
"Itu ka Geo" seru Kiran begitu melihat atensi kaka sulungnya yang berjalan menuruni tangga.
"Senyum dong sayang, masa cemberut gitu" tegur Galih begitu Geo tiba di bawah.
"Halo tuan Geo" dahi Geo kembali mengkerut, seingatnya ia tidak pernah bertemu sosok di depannya ini. "Siapa kau?" Tanyanya bingung.
"Dia Jarsyen. Anaknya paman Josh, kau sering bermain dengannya saat kecil dulu" jelas Kevin memperkenalkan sosok yang menyapa Geo sebelumnya. Lebih tepatnya mengingatkan Geo tentang siapa sosok tersebut.
Mata Geo membola tak percaya. "Woah? Bagaimana kau bisa setinggi ini" kagetnya. Pasalnya tinggi Jarsyen hampir menyamai sang papah padahal bocah itu baru berusia 13 tahun.
"Kau lupa paman Josh mirip seperti tiang?" Seru Keano. "Ouh benar juga" Geo baru teringat dengan tangan kanan pamannya, Devan yang sama-sana seperti tiang.
Jarsyen mempersilahkan mereka untuk segera naik ke helikopter yang terparkir di halaman depan mansion Aldebaren.
"Kau sendiri? Lalu siapa yang mengendarai helikopter?" Tanya Geo.
"Saya tuan" jawab Jarsyen.
"Hah? Woah daebak" Geo terkagum tentu saja, dirinya juga ingin bisa mengenderai helikopter seperti Jarsyen. Tapi papahnya tak pernah mengizinkan karena tau dirinya pasti akan kelayapan kesana-kesini.
"Kapan aku boleh belajar mengendari helikopter, dad?" Geo menoleh pada Kevin. "Tanya papah mu" jawab Kevin.
Geo melirik Galih yang berdiri di sebelah Kevin, menatap padanya dengan satu alisnya yang terangkat. Nyalinya mendadak menciut, ia jelas tak berani berhadapan dengan sang papah yang sudah mode seperti itu.
"Kapan-kapan saja hehehe"
Bepergian dengan helikopter memang selalu menyingkat waktu, nyatanya kurang dari satu jam Kevin dan keluarganya sudah tiba di Chicago. Lebih tepatnya helikopter yang mereka naiki terparkir apik di helipad markas Phoenix.
Melihat bangunan besar dihadapannya membuat wajah Geo seketika kembali murung. Bayangan wajah menyebalkan kaka sepupunya terlintas di dalam benaknya.
'Semoga wanita gila itu sedang tidak ada' batin Geo berucap.
Jarsyen membawa keluarga Aldebaren masuk ke dalam markas, menemui sang pemimpin yang sudah menanti kedatangan mereka sejak tadi.
Devan, Cassandine dan kedua anak mereka sudah menanti di ruang tengah bersama Harves dan yang lainnya.
Harapan Geo sirna seketika begitu mendapati sosok gadis muda yang duduk disebelah sang paman. Harusnya tadi ia berpura-pura sakit saja agar tidak perlu datang kesini.
'Memang sialan betul'
"Wahh anak rantau akhirnya pulang" seruan itu meluncur dari bibir Rion. Lelaki yang memiliki usia sama dengan Kevin itu menatap tengil keponakannya.
"Kau masih rumah tenyata, Geo" seru Rion lagi dengan nada usil.
"Aku selalu ingat rumah. Satu-satunya yang tidak aku ingat adalah paman" Geo menjawab tanpa beban.
"Sialan betul bocah ini"
"Sudahlah Rion. Kamu ini senang sekali menggoda keponakan mu" Liyona menegur adik iparnya karena jika tidak, Rion pasti akan melanjutkan keusilannya.
"Aku hanya menyapa ka Liyona" ucap Rion membela diri. Geo mendengus, sudah dia bilang bahwa dirinya tidak mau datang kesini. Daddynya ini memang benar-benar.
"Haloowww sepupuku tercinta" Vien merentangkan kedua tangannya sebagai tanda bahwa gadis itu akan memeluk sepupunya yang tak pernah pulang.
Mata Geo sontak melotot horor. "Diam kau! Akan ku tendang jika kau menyentuh ku" sentaknya.
Vien yang hendak bangun spontan terdiam. "Kau tega padaku?" tanyanya memasang ekspresi tak percaya.
Geo hanya membalasnya dengan tatapan datar. "Aktingmu jelek, bintang zero"
"Bocah sialan"
"Apa kabar Geo? Kamu terlihat jauh lebih kurus" sapa Cassy.
"Aku baik dan bibi adalah orang yang kesekian yang mengatakan hal itu. Apa aku sekurus itu?" balas Geo.
Geo tertegun apa benar ia sekurus itu? Selama ini Geo tidak pernah memperhatikan tubuhnya, menurutnya ia baik-baik saja selama ini.
"Apa tugas sekolah cukup membuatmu setres?" kali ini Harves yang giliran bertanya.
Geo mengalihkan pandangannya pada saudara ipar daddy nya itu. "Ya, aku rasa" jawab Geo terdengar tak yakin. Dirinya sendiri tak tau apa yang membuatnya seperti ini.
Disampingnya Keano yang sejak tadi terdiam menyimak pembicaraan mereka jelas paham apa maksud perkataan paman dan bibinya. Mereka jelas tengah menyindirnya karena kondisi Geo saat ini. Orang-orang di hadapannya ini terlalu sulit untuk dimanipulasi.
"Kenapa kau diam saja Keano?" tanya Sarah, istri Rion.
"A-ah? Aku hanya tidak ingin menyela pembicaraan kalian" jawab Keano agak gugup.
"Apa kau melakukan nya juga dikeluarga Skholvies?" tanya Sarah lagi yang pertanyaannya jelas saja menyudutkan Keano.
"Maksud bibi?"
"Aku hanya bertanya"
Sarah melirik Kevin, sahabatnya itu memberikan tatapan peringatan padanya. Apa yang Sarah lakukan jelas akan dipahami oleh Galih dan Kevin tidak mau menambah beban pikiran istrinya.
"Selamat datang kembali di Phoenix, Geo. Kami harap kau nyaman disini" sambutan hangat itu Geo terima, sambutan yang tidak pernah Keano terima selama ini.
'Apa keponakan mereka hanya Geo? Sepertinya mereka buta sampai tidak melihat ku?'
***
"Kau sedang menghitung apa Virzan?"
Maxime mengambil tempat duduk di samping putra sulungnya. Sejak dirinya membuka pintu kamar sang putra, si pemilik kamar terlihat sibuk menghitung sesuatu.
"Tabunganku" Virzan menjawab dengan singkat tanpa mengalihkan fokusnya dari sebuah buku yang kini berada di genggamannya.
Maxime memiringkan kepalanya ke samping, bibirnya mengerucut kecil dengan alis yang menyatu. "Untuk apa?"
"Apakah sudah cukup untuk menikah atau belum"
Jawaban Virzan cukup membuat Maxime tergelak. Menikah katanya? Ia rasa putranya ini lupa berapa usianya sekarang.
"Kau masih memiliki banyak waktu untuk mengumpulkannya, Virzan"
Virzan mengalihkan fokusnya dari buku kearah Maxime. "Maksud papo?"
"Geo kan?"
"E-eh..."
"Kalian baru 14 tahun. Paman Kevin akan menghajarmu jika kau menikahi putra kesayangannya sekarang"
Mendengar itu membuat Virzan lemas seketika. Dirinya lupa jika usianya belum legal.
"Oh iya... Untung papo mengingatkan ku"
Maxime mengelus lembut Puncak kepala Virzan. "Sebelum kau fokus pada Geo, fokus lah dulu pada dirimu. Bagaimana kau bisa membahagiakan nya jika kau sendiri tidak bahagia"
"Virzan mengerti papo"
"Good boy"
****
See you!