Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
127 | LAXO LAGI?



Kevin, Rion, dan Justin. Ketiganya memandang antusias bangun besar dengan gaya kuno dihadapan mereka. Sebuah bangunan besar yang bertahun-tahun lalu pernah menjadi lokasi pertarungan hebat Blacksweeper. Harusnya tempat ini sudah hancur, tapi sekarang justru terlihat utuh seolah tidak pernah terjadi apapun disana sebelumnya.


"Markas besar The Cruel'd? Tidak menyangka kita kembali lagi kesini" ujar Rion.


"Ssss" Justin mencengkram lehernya kuat. Kalung itu mencekik lehernya begitu kuat.


"Ada apa ka Justin?" Kevin dan Rion panik melihat Justin yang mencengkam lehernya sendiri.


"Vin, liat lehernya ka Justin" tunjuk Rion. Ada sebuah cahaya merah yang berpendar dari sela-sela tangan Justin.


"Sepertinya kalung itu mengenali tempat ini" ucap Kevin.


Justin melepaskan cengkramannya pada lehernya sendiri begitu dirinya tidak lagi merasakan sakit disekitar lehernya. Kalung ini bereaksi cepat pada hal-hal yang berhubungan dengannya.


"Tidak ada penjaga disini" Rion menatap waspada sekelilingnya. Merasa aneh dengan kondisi sekita dimana seharusnya markas ini dijaga ketat.


"The Cruel'd tidak pernah meletakkan penjaga disekita markas. Mereka hanya akan menjaga dari dalam" ungkap Justin.


Kevin dan Rion saling pandang, tatapan mereka menyiratkan kebingungan.


"Kenapa?" Tanya Kevin.


Justin mengangkat tangannya keudara, mulutnya merapalkan sebuah kata yang tidak Kevin dan Rion mengerti. Justin menutup sebelah matanya, mendongakkan kepalanya keatas dengan satu netranya yang masih terbuka menyorot tepat puncak menara dari bangungan besar tersebut.


Sebuah cahaya berwarna violet bercampur biru tiba-tiba saja keluar dan mengelilingi seluruh bangunan besar markas utama The Cruel'd. Kevin dan Rion terperangah mendapati pemandangan itu didepan mata mereka.


"A-apa itu?" Tunjuk Kevin.


"Perisai" jawab Justin.


"Apa?!"


"Usaha apapun yang kau lakukan untuk menghancurkan bangunan ini akan menjadi sia-sia selama perisai itu belum dihancurkan. Sama saja seperti kau menghancurkan lego anak-anak" jelas Justin.


Kevin mengerti sekarang, kenapa bangunan ini masih berdiri kokoh setelah dirinya hancurkan seolah tidak terjadi apapun. Jadi perisai ini alasannya.


"Bagaimana cara menghancurkan perisainya?"


"Kalung ini saja tidak cukup kurasa. Kita membutuhkan sesuatu yang lebih besar dan kuat"


"Apa itu?"


"Entahlah. Ayo masuk, kita cari tau jawabannya didalam"


Ketiganya dan beberapa pasukan yang ikut dengan mereka melangkah masuk kedalam bangunan. Bagian dalam bangunan tersebut tidak ada bedanya dengan sebuah mansion biasa, walau disisi lain terlihat seperti sebuah museum. Museum pribadi lebih tepatnya.


"Masih sama ternyata" Rion menelisik setiap sudut ruangan, tidak ada yang berubah dari terakhir kali dirinya masuk kesini.


"Memangnya kau berharap bangunan ini berubah menjadi apa?!" Seru Kevin sinis.


"Calm down calm down"


"Kenapa dulu kau menghancurkan bangunan ini?" Justin menatap Kevin meminta penjelasan darinya.


Kevin mengedikkan bahunya. "Tidak ada alasan lain selain mengejar musuh yang bersembunyi disini"


"Maaf jika saya menyela, tapi setau saya bangunan ini sudah lama tidak ditempati, tuan" ucap salah satu anggota.


Justin mengangguk singkat. "Ya aku tau. Markas The Cruel'd memang tidak dipergunakan secara pribadi atau seperti markas pada umumnya. Kami hanya akan menggunakannya dalam situasi genting. Dan jika aku tidak salah mengira, Meso dan pasukkannya pasti akan melarikan diri kesini"


'Pantas ka Devan memberikan syarat itu saat ka Justin meminta restu' Kevin mencibir dalam hati.


"Jadi, apa rencana kita?" Rion menatap Kevin dan Justin bergantian.


"Selagi menunggu kedatangan mereka, kita telusuri bangunan ini. Aku akan mencari cara untuk menghancurkan bangunan ini. Berpencar dan jangan sampai keberadaan kalian diketahui" perintah Justin.


"Mengerti" jawab mereka kompak.


.


.


Revan memutar bola matanya malas. Wajahnya yang semula bersemangat berubah menjadi jengah. Benar dugaan Isabella, kemanapun Revan bertarung musuh yang dihadapinya akan tetap sama, yaitu Laxo.


Laxo dan Farthur tertawa kecil melihat ekspresi menyenangkan musuh abadi mereka.


"Dia yang waktu itu kan?" Jovan ingat pria dengan kacamata dan cerutu dibibirnya itu.


"Ya, musuh abadi grandpamu. Pria itu akan selalu ada dimanapun grandpamu bertarung" sahut Devan.


"Apa grandpa tidak bosan?" Pertanyaan super polos Jovan mengundang tawa yang lainnya. Laxo mendung mendengar pertanyaan menyebalkan bocah itu, sedangkan Farthur memasang wajah mengejeknya pada Laxo.


"Lebih dari bosan jika kau ingin tau, Prince" ujar Revan.


Kedatangan mereka disambut antusias oleh Meso dan para sekutunya. Revan bisa melihat peringkat pertama sampai sepuluh jajaran musuhnya berdiri disebelah Meso.


"Jadi yang ditengah itu Meso?" Tunjuk Revan.


Devan mengangguk. "Aku rasa ya. Dia mirip dengan Napolen"


Revan menggeram kecil, ia ingin menyelesaikan masalah ini secepat mungkin karena demi tuhan Revan sudah sangat merindukan istri cantiknya. Menghadapi Laxo dan musuh-musuhnya yang lain akan sangat menbuang waktu.


"Kenapa Revan? Kau terlihat frustasi?" Ledek Laxo dengan wajah menyebalkannya.


"Aku merindukan istriku" dengus Revan.


Ekpresi Laxo berubah menjadi datar. "Cih bucin!"


"Jangan iri kau duda tua!"


"Bajingan"


Revan memejamkan matanya, merapalkan sebuah mantra dalam hati. Satu menitkemudian matanya kembali terbuka, netranya yang semula biru berubah menjadi gelap. Bertepatan dengan itu sebuah pedang panjang berwarna hitam legam dengan ukiran phoenix berwarna merah disetiap sisi pedangnya muncul tepat dihadapan Revan.


"Brengsek! Dia mengeluarkan'nya'"


"Revan sialan!"


Revan menyeringai lebar. "It's over!" Desisnya dingin.


.....


T b c?


Bye!