
Siang ini, matahari tidak seterik biasanya, mungkin karena sudah waktunya memasuki musim gugur.
Sebagian pohon sudah mulai kehilangan daunnya, berjatuhan ditanah dengan indahnya. Menampilkan suasana musim gugur yang khas.
Sama seperti suasana disalah satu toko kue dipusat kota yang dihiasi beberapa pohon disekitarnya. Halaman depan toko yang penuh dengan daun yang berguguran karena lokasinya yang berada dia area taman kota.
Antrian panjang didalam toko kue tersebut menjadi pemandangan biasa. Apalagi bagi Ara yang merupakan pelanggan tetap. Gadis itu sudah mengantri hampir 15 menit hanya untuk beberapa potong kue kesukaannya dan sahabatnya.
Rencananya hari ini, ia akan menjenguk Carissa yang masih berada dirumah sakit. Sudah beberapa hari ini, Ara tidak menjenguk sahabatnya itu, lantaran jadwalnya yang cukup padat.
Dan karena hal itu, Carissa selalu merengek setiap kali ia menelpon. Sahabatnya itu marah karena tak ada satupun yang menjenguknya.
"Siang Ara" sapa salah satu karyawan toko. "Siang ka, Ara mau yang biasa ya. Tapi tambahin yang raspberry Lemonade sama cokelat kocoknya dua ya" ucap Ara menyebutkan pesanannya.
"Ok, pudingnya gak sekalian?"
"Ouh untung kaka nawarin. Ara mau satu ya, tapi yang large"
"Kaka ulang pesanannya ya. Red velvet cake 1, Bluberry cake 1, Raspberry Lemonade cake 1, cokelat kocok 2, puding cokelat ukuran large 1"
"Udah sesuai pesanannya ya?"
Ara mengangguk kecil, kemudian memberikan kartu debitnya.
"Tumben kamu beli banyak, Ra. Buat siapa?" tanya karyawan tersebut sambil menyerahkan kartu debit Ara kembali.
"Buat Carissa, ka. Ara mau jenguk dia hari ini"
Mendengar nama Carissa disebut, para karyawan lain ikut mendekat, meninggalkan pekerjaan mereka begitu saja. Untung saja dibelakang Ara sudah tidak ada yang mengantri lagi, kalau tidak Ara yakin ia pasti sudah didemo oleh yang lain.
"Gimana keadaan Carissa, Ra?"
"Operasinya lancar kan Ra?"
"Udah pulang atau masih dirumah sakit?"
"Dia baik-baik aja kan?"
Ara menatap bingung mereka yang memberondonginya dengan pernyataan. Bahkan pemilik toko sudah berdiri disampingnya kini.
"Gimana Carissa, Ra? Gimana operasinya? Ara kok diem aja sih, ayo dong jawab" tanya sang pemilik toko. Raut khawatir tercetak jelas diwajah pria paruh baya itu.
Ara, Sin, Aldre, dan Carissa sudah menjadi pelanggan tetap di toko kue itu sejak toko itu baru dibuka, saat mereka kelas satu JHS.
Keempat sahabat itu juga yang membantu mempromosikan toko kue pada teman-teman mereka, keluarga, bahkan kolega orang tua mereka.
Mangkannya sang pemilik toko dan karyawannya saat menyangi keempatnya, dan menganggap mereka seperti keluarga sendiri.
Ara tersenyum haru, bersyukur karena banyak yang menyayangi ia dan sahabat-sahabatnya.
"Carissa baik paman, kondisinya juga mengalami perkembangan setiap harinya. Dia juga udah bisa menggerakkan tangannya secara perlahan"
Semua orang berucap syukur, kekhawatiran mereka tidak terjadi.
"Paman ingin sekali menjenguknya, tapi paman merasa tidak sanggup. Beberapa hari yang lalu Jason datang kesini membeli kue kesukaan adiknya. Ia menunjukan foto Carissa pada paman"
"Tidak apa-apa paman. Ara minta doanya aja untuk kesembuhan Carissa ya"
"Pasti, kami akan selalu mendoakannya"
"Bagaimana... Dengan Sin, Ra?" Tanya Salah satu karyawan dengan hati-hati.
Mendengar pertanyaan itu membuat Ara terdiam sejenak, tapi kemudian gadis itu kembali tersenyum.
"Sin, dia baik. Masih di rehab, ka. Tapi bulan depan, Sin akan dipindahkan ketempat lain untuk diasingkan"
Mereka mengangguk mengerti, tidak lama melanjutkan pertanyaaan mereka. Kembali pada tempat masing-masing, setelah menitipkan salam untuk Carissa.
Kabar tentang kejadian itu memang sudah tersebar ke penjuru negeri, entah siapa yang menyebarnya. Untung sebelum berita tersebut masuk tv, Justin dan Devan sudah lebih dulu mengatasinya.
"Ara, ini pesanannya dan ini kami titip untuk Carissa, ya" Ara mengangguk kecil.
"Carissa pasti seneng. Kalau gitu Ara pamit dulu ya semuanya, takut anaknya ngambek kalau Ara kelamaan"
"Hati-hati nak"
"Iya paman"
Ara masuk kedalam mobil. Kendaraan roda empat itu mulai melaju membelah jalanan kota.
Beberapa puluh menit kemudian Ara tiba di rumah sakit, beruntungnya jalanan tidak terlalu macet siang ini.
Ara melangkah cepat masuk kedalam lobi, setelah menyapa security yang berjaga didepan. Gadis itu melangkah kan kakinya menuju resepsionis.
"Siang sus" sapanya ramah.
"Siang, Ara"
"Ini, nanti tolong bagi-bagi ke yang lain ya, sus" Ara meletakkan paper bag berisi cake blueberrynya di atas meja respsionis.
"Aduuuhh, jadi ngerepotin gini"
"Haha, gak apa-apa sus. Kalu gitu Ara naik dulu ya"
"Terimakasih, Ara"
"Sama-sama"
Ceklek
Wajah cemberut Carissa menjadi pemandangan pertama yang Ara dapatkan begitu ia masuk kedalam ruangan bernuasa putih itu.
"Lama" ucap Carissa dengan ekspresi yang dibuat marah.
"Ya, sabar dong. Kamu pikir aku superman yang bisa terbang cepet" Ara membalas dengan sedikit omelan.
"Kok kamu jadi ngomel!"
"Hehehe. Abisnya kamu bawel"
"Eehh, kami sendirian?"
"Ka Sania lagi ke kantin"
"Ka Sania udah pulang?" Ara cukup terkejut mendengar nama kaka ipar Carissa yang lain.
Sania Forbes, yang telah berubah menjadi Sania Alexander. Istri dari David Alexander tadinya wanita itu tinggal di luar negeri, karena menemani sang anak yang menempuh pendidikannya di negeri orang. Tapi sepertinya setelah mendapat kabar tentang adik iparnya, wanita itu memilih untuk kembali.
"Baru sampe kemaren si sebenernya"
"Dano?"
"Gak ikut. Bocah itu ada ujian, paling pulang pas liburan nanti"
Dano Alexander, putra sulung David Dan Sania. Bocah rese yang sampai saat ini gak pernah akur sama Carissa. Kalau ketemu, keduanya akan menjadi Tom and Jerry dunia nyata.
Ara beroh ria. "Kirain dia ikut"
"Kalau dia ikut yang ada kondisi aku makin sakit" keluh Carissa. Ara mencebik, "alah, padahal kamu kangen kan sama keponakan tercinta"
"Ah suka malu-malu gitu"
"ARAAAAA"
"HAHAHAHAHAHA"
Ara meletakkan kuenya di atas nakas yang kosong. Biasanya tempat itu ramai dengan berbagai makanan.
"Lah? Sepi amat ini nakas" serunya heran.
"Ya, udah dibersihin lah. Gak juga sih, dibawa pulang sama ka Sena" ucap Carissa.
"Kenapa dibawa pulang?"
"Kan besok aku udah pulang, Ra. Ka Bella bilang kondisi aku udah Bagus, jadi udah bisa rawat jalan"
"Kamu gak liat badan aku udah gak kaya mumi" tunjuk Carissa pada perban yang tak lagi menempel pada tangan kakinya, meski masih menggunakan gips.
"Lah iya. Kok aku baru engeh"
"Sibuk pacaran mulu si"
"Apasih ah"
"Aldre belum pulang?" Tanya Carissa begitu teringat sahabat laki-lakinya itu. Ara menggeleng lemas, "Aldre lagi sibuk banget, susah dihubungin dari semalam"
"Jangan khawatir gitu, positif thinking aja. Siapa tau dia lagi selingkuh"
"CARISSAAAAAAAA"
"Hihihihi
.
.
Seoul, Korea Selatan
Disebuah ruangan cukup besar bernuansa gelap. Dua orang lelaki tengah berbicara, dilihat dari gestur mereka yang tampak santai, orang lain pasti akan berpikir bahwa mereka adalah teman akrab.
Tapi kenyataannya, keduanya tidak hanya berbicara, tapi juga beradu argumen. Pembahasan yang sejak dua jam yang lalu tidak juga menemukan titik akhir.
"Sudah aku katakan berkali-kali padamu, masalah ini tidak akan selesai dengan mudah! " suara yang terdengar marah itu meluap dipenjuru ruangan.
"Dan sudah aku katakan juga padamu, bahwa menjatuhkan mereka tidaklah semudah itu sialan!" Balas lawan bicaranya dengan tajam.
"Kau hanya perlu mengikuti rencanaku!!" Pria dengan jas biru gelap itu mencoba meyakinkan lawan bicaranya.
"Mengikuti rencanamu?!" Pria itu mendengus. "Rencana apa yang kau maksud? Rencana yang tidak pernah mengalami keberhasilan, begitu?!" Ujarnya remeh.
"Tapi kali ini kau harus percaya bahwa rencanaku akan berhasil, master" masih dengan usahanya yang meyakinkan lawan bicaranya.
"Aku tidak mau mengambil resiko dengan rencana bodohmu!"
"Tapi--"
Ceklek
Suara pintu yang terbuka menghentikan perkataan pria berjas biru itu. Kedua pria itu menoleh kearah pintu yang menampilkan sosok pria tampan dengan setelan abu-abunya, yang lebih muda dari keduanya.
"Akhirnya kau datang juga, son" ucap pria yang dipanggil master itu.
"Ada apa kau memanggilku?" Tanya pria tampan itu datar.
"Duduklah, ada yang ingin sku bicarakan denganmu"
Pria tampan itu menurut, melangkah menuju sofa yang berada tepat dihadaan kedua orang itu. Lalu mendudukan dirinya disana.
"Jadi?"
"Kau tidak akan membiarkan dia menangani ini kan?" Seru pria berjas biru.
"Tenanglah, Neka. Kau akan tau maksud ku nanti"
Pria bernama Neka itu menggeram marah, jika bukan seperti yang dikatakannya, apalagi tujuan pria tua itu memangil bocah ingusan ini kemari.
"Menangani apa maksudmu?" Tanya sosok tampan itu tak mengerti.
"Kau tau masalah yang terjadi dengan kelompok kita akhir-akhir ini bukan?"
"Lalu?"
"Aku ingin kau membantuku"
"Membantu apa maksudmu?"
"Aku ingin.... Kau membawa black sweeper ke markas kita, dan memaksanya untuk bergabung dengan kita"
Penjelasan sosok yang dipanggil Master itu membuat sosok tampan itu tertawa lebar. Apa pria tua itu bodoh? Apa maksudnya si bangkotan ini ingin dia menyerahkan nyawanya?
"Kenapa kau tertawa sialan?!" Ujar si jas biru marah.
Sosok tampan itu berhenti tertawa, kembali mendatarkan ekspresinya. "Seingatku.... Aku bukanlah bagian dari kelompok ini" ucapnya.
"Aku tau, tapi aku ingin kau menuruti perkataan ku"
"Kau tidak punya hak mengaturku. Who are you? Aku ini orang bebas. Dan lagi aku tidak mau mencari masalah dengan pria gila sepertinya"
"Sepertinya kau lupa dengan hutang-hutangmu"
Sosok tampan itu terdiam. Reaksi yang ditampilkannya membuat master menyeringai, merasa kemenangan berada dipihaknya.
"Aku? Atau kau yang berhutang?"
.....
T B C?
BYE!
Red velvet
Red Velvet cake
Blueberry Cake
Raspberry Lemonade cake
puding cokelat