
Sejak Virzan menelpon hingga saat ini, Jeno tak kunjung membuka suaranya. Cowok itu sering sekali terlihat melamun, bahkan ketika jam pelajaran telah di mulai.
Sepertinya perkataan Erick yang di tunjukan untuk menyindirnya, mengenai hatinya dengan telak. Jeno tak dapat memungkiri bahwa perkataan Erick sangat sangat mengganggunya.
"Ngelamun aja kerjaan lu! Ngelamun gak penting, Jen. Mikir orang mah" celetuk Hiro yang duduk di belakang Jeno. Cowok itu sejak tadi memperhatikan tingkah sahabatnya yang sudah seperti tak memiliki jiwa.
Jeno yang tersadar dari acara melamun nya berdecak kesal. "Berisik" ujarnya singkat.
"Yeu kepala batu"
Hiro memilih untuk tidak lagi menghiraukan Jeno, ia kembali fokus pada bukunya yang sudah terbuka tapi belum tersentuh sama sekali.
Tidak lama kemudian bel pergantian pelajaran berbunyi, guru yang sebelumnya menerangkan di dalam kelas mulai membereskan perlengkapannya lalu di gantikan oleh guru yang lain.
Jeno menghentikan acara melamunnya sejenak, kembali fokus pada pelajaran berikutnya atau ia akan kehilangan konsen selama di dalam kelas.
Skip time.
Bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu, tapi kelas Geo menjadi yang terakhir keluar karena sang guru yang meminta tambahan waktu beberapa menit untuk menjelaskan tentang tugas yang harus mereka kerjakan di luar jam pelajaran.
Geo dan Noer menjadi yang pertama keluar dari kelas, cowok itu membereskan bukunya asal dan terburu-buru ingin segera keluar. Pasalnya sejak tadi ponselnya terus berdering dan Geo takut jika sang papah yang menelponnya. Karena aturan sekolah tidak boleh menyentuh ponsel di dalam area gedung sekolah kecuali untuk keperluan belajar atau sedang berada di cafetaria.
"Buru-buru banget sih, Yo" ucap Noer yang kesulitan mengikuti langkah Geo yang sangat cepat.
"Ponsel gua bunyi dari tadi, takut papah nelpon" balas Geo semakin mempercepat langkahnya.
"Oh" Noer mengangguk paham, tidak bertanya lebih lanjut dan memilih mengikuti kemana temannya itu pergi.
Setibanya di cafetaria sekolah, dengan gerakan cepat meletakkan tasnya di atas meja dan mencari ponsel miliknya yang ia letakkan di dalam tas.
Benar dugaan Geo bahwa papahnya menelpon. Tapi pria itu hanya menelponnya sekali kemudian mengiriminya pesan bahwa adik bungsunya sedang sakit dan ingin berbicara dengannya.
Tapi seingatnya ponselnya berdering berkali-kali, berarti ada orang lain yang menelponnya selain sang papah.
Kening Geo mengernyit dalam setelah mendapati ada dua nama lain yang juga menghubunginya, salah satu milik daddy nya yang dimana pria itu juga hanya menghubunginya sekali.
Tapi yang membuat Geo heran adalah nama terakhir yang menelponnya hingga belasan kali.
"Virzan?" Gumama Geo pelan. Entah kenapa sejak hari itu, Geo merasa bahwa Virzan menjadi sering sekali menghubunginya.
Padahal sebelumnya Virzan bukanlah orang yang senang memegang ponsel terlalu lama. Bahkan ketika Kanfa dan Hiro menelponnya pun cowok itu membalasnya satu jam kemudian. Tapi sekarang si kulkas berjalan itu malah menelponnya setiap saat seperti kegiatan rutin yang wajib di lakukan.
"Ngapain sih ni orang? Nelpon mulu tiap hari" gumam Geo lagi.
Geo memilih tak menghiraukan sahabatnya itu, dirinya memilih untuk kembali menghubungi papahnya. Geo khawatir dengan keadaan adik bungsunya.
"Lu mau mesen apa yo?" tanya Noer yang sejak tadi memperhatikan tingkah Geo. "Kaya biasa aja. Gua mau nelpon dulu ya" jawab Geo sambil berjalan menjauh.
"Oke" Noer berjalan menuju salah satu stand untuk memesan makanan untuk dirinya dan Geo.
Noer kembali ke meja setelah membayar pesanan miliknya, bertepatan dengan itu Kanfa, Hiro, dan Jeno tiba.
"Geo mana?" tanya Kanfa. "Tuh" tunjuk Noer ke arah Geo yang tengah berdiri di depan jendela dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
"Nelpon siapa dia?" gantian Hiro yang bertanya. "Papahnya mungkin. Dari di dalam kelas ponselnya berdering terus"
"Ooh"
Kanfa menatap sebuah nampan yang sudah tersaji di atas meja. Ada dua piring dan dua minuman di atasnya.
"Salah lo nih, Jen. Cepet pesenin gua" bukannya lanjut mengomel pada Noer, Kanfa justru malah menyalahkan Jeno yang meminta untuk mampir ke perpustakaan terlebih dahulu.
"Bocah ******" umpat Jeno melayangkan tatapan sinisnya.
Ketiganya tertawa puas karena berhasil membuat Jeno kesal.
"Ngapa lo pada?" Tanya Geo heran yang sudah selesai menelpon.
"Kepo amat" jawab Jeno ketus. "Gua bilangin Erick nih" ancam Geo.
"Anjing"
"Wkwkwk"
"Nelpon papah lo ya?" tanya Hiro. Geo mengangguk. "Kiran demam" jawabnya.
"Cepet amat"
"Ke jeda mulu anjir, gara-gara ada yang nelpon"
Hiro dan Kanfa saling pandang dengan senyum tengil yang mulai terpasang di wajah mereka.
"Virzan ya?" tanya Hiro lagi.
"Siapa lagi. Tuh bocah ngapa dah nelponin mulu anjir, gua blokir juga lama-lama" keluh Geo kesal.
"Suka kali ama lo" celetuk Noer cepat. Spontan Geo menatap horor ke arah temannya itu. "Yang bener aja"
"Yaelah, sikat aja sih. Mendingan dia dari pada yang lo galauin. Pewaris tahta tuh" ucap Noer yang di setujui Kanfa dan Hiro.
Geo mengibaskan satu tangannya. "Ck. Ngaco lo ah"
"Yeu dibilangin"
Jeno yang sepertinya mulai tertarik dengan obrolan tersebut kini ikut menatap ke arah sahabatnya itu.
"Emangnya kalau dia beneran suka sama lo, lo gak mau?" tanya Jeno dengan nada serius.
Geo balas menatap keempatnya heran. "Kalian tuh kenapa sih?"
"Jawab aja" ucap Jeno dengan nada penuh penekanan.
"Gak mau mikirin gituan gua, Jen"
"Orang tinggal jawab doang kenapa sih"
"Lo kan tau tanggung jawab sebagai pasangan seorang Virzan Courtland itu gede. Gua gak berminat buat ngejalanin hal sebesar itu, ngeliat uncle Maxime doang aja puyeng pala gua. Lagian nih ya, gua bukan papah yang bisa ngasih keturunan" jelas Geo panjang lebar agar keempat sahabatnya itu mengerti.
"Kata siapa? Emangnya lo pernah periksa badan lo? Lo sendiri yang nolak buat lakuin pemeriksaan. Bilang aja lo masih sayang abang kan?" tembak Jeno tepat sasaran.
Geo mendelik kesal. "Bawel lo ah. Daripada ngurusin gua, lo pikirin noh perkataannya Erick. Pake otak jenius lo itu buat mikir" cibirnya dengan satu tangan yang menoyor kepala Jeno.
Tidak mau melanjutkan pembicaraan, Geo memilih memakan makanan miliknya. Cowok itu makan dengan serampangan karena kesal dengan tingkah ke empat sahabatnya.
---
See you