Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
12. Sedih



Pagi hari di Sekolah.


"Selamat pagi, sayang. Bagaimana acara makan malamnya?" sapa Jeno pada Erick yang baru saja tiba di sekolah.


Erick menatap Jeno dengan raut sedihnya, membuat kening Jeno mengkerut seketika. "Kenapa?"


"Sedih"


"Mau cerita?"


Erick mengangguk lemas. Jeno segera membawa sang kekasih menuju taman belakang sekolah, mencari suasana yang lebih tenang dan sepi agar Erick bisa leluasa bercerita.


"Kamu bisa cerita sama aku sekarang" ucap Jeno begitu mereka duduk di salah satu bangku taman.


Erick mulai bercerita kejadian semalem yang membuat dirinya dan sang kakek hampir bertengkar.


"Semalem Geo telpon aku" ucapnya sedih.


"Bagus dong. Berarti dia gak lupa sama ulang tahun kamu"


"Iya sih. Tapi semalem Geo telpon pas kami masih makan malam. Terus karena terlalu senang sepupu kesayangan ku nelpon aku langsung aktifin speaker.


Tapi kakek malah marah-marah dan bilang kalau Geo anak gak tau di untung dan gak punya terimakasih. Aku gak ngerti kenapa kakek ngomong kaya gitu, Jen.


Geo bahkan belum sempat ngucapin selamat ke aku karena dia langsung matiin telponnya begitu kakek selesai ngomong.


Aku sedih, Jen. Aku marah sama kakek, bisa-bisanya kakek tega ngomong ke cucunya sendiri. Geo tuh cucu kandungnya loh.


Kadang aku ngerasa kalau kakek sama nenek itu gak pernah sayang sama Geo. Aku ngerasa kalau mereka lebih perduli sama Keano. Sekali pun mereka gak pernah nanyain keadaan Geo"


Erick menangis mengingat kejadian semalam. Ulang tahunnya hancur hanya karena omongan sampah yang keluar dari bibir sang kakek.


Jeno mengelus pundak sang kekasih, mencoba membuat cowok itu tenang. "Mungkin maksud kakek gak seperti itu, sayang"


"Tapi ini kedua kalinya kakek ngancurin ulang tahun aku. Kamu inget kan saat Geo berangkat? Dia berangkat di hari ulang tahun aku, Jen.


Dan kamu tau apa? Sebelum berangkat Geo sempat bertengkar hebat dengan kakek dan itu karena Keano.


Keano yang buat ulah, tapi Geo yang harus terima kemarahan kakek. Ini bukan sekali dua kali kakek kaya gini ke Geo.


Aku bingung, Jen. Aku sayang banget sama Geo, tapi kenapa banyak yang jahatin dia?"


Tangisan Erick semakin kencang. Isak tangisnya terdengar begitu pilu. Jeno hanya bisa memeluk erat tubuh kekasihnya itu. Dirinya bukan tidak tau bagaimana keluarga Skholvies memperlakukan Geo. Entah kenapa, tapi mereka seolah tidak ada yang perduli pada sahabatnya itu.


Tapi di keluarga Aldebaran dan Phoenix, Geo adalah kebanggan mereka. Bahkan pamannya, Devan tak segan membelikan banyak hadiah untuk sahabatnya itu.


'Aku akan selalu bersamamu, Ge. Kupastikan mereka akan menyesal!' Jeno berucap sumpah dalam hatinya. Tangannya mengepal erat, netra hazelnya berubah tajam.


***


Mansion Scander.


"Kau bisa menangis, Ge. Tak perlu di tahan" Isabella berujar datar.


Galih yang duduk di depannya hanya bisa menunduk dalam dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat. Tubuhnya bergetar hebat seolah menahan semua emosi yang terpendam dalam hatinya.


"Ka Kevin tidak pulang semalaman" ucap Galih dengan suara lirih.


"Dia menemui putra kesayangannya. Jangan khawatir" jawab Isabella masih setia dengan nada datarnya.


"Kenapa tidak mengajakku?"


"Geo tidak mau bertemu dengan mu"


"Apa dia membenciku, dear?"


"Tidak. Geo hanya tidak bis melihat mu!"


Galih mengangkat kepalanya, menatap lurus sahabat kecilnya. "Bisakah kau bicara dengan ayah, dear?" pintanya dengan tatapan memohon.


Galih tidak tau lagi bagaimana menegur sang ayah yang selalu bersikap jahat pada putra sulungnya. Hal itu selalu mengingatkannya pada masa kecilnya yang selalu di bandingkan dengan sang kaka, Dion.


Sebelah alis Isabella menukik. "Kau ingin aku bicara apa?"


"Apapun. Ayah hanya akan mendengarkan mu"


Kau tau Ge? Masalahnya bukan ada pada ayah, tapi pada putra mu yang lain"


Kening Galih mengkerut dalam, memandang sahabatnya itu tak mengerti. "Apa maksudmu?"


Isabella menghembuskan nafas pelan. "Cari tau sendiri. Kau akan mengerti apa maksudku. Dan, jauhkan Jeven darinya"


"Aku akan meminta papah untuk bicara pada ayah" ucap Isabella lagi.


***


Europe.


"Daddy tidak mengajak papah?"


"Memangnya kau ingin bertemu dengan papah mu?"


"......."


"Maafkan kakek mu, son"


"Tidak bisa"


"Daddy tidak ingin kau menyimpan dendam"


"Aku sudah menyimpannya daddy"


"Son...."


"Maafkan aku. Tapi kau tau bahwa semua sifat mu menurun padaku. Maafkan aku daddy, tapi aku sudah tidak menganggap mereka keluarga ku. Aku hanya menghormati mereka karena papah"


"Son.... Bagaimana daddy harus mengatakan ini pada papah mu?"


"Itu tugas daddy. Maafkan aku. Daddy boleh kembali"


"Tidak bisakah kamu memberikan mereka kesempatan, Son?"


"Bisakah daddy melakukan hal yang sama pada kekek dan nenek ku yang lain?"


"......."


"For you information, daddy. Mereka selalu mengunjungiku setiap bulan"


"Pulanglah. Papah pasti khawatir pada daddy"


***


Mansion Skholvies.


Sudah ribuan kali Revano menghembuskan nafas beratnya. Pundaknya terasa berat seolah ada beban besar yang menimpanya.


Sejak Putri kesayangannya menelpon dan menjelaskan beberapa hak padanya, Revan merasa bahwa beban hidupnya semakin bertambah.


"Bisakah kau tidak membuat ulah, pak tua?" serunya ketus. "Aku tidak mengerti apa yang ada dalam otak mu!"


"Kau mengulangi kesalahan yang sama yang pernah kau lakukan puluhan tahun yang lalu!" Revan mendengus kesal. Dirinya sudah tua, kenapa masih harus menanggung masalah orang lain.


"Tidak kah kau berpikir bahwa kali ini kau tidak akan mendapatkan kesempatan apa pun?!


Aku tidak mengerti bagaimana bisa kau menjadi seorang Jendral! Kau bahkan tidak memiliki otak!!"


Rayyan hanya bisa diam, tidak bisa membalas apapun perkataan yang di lontarkan adik sekaligus sahabatnya itu.


Rayyan merasa begitu bodoh karena berani mengucapkan hal itu tadi malam. Mulut tajamnya memang sulit di kontrol.


"Kau tau ka ? Geo mewarisi sifat daddynya. Seluruh sifat Kevin menurun padanya. Kau sendiri tau bagaimana hubungan Kevin dengan kedua orang tuanya bukan?


Jika kau menyesal kali ini, kau tidak akan bisa memperbaikinya. Karena apa? Yang kau hadapi adalah Kevin, bukan putramu Galih"


***


Yoyoyoyo!!


See you!!