Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
163



Erick menatap kagum hamparan taman bunga yang begitu indah. Ada beberapa jenis bunga langka yang dirinya dapati di beberapa sudut.


"So Beautiful" gumamnya penuh ke kaguman.


Tapi Erick baru teringat satu hal. Ngomong-ngomong perkebunan ini milik siapa? Kenapa pamannya mengajak mereka ke sini?


"Pasti bunga-bunga ini harganya mahal. Terutama yang langka itu, pasti luar biasa fantastis"


"Wahhh Juliet rose. Mamah pasti nangis nih liat ini"


"Apa bocah itu gila? Kenapa dia berbicara sendiri?" Celetuk Aldre yang melihat Erick berbicara sendiri.


Ara menepuk kencang bahu suaminya. Kenapa lelaki itu senang sekali berbicara sembarangan.


"Keponakan kamu loh itu" protesnya. "Ya abisnya dia bicara sendiri. Kan aku jadi takut"


"Apasih ah. Sudah sana panggil Erick, kita makan dulu"


"Iyaiya galak banget" Aldre pun melangkah menghampiri keponakannya sebelum terkena omelan lagi dari sang istri.


Pukk...


Aldre menepuk singkat pundak Erick, membuat keponakannya itu tersadar dari ke kagumannya.


"Ayo makan dulu. Kau bisa berkeliling setelahnya jika kau mau" ajak Aldre.


"Sunggu? Aku bisa berkeliling?" Tanya Erick begitu antusias.


Aldre mengangguk tertawa kecil. "Tentu. Tapi kita makan dulu oke? Paman akan mengajak mu ke Cat Cafe nanti"


"Cat Cafe? Ada Cat cafe di sini?"


"Mm" Salah satu tangan Aldre merangkul pundak Erick, menyeretnya menuju halaman samping rumah yang berhadapan langsung dengan perkebunan.


"Wahhh hebat"


Pekikan riang Alaner dan Aldara menyambut Erick. Kedua bayi mungil itu sudah menunggu kedatangan kaka sepupu mereka sejak tadi.


"Mereka mencari mu Erick. Kau langsung menghilang begitu turun dari mobil" ucap Ara.


Erick mengusap tengkuknya yang tak gatal. Merasa tak enak karena menghilang begitu saja tanpa pamit.


"Maaf bibi. Pemandangannya indah sekali, aku jadi tidak tahan" balas Erick penuh rasa bersalah.


"Tidak apa-apa, bibi mengerti. Nah sekarang duduklah, kita makan"


"Mm"


Piknik mereka di mulai. Ara mengeluarkan beberapa snack dan makanan yang di buatnya. Ada sandwich, pancake, hot dog, dan juga beberapa makanan ringan lainnya.


"Kamu membuat mocktail?" Aldre cukup terkejut saat tangannya meeaih sebuah botol minum berisi beberapa potong buah dan soda.


"Kepikiran aja tadi buat bikin itu" jawab Ara santai. "Wahh hebat banget istri ku"


"Erick mau" Erick menatap botol di tangan Aldre dengan masa berbinar.


"Boleh, tapi jangan terlalu banyak. Perut kamu gak terlalu kuat sama soda kan?" Ucap Ara.


"Tenang bibi, mamah sering buat ini kok di rumah"


"Yasudah kalau begitu"


Saat Erick hendak mengambil botol di tangan Aldre, lelaki malah menjauhkannya. Memeluk erat botol di genggamannya dan menutup akses dari jangkauan keponakannya.


Erick menggeram kesal, pamannya ini tidak bisakah sehari saja tidak menjahilinya? Kenapa jika dengan adiknya lelaki tua ini begitu manis?


"Aaahhhh pamannnnnn" teriak Erick kesal.


"Ssstttt berisik" balas Aldre tak mau kalah.


Ara hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kelakuan suaminya itu. Sedangkan baby Al bertepuk tangan heboh menonton keributan di depan mereka.


Keringat mengucur deras dari kening Erick. Cuaca yang panas di tambah dirinya harus mengeluarkan tenaga hanya untuk merebut botol berisi mocktail dari tangan sang paman.


Erick meraih ponsel Aldre yang tergeletak tak jauh dari lelaki itu. Dengan cepat melemparnya jauh ke arah perkebunan.


Aldre melotot melihat ponselnya di lempar oleh keponakannya. "Erickkkkk!!!"


"Wleeee" Erick memeletkan lidahnya, mengejek sang paman.


Aldre melemparkan botol mocktailnya sembarangan, berlari menuju tempat dimana Erick melempar jauh ponselnya. Setelah sang paman pergi, Erick kembali meletakkan benda pipih di genggamannya ke atas tiker, lalu meraih botol yang tadi di perebutkannya, dan menuang isinya ke dalam gelas.


Ara hanya bisa menepuk jidat. Gelengan kepala sudah tidak mempan untuk tingkah laku kedua paman dan keponakan ini.


*


"Harusnya aku membawa kamera tadi" selepas piknik kecil mereka, Erick kembali berlari menuju perkebunan. Tangannya sibuk memotret indahnya pemandangan menggunakan ponselnya karena dirinya lupa membawa kamera.


Drrrtt...


Di tengah kegiatannya merekam video, ponselnya bergetar layarnya menampilkam satu nama yang saat ini Erick hindari.


"Ngapain sih nelpon-nelpon? Gabut banget" gerutunya dengan bibir mencebik.


Jempol Erick menggeser tombol merah, kembali melanjutkan kegiatan membuat videonya. Namun belum satu menit benda pipih itu kembali bergetar, layarnya kembali menampilkan nama yang sama.


"Haiiisshhh! Ganggu!!"


Kali ini Erick menggeser tombol hijau, dengan malas menempelkan ponselnya ke telinga. Jika dirinya menolak panggilan orang itu lagi, pasti manusia satu itu akan terus menerornya.


"Hm" sahutnya malas.


"Kenapa telpon ku di tolak?" tanya seseorang di seberang sana dengan nada lembut.


"Ganggu. Kenapa?!" seru Erick tak santai.


"Dimana?" tanya orang itu lagi.


"Kenapa sih kepo banget?! Ngapain telfon?" sewot Erick.


"Kangen, aku kangen sama kamu. Kenapa gak mau nginep di sini?"


Biasanya jika sosok itu mengatakan rindu padanya, Erick akan merasakan hatinya menghangat. Tapi hari ini justru sebaliknya, rasanya ia ingin mencakar wajah menyebalkan lelaki itu.


"Suka-suka gua lah. Kepo bener lu Jenol" ya, yang menghubungi Erick adalah Jeno.


Jeno terkekeh kecil. "Galak banget. Dimana sayang?"


"Sayang bibir lo jebir. Udah ah ganggu" Erick mematikan panggilannya sepihak.


Untuk ketiga kalinya ponselnya kembali bergetar. Erick meremat ponselnya kuat, jika tidak sayang dia pasti sudah membanting benda ini.


"Apa?!"


"Jangan dimatiin. Aku masih kangen"


"Asu"


"You word sayang"


"Berisik! Bisa gak jangan ganggu?!"


"Aku gak akan ganggu kalau kamu jawab aku, kamu dimana sekarang?" lagi, Jeno kembali menanyakan hal yang sama.


"Aku gak tau. Di ajak piknik sama paman Aldre"


"Mm. Nyalain mapsnya" pinta Jeno.


"Gak" Erick menolak dengan keras.


"Erick."


"Bodo amat"


Lagi, Erick kembali memutuskan panggilan sepihak. Kali ini remaja tampan itu juga mematikan ponselnya.


"Dasar menyebalkan"


Dengan hentakan kaki yang keras, Erick berjalan kembali menuju tempat dimana sang paman dan bibi berada. moodnya yanh semula cerah secerah matahari pagi, kini gelap seperti cahaya bulan yang tertutup kabut malam.


"dasar Jeno menyebalkan! akan ku cakar wajah sialannya jika bertemu!"


"benarkah?"


"aiishhh paman mengagetkan ku"


"kekekeke. kau seperti gadis yang tengah bertengkar dengan kekasihnya"


"berisik!"


*


*


"kenapa Jeno?"


"tidak apa-apa bunda"


"kenapa wajah mu terlihat kesal"


"tidak apa-apa. hanya hal biasa"


"benarkah?"


"mm"


"you can't lie to me"


"bundaaa"


"hahaha. baiklah lanjutjan kesal mu kalau begitu"


"haruskah aku menghubungi paman Aldre?"


"tapi dia pasti akan curiga nanti. huh dasar ambekan"


"biirkin siji Bing, pirisiin ki din irick hinyi cinti minyit"


"tapi orangnya gak ada di cariin. mamam tuh cinta monyet"


"kekekekekee"


.....


T b c?


Bye!