini ya" Ana mengeluarkan lima bungkus testpack dari dalam tasnya sekaligus. Menyerahkannya pada Ara untuk gadis itu pakai.
"Coba dulu, sayang" sela Ana.
Ara menerimanya dengan ragu. Ada ketakutan dalam dirinya jika kecurigaan sang kaka menjadi kenyataan. Ana keluar dari sana, menunggu didalam kamar.
Di taman belakang, tepatnya dilapangan basket outdoor yang berukuran cukup besar. Isabella benar-benar melaksanakan apa yang diucapkannya, menjadi lawan bertarung dari adik bungsu soulmatenya itu.
Baru lima menit, tapi wajah Aldre sudah penuh dengan lebam. Isabella sama sekali tidak membiarkan lawannya melayangkan satu pukulan pun kearahnya.
"Lemah!"
Aldre bangkit dengan nafas terengah, energi sudah terkuras hampir setengahnya. "Gunakan dengan cara yang benar, ka Bella!" Tantang Aldre.
Isabella tersenyum sinis. "Aku sudah melakukannya dengan cara yang benar! Kau saja yang lemah!"
"Benarkah? Tapi ka Bella melibatkan emosi" seru Aldre kesar.
Tawa keras Isabella meledak. "Emosi? Kau yang tidak tau bagaimana caraku bertarung. Jangan banyak omong, bangun dan lawan aku!" Serunya sarkas.
Aldre mati-matian menahan tubuhnya sendiri kakinya berdenyut nyeri karena lutunya yang menghantam lapangan akibat tendangan keras yang Isabella layangkan padanya.
"Ka Bella" seruan Ana mengalihkan atensi semua orang. Isabella menolehkan sedikit kepalanya kebelakang.
"Ara hamil" lanjut Ana. Netra abu gelap itu berubah semakin gelap dalam sekejap.
Aldre terkejut mendengar penuturan kaka iparnya. Kekasihnya hamil. Ada buncahan kebahagiaan dihatinya karena itu artinya Ara hanya akan jadi miliknya seutuhnya, tapi ia juga merasa sedih karena dirinya dan sang kekasih belum terikat hubungan apapun selain sepasang kekasih.
BUGG!!! BRUKK!!!
Hantaman keras Isabella layangkan pada Aldre, tubuh lelaki itu terpental 10 meter dari posisinya semula, dan sukses menghantam tiang ring basket yang berdiri kokoh.
"Aldre!!!" Teriakan Daniel terdengar. Dengan cepat bergegas menghampiri sang adik.
Galih memeluk erat tubuh sahabatnya, mengalihkan atensi wanita itu dari adik bungsunya yang sudah terkapar tak berdaya dengan darah yang mulai mengalir.
"Lepaskan aku!!" Isabella memberontak kuat, membuat Galih cukup kewalahan.
"Masev" ucap Galih lirih.
Netra cokelat gelap Galih berubah menjadi hijau seketika. Tubuhnya berganti posisi dengan sang alter ego.
"Aakkkhhh" belum sempat melawan, Isabella sudah lebih dulu mencengkram kuat rahang tegas sahabatnya. Membuat Masev kewalahan melepaskan cengkraman wanita itu. Padahal Isabella hanya menggunakan satu tangannya.
"Jangan ikut campur, Masev!" Peringat Isabella.
"Lepaskan sialan!!"
BRAKKK!!!
Kini gantian Masev yang tubuhnya terlempar jauh. Isabella menoleh ketempat dimana Aldre berada, baru saja dirinya ingin menerjang bocah itu, sang suami sudah lebih dulu pasang badan menghalangi dirinya mendekati Aldre yang masih terkapar.
"Cukup, bee!!"
Netra Hazel Justin menyorot dingin kedua netra sang istri. Memberikan peringatan pada wanitanya untuk menghentikan apapun yang ingin dilakukannya sekarang. Isabella menggeram, tidak bisa melawan titah suaminya.
.....
T B C?
BYE!