Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
106 | PERSETUJUAN JUSTIN



"Aku baru saja bertemu Meso" ucap Aldre. Saat ini dirinya berada diruang santai lantai dua, bersama sang kekasih, dan sang pemilik rumah.


"Meso?" Tanya Justin bingung. Ia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya, siapa Meso?


"Putra sulung pendiri The Cruel'd" jawab Aldre.


"Untuk apa kau menemuinya?" Kali ini Isabella yang bertanya. "Memberitahu kelemahan seorang Devano Courtland"


"AL!!!" Ara menjerit spontan mendengar perkataan santai kekasihnya. Matanya melotot tajam.


"Ayolah sayang, kamu pikir aku bodoh? Itu hanya jebakan"


"Kamu bikin aku kaget! Dasar jelek!!"


Justin memijat pelipisnya pelan. Kepalanya kembali berdenyut hebat. Nyatanya masalah ini semakin rumit, dan itu menguras waktunya yang berharga.


"Boo" panggil Isabella lembut. "Bisakah aku bertemu papah?" Tanya Justin pada sang istri.


"That neklace! Tidak bisa masuk kedalam markas besar papah. Kau akan menjadi target empuk, Boo" jelas Isabella.


"Aku harus bicara dengan papah. Tidak bisakah kamu menahannya sebentar, Bee?"


Jari telunjuk Isabella kembali mengacung keatas, menunjuk pedang putih miliknya yang masih melayang, seolah mengikuti kemanapun kakinya melangkah. Justin mendesah frustasi.


"Kenapa kalung itu tidak bisa masuk kedalam markas papah, ka?" Ara menatap pasangan suami istri dihadapannya bingung.


"Dark of Phoenix milik papah dan kalung itu tidak boleh berada disatu tempat yang sama. Pedang hitam itu memiliki energi yang 10x lipat lebih kuat dari pedang milikku"


"Itu artinya... Dark of Phoenix bisa menghancurkan kalung itu, kan?" Seru Aldre. Isabella mengangguk membenarkan perkataan Aldre.


"Bukankah itu bagus? Kita bisa menghancurkan kalungnya"


"Masalahnya bukan bagaimana kita menghancurkan kalungnya, Aldre. Tapi bagaimana melepaskan kalung itu dari suamiku! Karena jika tidak, bukan hanya kalung itu yang hancur, tapi juga suamiku"


"Hanya lelaki bernama Meso yang bisa melepaskannya" timpal Justin. "Karena dia penerus The Cruel'd yang sebenarnya" lanjutnya lagi.


"Apa dia masih mengincar Kevin?" Isabella menatap Aldre lekat. Sedangkan yang ditatap hanya mendesah lelah.


"Pertanyaan yang tidak perlu jawaban, ka Bella. Meso tidak kan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia mau"


"Kami butuh rencanamu"


Isabella mengalihkan pandangannya kearah luar. "Aku tidak bisa memberikan rencana apapun tanpa perintah dari Godfather, karena dia yang memimpin sekarang"


"Aku mengerti. Tapi sebelum itu, bukankah lebih baik kalian mengantisipasi putra kalian?" Ucap Aldre penuh sindiran. Isabella jelas paham apa maksud bocah ini, tapi sepertinya sang suami tidak.


"Apa maksudmu?"


"Putramu, ka Justin. Jovan! Aku dengar beberapa hari ini, dia rajin sekali datang ke perkebunan milik ka Kevin"


"Bee" netra hazelnya menuntut penjelasan dari Isabella.


Isabella menarik lurus garis bibirnya menjadi datar. "Aku sudah katakan padamu untuk melibatkannya. Putramu yang satu itu sulit untuk dikendalikan, Boo. He's like you"


Isabella sudah sangat lelah memperingati suaminya. Berurusan dengan ego lelaki itu, sama saja mengomeli tembok. Tidak ada gunanya!


Justin meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala, menumpunya seperti bantal. Matanya bergulir kesana kemari seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Seberapa banyak yang dia mengerti tentang dunia gelap?" Justin menatap sang istri penuh minat. Aldre dan Ara hanya mengamati keduanya, cukup penasaran juga dengan si bungsu kembar.


"Cukup banyak untuk seorang pemula. Aku tidak tah apa yang dilakukannya ketika berada didalam kamar Aldre waktu itu, tapi dia bisa keluar tanpa mengaktifkan alarmnya, dan membawa kalung itu bersamanya" pikiran Isabella kembali memutar pada misinya beberapa bulan lalu.


Aldre menatap calon kaka iparnya itu tak percaya. "Jadi ka Bella tak tau bagaimana dia bisa keluar?"


Isabella menggeleng, "saat aku, dan ka Kevin sibuk meretas sistem alarm dikamarmu, Jovan tiba-tiba sudah berada disamping mobil"


"Tapi aku ingat, Boo. Saat melatihnya di mansion ini, aku memantaunya lewat cctv, aku pikir dia belum mulai, aku menunggunya 20 menit, tapi nyatanya dia sudah selesai. Aku tidak mendapatkan satupun gambarnya didalam cctv, aku tidak mengerti bagaimana dia bisa lolos"


Kerutan didahi wanita 33 tahun itu nampak jelas. Seolah menggambarkan seberapa bingungnya ia sekarang.


"Sepertinya dia memang mewarisi seluruh yang ada dalam diri kita, Bee" ucap Justin. "Kadang bahkan aku tidak bisa membaca ekspresinya, Jovan juga pandai menyembunyikan ekspresi matanya"


"Tapi sepertinya kita memang membutuhkannya, ka Justin"


walau masih kesal dengan bocah itu, Aldre mengakui bahwa kemampuan Jovan tidak bisa dianggap remeh, dan sepertinya ia juga akan membutuhkan bantuan bocah itu.


Memang akhirnya harus begini, membiarkan putranya masuk ketempat yang sama dengan dirinya, dan sang istri. Ka Leo benar, ia tidak bisa menahan Jovan sesuai keinginannya, tapi setidaknya dirinya, dan Isabella masih bisa memantau putra mereka itu.


"Baiklah, tidak ada pilihan lain" putus Justin.


Isabella tersenyum simpul, kepalanya menoleh kesamping, netra abunya melirik tajam tembok dibelakang tubuhnya.


"Tidak sopan menguping pembicaraan orang dewasa, little princes"


Tubuh Jovan keluar dari balik tembok, sejak tadi bocah itu menguping ternyata. "Maaf bunda" cicitnya pelan.


"Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?" Tanya Aldre sinis.


"Kepo"


"HAIIISSSHHH!"


"HAHAHAHAHA"


T b c?


Bye!