Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
119 | I'M SORRY, LOVE



Sudah tiga hari namun suasana didalam mansion Scander masih belum berubah. Isabella yang masih dengan aksi diamnya pada sang suami dan saudara iparnya, Kevin. Dan Galih yang masih setia dengan mode marahnya juga pada sang suami. Dua soulmate itu benar-benar kompak dalam segala hal termasuk pertengkaran rumah tangga.


"Pagi, love" Kevin hendak memeluk tubuh Galih dari belakang, namun dengan cepat Galih menghindar dari suaminya. Dengan terburu-buru, membawa nampan ke ruang makan. Kevin hanya bisa menatap sendu kepergian istrinya.


Dibalik tembok, Ara menatap kejadian itu dengan sedih. Semua ini salahnya, andai ia bisa tegas pada dirinya sendiri, andai ia tidak mengandalkan orang lain dalam setiap masalah. Tapi nyatanya semesal apapun dirinya, Ara tidak pernah terpikirkan untuk berubah, ia tetap menjadi Ara si anak manja, dan seenaknya.


Ara berbalik, memilih kembali ke ruang keluarga, mengurungkan niatnya yang ingin membuat susu didapur. Gadis itu berjalan nunduk sampai tidak menyadari bahwa sang mamah tengah menatapnya khawatir.


"Kau bisa menabrak siapapun jika berjalan seperti itu, little princess"


Ara mendongak, matanya membelalak lebar begitu mendapati sang papah yang tengah berdiri tegak menatapnya. Dibelakangnya ada sang kaka Isabella, dan suaminya Justin.


"Pa-papah"


"Kau terlihat takut begitu melihat papah, little princess" ujar Revan dengan nada dingin.


Ara menggeleng cepat, ia tidak ingin membuat sang papah semakin marah padanya. "Pa-papah sudah pulang?" Tanyanya gugup.


"Papah sudah di LA sejak kau mulai tinggal disini. Jadi sekarang papah datang untuk membawa pulang kembali ke mansion Courtland" ucap Revan tegas.


"Ka...." Sofia menegur sang suami. Wanita paruh baya itu khawatir suaminya akan menghukum Ara yang tengah mengandung.


"Dia harus mempertanggung jawabkan kesalahannya, Sofia"


"Tapi kita bisa menunggu sampai Ara melahirkan"


"Tidak ada waktu! Jangan buat papah semakin marah, dan bereskan barang-barang mu sekarang!"


"Tidak! Tidak Ara, kita akan tetap disini. Princess..." Sofia menatap memohon pada Isabella, tapi yang ditatap hanya melengos tidak perduli.


"Sofia!!"


"Ka!!"


"Jika kau terus membelanya seperti ini, Ara tidak akan pernah sadar apa kesalahannya! Mau sampai kapan dia bergantung pada kita?!"


"Tapi ka...."


"Aku tidak pernah ikut campur dalam urusan Isabella atau anak-anak kita yang lain. Kenapa? Karena mereka tau bagaimana menyelesaikan masalah yang mereka ciptakan sendiri! Dan seharusnya sejak awal, Ara belajar tentang hal itu!"


"Papah tunggu di mobil Ara!"


Revan melangkah kembali keluar diikuti William dibelakangnya. Ara hanya bisa terdiam menunduk sambil menangis, apa yang sang papah ucapkan sungguh membuatnya sakit. Tapi bagaimanapun Ara tidak bisa marah, karena papahnya benar ini salahnya, dan sejak awal dirinyalah yang harus bertanggung jawab.


Isabella tidak perduli dengan sang adik yang menangis, matanya melirik kearah sahabatnya yang sejak tadi diam tanpa suara.


"Kembali ke mansion utamaku, Ge. Tidak ada alasan lagi kau harus tinggal di mansion ini" ucap Isabella.


"Mm" jawab Galih singkat.


Setelah membereskan semua barang-barangnya Ara bergegas menyusul papahnya ke mobil, bersama Sofia yang juga menggeret koper miliknya. Ara hendak pamit pada Isabella namun niat itu ia urungkan karena sang kaka yang tak menatapnya sama sekali, jadi Ara hanya berpamitan pada kaka iparnya, Justin dan juga Kevin yang membantunha membawa beberapa barang tadi.


"Ka Justin, Ara pamit ya. Maaf jika selalu merepotkan, dan terimakasih sudah merawat Ara selama disini" ucap Ara lirih.


Justin mengelus sayang puncak kepala adik iparnya itu. "Tidak, tidak sama sekali. Jaga kesehatan ya, jangan memikikirkan hal apapun yang tidak perlu, kasian baby"


"Jaga kesehatanmu seperti kata ka Justin dan pastikan kau dan selalu sehat, makan ka Kevin akan memaafkanmu" balas Kevin lembut.


"Baik"


"Ayo sayang, papah sudah menunggu" Sofia mengintrupsi ketiganya, mengajak putri bungsunya untuk segera masuk kedalam mobil, pasalnya suaminya terus menatap tajam kearah mereka.


"Iya mah"


"Kami pulang dulu ya" pamit Sofia. "Hati-hati" jawab Justin dan Kevin kompak.


Setelah mobil yang membawa Ara dan kedua orang tanya tak lagi terlihat dipandangan, Kevin, dan Justin kembali melangkah masuk kedalam rumah.


Justin menepuk pelan pundak Kevin. "Selesaikan masalahmu dengan Galih, kita tidak memiliki banyak waktu lagi, Kevin"


Kevin mengangguk kaku. "Beri aku waktu dua hari"


"Baiklah. Aku tidak mau pikiranmu terganggu karena pertengkaranmu dengan istrimu, dan jangan lupa minta maaf pada istriku, aku masih belum memaafkan sikapmu pada istriku kemarin"


"Aku mengerti ka Justin, maafkan aku"


"Hm"


Didalam kamar Kevin dan Galih.


"Love, bisakah aku bicara?" Kevin menjatuhkan tubuhnya tepat disamping Galih yang duduk terdiam di pinggir ranjang. Tidak ada jawaban dari Galih, Kevin memberanikan dirinya untuk berbicara lebih dekat dengan sang istri.


"Aku tidak bermaksud menyakitimu dengan perkataanku, maafkan aku, love. Aku hanya ingin Aldre tenang, aku tau aku salah, maukah kamu memaafkan aku?"


"...."


Sunyi. Masih tidak ada jawaban dari Galih. Lelaki manis itu begitu setia menutup rapat mulutnya. Kevin memejamkan matanya, memikirkan kata yang tepat dalam kepalanya.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku? Aku harus pergi dalam waktu yang lama, dan aku tidak mau meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini, love"


"....."


"Kamu bukan beban, love. Kamu segalanya buat aku, aku gak pernah menyesal memiliki kamu, aku gak pernah merasa bahwa kamu adalah beban buat aku. Maafkan aku, maaf sudah menyakiti hati kamu, sayang. Maaf karena tidak memikirkan perasaanmu sebelumnya. Maafkan aku"


Kevin duduk bersimpuh didepan Galih, menumpukan kepalanya dipangkuan istrinya. Isakan cukup kencang terdengar dari bibir lelaki itu yang bergetar. Bisa Kevin rasakan rambutnya yang mulai basah, ia yakin istrinya juga pasti menangis saat ini.


.....



Visual Kevin dan Galih 😍


pecinta aktor Thailand pasti tau siap mereka 😘


T B C?


BYE!