
Satu minggu kemudian.
Sudah satu minggu berlalu, sejak hari itu Erick benar-benar tak mendapatkan kabar apapun dari Jeno. Dirinya sudah bertanya pada Jovan dan Jesslyn tapi keduanya kompak mengatakan bahwa mereka sendiri jarang berkomunikasi dengan Jeno, jadi mereka tidak tau kesibukan apa yang kakanya miliki saat ini.
"Lama-lama dia mirip dengan Geo" gumam Erick. "Haruskan aku menghubungi Geo? Tapi kan mereka gak sekelas, kalau Geo lagi sibuk gimana?"
Erick mengerang frustasi, ia sungguh tak mengerti apa yang terjadi. Tidak bisakah ia mendapat kabar tentang kekasihnya sekali saja, yang penting dirinya tau apa yang sedang terjadi pada kekasihnya atau setidaknya bagaimana kabarnya sekarang.
"Kamu kenapa sih Jen? Kenapa nomor kamu jadi gak aktif gini?" Erick hanya menatap ponselnya sedih, benda itu menjadi tak berguna jika ia tidak mendapat kabar dari Jeno.
Srakkk!!
Dengan kasar Erick meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja lalu berjalan keluar kelas. Lebih baik ia menyusul teman-temannya ke kantin daripada stress sendirian memikirkan si brengsek Jeno.
"Lo yakin belom ngobrol sama Jeno, Jov?" suara Brian yang bertanya pada Jovan menghentikan langkah Erick yang hendak mendekat.
Dengan buru-buru Erick bersembunyi di salah satu sisi tembok untuk menguping pembicaraan para sahabatnya, karena jika dirinya tetap menghampiri mereka, percakapannya pasti berhenti.
Jovan menenggak cola miliknya sebelum menjawab pertanyaan Brian. "Jeno ganti nomer" jawabnya dengan nafas berat.
"Hah?" kening Brian mengkerut. "Kenapa?" tanyanya lagi.
"Gua belom ngobrol sama Jeno, tapi udah dapet nomor barunya. Hiro bilang belakangan ini Jeno gak fokus, dia kepikiran terus sama Erick.
Jeno ngerasa kalau dia gak bisa jauh dari Erick, kadang rasanya Jeno pengen banget kabur dari sekolah. Jeno sendiri sadar kalau dia gak bisa terus kaya gini, masalahnya ini baru tiga bulan dia pisah sama Erick gimana kedepannya nanti?
Jadi Jeno mutusin buat putus komunikasi sama Erick entah sampai kapan. Mungkin sampai dia sendiri udah mulai terbiasa sama keadaan" jelas Jovan.
Brian dan Virzan kompak memijat pelipis mereka yang terasa berdenyut seketika. Jika Erick dengar, cowok itu pasti akan sangat sedih.
Jeno dan keras kepalanya memang menyebalkan. Setelah sempat kekeh untuk tidak mau memberitahu Erick soal keberangkatannya, kini bocah itu justru malah memutus komunikasi seenaknya.
"Ingatkan aku untuk menghantam kepalanya dengan batu saat kita tiba di sana nanti" keluh Virzan.
Sekarang bagaimana mereka harus mengatakannya pada Erick? Virzan rasanya tidak sanggup jika harus melihat wajah sedih Erick nantinya.
Tanpa mereka sadari di balik tembok Erick justru sudah mendengar semua yang Jovan katakan. Tubuh Erick lemas seketika, apa maksudnya ini? Kenapa Jeno selalu egois seperti ini?
"Jen...."
Tanpa mau mendengar apapun lagi, Erick berlari pergi dari kantin. Tujuan nya adalah kembali ke kelas untuk mengambil tasnya lalu pergi dari sekolah.
**
"Batu batu batu batu batu batu!!!"
Hiro dan Kanfa saling pandang, keduanya duduk diatas rumput memandang Geo yang sudah lebih dari lima belis menit terus mengucapkan kata itu sambil menendang kerikil yang ada di hadapannya.
"Bocah batu bocah batu bocah batu!!!!"
"Udah lah, Ge. Nyerah aja lah kita, cape banget gua ngocehin Jeno" keluh Kanfa dengan wajah frustasi.
Hiro yang duduk di sebelahnya mengangguk setuju. "Berasa ngomong sama batu kali gua"
"Kesel gua Fa, Ro. Kesel gua anjingggggggg!!!" geram Geo yang sudah tak tertahankan.
Hiro menghela nafas beratnya. "Emang lo doang? Sama kita juga. Udahlah ngomong sama Jeno kaya ngomong sama alien. Udah nyerah aja udah"
"Emang yang nyambung ama Jeno kalo gak bapaknya ya emaknya" timpal Kanfa.
"AAAARRRRRRGGGGHHHHHH!!!!!" Geo berteriak frustasi.
"Akan ku tendang biji sialannya yang cuma segede buah kelengkeng itu!" Gerutu Geo lagi.
"Siapa yang kau maksud?" Suara Jeno yang tiba-tiba muncul membuat Kanfa dan Hiro terlonjak kaget. Keduanya hampir saja terjungkal kebelakang jika tidak bisa mengendalikan diri.
Geo berbalik cepat, mengacungkan kedua jari tengahnya pada Jeno. "Kau sialan! Dasar manusia batu. Akan ku tendang barang tidak berguna mu itu!" Geo mencak-mencak di tempatnya seperti kerasukan reog.
Satu alis Jeno terangkat, menatap sahabatnya itu dengan pandangan aneh. "Apa kau gila?"
"KAU YANG GILA BRENGSEK!!! KEMARI KAU SIALAN!!!"
Dengan sigap Hiro dan Kanfa menahan tubuh Geo yang hendak menyerang Jeno. Bocah itu mengamuk persis seperti orang kesurupan.
"Bawa ke Gereja, biar pendeta yang me ruqyah" setelah mengatakan hal itu Jeno berlalu begitu saja meninggalkan ketiganya.
"JENOO!!!!" Geo menggeram marah. Sialan sekali sahabatnya itu, dia pikir dirinya ini kerasukan apa?!
"Wkwkwkwk" Hiro dan Kanfa tak bisa menahan ketawa mereka. Tak salah jika Jeno sampai bicara seperti itu, mereka bahkan sempat berfikir bahwa Geo benar-benar kerasukan.
"Diam brengsek!"
"HAHAHAHAHA" bukannya berhenti tawa Hiro dan Kanfa justru semakin keras.
"si anjing!"
**
Sesampainya di taman kota Erick langsung berlari menuju danau. Air matanya tak dapat di bendung lagi begitu sampai di tempat yang selalu ia dan Jeno kunjungi.
Erick menangis terisak kuat, tubuhnya terjatuh ke tanah, kedua kakinya bahkan sampai tak mampu menahan bobot tubuhnya. Perasaannya kacau, hatinya sakit sekali.
Kenapa Jeno selalu melanggar janjinya? Kenapa tidak pernah sekalipun cowok itu mau mendengar pendapatnya?
"Kenapa kamu jahat sama aku, Jen? Kamu gak pernah mau denger pendapat aku. Kamu egois selalu egois"
Bug bug bug..
Tangan Erick terkepal memukul-mukul dadanya yang luar biasa sakit. Mengapa sebegini sulitnya mencintai cowok brengsek seperti kekasihnya.
"Aku gak akan maafin kamu kalau kamu terus diemin aku kaya gini Jen!!"
Dengan kasar, tangannya mengusap air mata di pipinya kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke salah satu kursi.
Erick mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menatap layarnya dimana terpampang foto dirinya dan Jeno di sana.
"Aku gak mau nunggu kamu pulang! Aku marah Jen, marah banget sama kamu"
Di lain sisi...
Nyatanya tidak hanya Erick yang hancur karena hal ini, Jeno pun sama. Jeno tidak memiliki pilihan lain karena bagaimanapun menurutnya ini yang terbaik bagi mereka.
Jeno selalu mengambil tindakan bodoh jika menyangkut tentang Erick, dan ia tidak ingin mengambil tindakan bodoh lainnya yang bisa menghancurkan semua rencana masa depannya.
Jeno mengusap foto milik kekasihnya yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi. "Maafin aku sayang, aku mohon kamu mengerti. Semua ini juga demi kita"
*****
See you!