
"Ahhh, capenya. Padahal gak ngapa-ngapain" keluh Ara sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Ia baru saja sampai dikamarnya. Tidak lama setelah Steven tiba, mereka berempat akhirnya pamit pulang. Menyisakan Sena, Jason, dan Sin yang menjaga Carissa.
Ara tidak jadi menebeng pada Steven karena dengan gerakan secepat kilat, lelaki itu menggeret lengan sang istri untuk berlari lebih dulu. Meninggalkannya begitu saja tanpa aba - aba. Padahal ia ingin merajuk lama pada Aldre.
Ara menatap langit - langit kamarnya. Dalam hati ia berucap syukur pada tuhan atas kelancaran operasi sahabatnya, dan juga karena bisa bertemu sahabatnya yang lain.
sudah sangat lama mereka berempat tidak bersama seperti tadi. Walau tidak bisa berbicara banyak dan berbagi cerita, tapi baginya begini saja sudah cukup.
Tak lama Aldre masuk kedalam kamar. Tadi Lelaki itu pergi kekamar sang ayah terlebih dahulu tadi, untuk memastikan apakah ayah dan ibunya sudah beristirahat.
Kondisi tuan Rayyan yang lemah dan mudah drop membuat Aldre menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan, cukup sekali Ia bertindak bodoh kemarin. Ia Dan ketiga kakanya juga semakin protektif, karena lelaki paruh baya itu sedikit sulit untuk di larang.
"memikirkan apa?"
"tidak ada" Ara bangkit dari acara berbaringnya. "Ayah dan ibu sudah tidur? "
"Ibu sudah, tapi ayah baru saja tidur"
"Menonton film lagi? "
"Hm. Aku tidak mengerti kenapa dia jadi begitu kecanduan film. Aku lelah menasehatinya" keluh Aldre.
"Hahaha, ayah pasti panik ngeliat kamu" ucapnya diselingi tawa kecil.
"Dia langsung melempar remot ditangannya begitu melihatku. Untung ibu tidak terbangun"
Ara kembali tertawa kecil. Sahabat papahnya itu memang suka bertingkah diluar kebiasaannya akhir-akhir ini. Mungkin karena faktor U.
Usia maksudnya.
Tidak ada percakapan lagi diantara mereka setelahnya. Aldre sibuk dengan kegiatannya yang tengah melepaskan pakaian. Dan Ara sibuk memperhatikan lelaki itu dengan seksama.
Aldre menoleh kesamping ketika merasa diperhatikan. Kemudian menarik senyum simpul dibibirnya.
"kenapa?"
Ara seketika tersadar dari acara menatap kekasihnya. "huh?"
"kenapa kamu natap aku kaya gitu?" tanya Aldre masih dengan senyum simpulnya.
"kamu ganteng" jawab Ara polos. Tanpa sadar gadis itu menggit bibirnya.
Memdengar jawaban gadisnya, seketika membuat ide jahil terlintas dibenak Aldre.
Aldre menjilat bibirnya yang terasa kering. berbalik badan menghadap Ara. Dengan gerakan sensual, lelaki itu membuka bajunya, memperlihatkan dadanya yang kekar tanpa halangan apapun.
Ara meneguk ludahnya kasar, dirinya sangat gugup saat ini. Karena demi apapun, kekasihnya itu sangat sexy dan lebih tampan.
Gadis manis itu menahan nafasnya saat Aldre berjalan mendekat. Aldre berhenti tepat didepan Ara merundukkan tubuhnya mensejajarkan posisinya dengn sang kekasih. Dengan reflek Ara memundurkan sedikit tubuhnya kebelakang.
Seperti terhipnotis, Ara tidak berkedip sedikitpun. Kedua netranya seolah hanya terkunci pada wajah tampan Aldre.
Sekali lagi Aldre menjilat bibirnya, seolah menggoda kekasihnya. Dan tanpa sadar Ara menjulurkan lidahnya.
Cupp
Aldre mencium pipi kiri Ara, menekannya sedikit lama. "Aku sudah berjanji pada papah, sayang. Jadi bersabarlah sampai kita menikah nanti ya" bisiknya tepat ditelinga Ara.
Seketika itu juga Ara tersadar, gadis utu langsung mendorong tubuh kekasihnya. "Apa sih ah" serbunya cepat.
bangkit dari posisinya dengan kedua pipi memerah.
Ara membawa kakinya masuk kedalam kamar mandi dengan sedikit berlari. Meninggalkan Aldre yang terkekeh geli.
Brakk
Dengan sedikit kasar menutup pintu kamar mandi. Ara menyandarkan tubuhnya dibalik pintu, menetralkan detak jantungnya yang tak karuan.
"Apasih lebay banget nih jantung! baru gitu aja udah baper" gerutunya kecil.
Melangkah masuk kedalam shower. gadis itu melepaskan pakainnya lalu mulai membersihkan diri.
Tidak butuh waktu lama Ara selesai dengan ritual mandinya. Ia tidak ingin berlama - lama didalam kamar mandi, karena imi sudah tengah malam. jadi ia tak mau mengambil resiko masuk angin keesokan paginya.
Meraih bathrobe disisi kanannya, Ara baru tersadar jika ia tidak membawa pakaian ganti.
"Aduuuhhhh, kok bisa lupa si? Gimana dong?"
"Aldre masih dikamar gak ya?"
"Bodo amatlah, dia udah pernah ngeliat ini"
Dengan perlahan Ara membuka pintu kamar mandi. Atensinya langsung tertuju pada Aldre yang tengah duduk santai diatas ranjang menatap kearahnya.
Untuk sejenak Ara menahan nafasnya, lalu kembali bernafas normal. Agak takut dengan cara sang kekasih memandangnya.
"So sexy..." ucap Aldre dengan suara sedikit serak.
Ara mendelik, tanpa membalas langsung berlari menuju walk in closet. "Dasar orang gila!" gerutunya begitu ia menutup pintu.
"Hati memang tau kemana ia akan berlabuh" gumam Aldre.
Bergantian kini lelaki itu yang masuk kedalam kamar mandi guna membersihkan diri.
.
"Sudah bicara tentang pertunangan kita pada paman dan bibi?" tanya Aldre pada Ara.
Setelah selesai dengan ritual kamar mandi, keduanya sudah berbaring diatas ranjang. Bersiap menuju alam mimpi.
"Bisakah kita bicarakan nanti?"
tanpa menatap wajah Aldre, Ara menjawab. Sibuk dengan kegiatannya yang memainkan jari besar Aldre.
"Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi, sayang"
"Demi tuhan, Al. Keadaan baru membaik, bahkan luka operasi Carissa masih sangat basah. Dan kamu sudah meributkan pertunangan ketika?"
"Dasar gila!" protes Ara.
Untuk yang ke..... Eeeeee.... Mungki yang ke Seribu kali hari ini, Ara mendengus kesal karena sang kekasih. Entah ada apa dengan lelaki itu yang sangat senang memancing emosinya hari ini.
"Hanya membicarakan bukan berarti kita akan melaksanakannya sekarang, kan?"
"Ini hanya persiapan, Ra" kukuh Aldre.
"Kamu tuh kenapa si?! Nyebelin banget hari ini? Capek tau gak marah-marah sama kamu!" Ara membalas dengan sewot.
"Aku gak minta kamu marah-marah sama aku" lagi, Aldre dengan tingkah menyebalkannya.
"Alllllll!!!"
"Semuanya butuh persiapan, sayang. Jika kita sudah menentukan harinya itu akan memudahkan kita"
"Kalau Ara bilang gak ya gak! Berenti jadi rese!"
Ara merebahkan seluruh tubuhnya dengan sempurna,menarik selimut sampai dagu. Membalikkan badannya membelakangi Aldre yang masih setia memperhatikannya.
"Dasar tukang ngambek" cibir Aldre dengan suara yang sengaja dikeraskan.
"Bodo amat!!"
Tersenyum kecil. Aldre ikut merebahkan tubuhnya, merengkuh pinggang gadis yang sangat dicintainya itu dari belakang. Yang dibalas dengusan kesal pemiliknya.
cupp
Satu kecupan manis bertengger dipucuk kepala gadis itu. diiringi dengan elusan lembut tangan Aldre diperut rata Ara.
"Selamat malam, sayang. maafkan aku karena sangat menyebalkan hari ini"
"I really love you so much, Ra"
Diam - diam Ara tersenyum kecil dengan perlakuan manis Aldre.
"Good night too, Al"
"And, I love you too much" balasnya dalam hati.
.....
"Waktu dan seseorang yang tepat adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka."
.....
T B C?
Bye!
gagal 1000 kata 😠bingung mau ngetik apalagi ðŸ˜