Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
134 | RION MASAK?



Sofia dan Cassandine yang baru saja keluar dari kamarnya pagi ini dikejutkan dengan kehadiran kedua suami mereka.


Pasalnya tidak ada yang mengatakan kapan Revan dan yang lainnya akan tiba di Amerika, dan pagi ini mereka justru sudah berada dimansion Courtland.


"Ka?" Sofia memanggil sang suami yang tengah terpejam dengan tenang diatas sofa ruang santai.


Netra biru Revan terbuka, kepalanya menoleh kebelakang pada sang istri dan menantunya yang sepertinya shock melihat kehadirannya.


Revan tersenyum menggoda kearah Sofia. "Kenapa kaka sudah ada disini? Kenapa tidak bilang kalau akan kembali hari ini?" Omel Sofia.


"Surprise" jawab Revana singkat.


Sofia menatap kesal suaminya. "Ck! Dimana yang lain?"


"Dikamar, mereka sedang beristirahat"


"Apa Justin baik-baik saja?"


Revan terdiam, begitupun Devan yang sejak tadi hanya menyimak walau dengan masa terpejam.


"No. Dia ada diruang rawat, Justin masih belum sadar" ucap Revan pelan.


Mansion Courtland memang memiliki ruang perawatan khusus jika seandainya ada dari keluarga mereka yang sakit parah dan tidak ingin dirawat dirumah sakit, bahkan ada ruang operasinua juga disini. Sebenarnya ruangan itu dibuat untuk Acnelyn Courtland, saudara kembar Javin dan Nemora yang sudah meninggal puluhan tahun lalu.


"Papah"


Sofia dan Cassandine tanpa sadar menahan nafas secara bersamaan, begitu juga dengan Revan yang mendengar suara sang putri.


Suara langkah kaki yang berlarian menuruni anak tangga tertangkap indera penderangan keempat orang dewasa itu.


"Papah sudah pulang? Dimana ka Justin dan Jovan?" Begitu tiba dibawah Isabella langsung menyerbu sang papah dengan pertanyaan.


"Justin dan Jovan ada diruang rawat, princess" bukan Revan yang menjawab, tapi Devan yang kini mulai membuka matanya.


"Diruang rawat? Ada dengan suamiku? Kenapa dia ada ruang rawat?"


"Tenanglah sayang" Sofia menyentuh bahu putrinya, berusaha menenangkan Isabella yang sebentar lagi pasti akan mengamuk.


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang mah?!" Isabella menepia kasar tangan mamahnya.


Revan menggeram marah, tidak suka melihat sikap sang anak pada istrinya tapi Sofia meyakinkan suaminya bahwa dia tidak apa-apa. Isabella sedang cemas dengan kondisi suami dan anaknya wajar jika dia tidak bisa mengontrol dirinya.


"Justin kehabisan energi saat menghancurkan markas TCruel'd bersama Jovan" jelas Devan. "Princess, maaf kaka tidak bisa menjaga suamimu. Justin-- dia sempat kehilangan nyawanya karena melawan Meso"


Devan tidak ingin menyembunyikan apapun dari adiknya meski ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakannya.


Air mata Isabella luruh, jadi firasat buruknya selama ini....


"Kalung itu menjadi nyawa pengganti bagi Justin. Saat Meso membunuh Justin, setengah dari kekuatan kalung itu yang menggantikannya" jelas Devan lagi.


Isabella berbalik, segera berlari menuju ruang rawat dimana sang suami dan putranya berada. Air matanya mengucur deras membentuk sungai kecil dipipinya.


BRAKK!!


Jovan tersentak kaget dari tidurnya. Matanya membelalak mendapati sang bunda berdiri diambang pintu dengan air mata yang berderai.


"Bunda...."


Isabella mendekat perlahan, netra abu gelapnya bisa menangkap banyaknya alat rumah sakit yang menempel pada tubuh suaminya. Seolah menjadi penopang hidup lelaki itu.


"Kenapa Jovan tidak mengangkat telpon bunda?" Isabella bertanya dengan suara bergetar.


Jovan menunduk dengan perasaan menyesal. "Maaf bunda, Jovan tidak tau harus mengatakan apa jika bunda bertanya tentang ayah" jawabnya lirih.


Isabella menarik nafas panjang, "Jovan baik-baik saja?" Tanyanya lembut.


Jovan mengangguk kaku. "Mm. Jovan tidak apa-apa bunda" netranya yang berbeda warna memandang sedih bundanya. "Bunda jangan sedih, ayah pasti akan sembuh" ucapnya menyemangati.


"Bunda tau, ayahmu lelaki yang hebat dia tidak akan menyerah semudah itu" jawabnya dengan senyum kecil.


"Ayah!!!"


Jovan dan Isabella terkejut, mereka kompak menoleh pada Valerie yang kini sudah berlari kearah ranjang. Gadis kecil itu naik keatas ranjang dan langsung memeluk erat tubuh sang ayah.


"Ayah... Ayah kenapa? Hiks hiks hiks" Valerie menangis tersedu. Padahal gadis kecil itu sangat menantikan kepulangan sang ayah.


"Ayah... Bunda ayah kenapa? Jovan ada apa dengan ayah?" Jovan hanya bisa menunduk tanpa berani menjawab pertanyaan kaka kembarnya.


Jesslyn melangkah masuk, diikuti Jeno, Jeven, dan juga si kecil Fero digendongan abangnya.


"Jovan!!! Kenapa kamu diam?! Jawab aku! Ada apa dengan ayah? Kenapa ayah seperti ini?!" Jesslyn menarik kasar tubuh adik kembarnya.


"Jesslyn ayah hanya butuh istirahat sebentar sayang, dia akan baik-baik saja" ucap Isabella menenangkan putrinya.


"Bunda akan membantu kesembuhan ayah tapi bunda butuh Jovan, jadi biarkan adikmu istirahat sebentar oke?"


"Baik bunda"


Jovan berjalan kearah sofa yang sudah berubah menjadi ranjang kecil. Merebahkan tubuhnya disana guna menambah energinya yang terkuras hebat.


"Sekarang kita keluar, dan biarkan ayah dan bunda beristirahat. Ayo Arie" Isabella hendak menggendong putri bungsunya, tapi Valerie menolak. Dirinya ingin tetap disini menemani sang ayah.


Isabella mengalah, mengajak keempat anaknya yang lain untuk keluar dari sana.


.


.


Diruang keluarga.


"Kenapa kamu keluar Ara?" Tanya Revan pada putri bungsunya.


"Maaf papah, Ara tidak tau jika kalian sudah kembali. Ara keluar ingin mrmbuat susu" jelas Ara gugup.


"Kamu bisa meminta tolong pada siapapun bukan?"


"Maaf papah"


"Sudahlah ka, biarkan Ara. Kasian dia jika harus terkurung terus didalam kamarnya" ucap Sofia.


"Dia masih belum menjalani hukumannya jika kamu lupa" Revan melirik Aldre yang menenduk.


Lelaki itu serius dengan perkataanya untuk patuh tidak menemui Ara sebelum hukumannya selesai. Seerti saat ini, padahal sang kekasih ada dihadapannya, tapi Aldre justru malah menunduk dengan mata terpejam, tidak menatap Ara sedikitpun.


"Bagaimana kandunganmu Ara?" Tanya Devan.


"Baik kaka, dokter bilang tidak ada masalah" jawab Ara tenang.


"Masih morning sickness?"


Ara mengangguk. "Morning sicknessnya tidak terlalu parah ka Devan. Pagi ini Ara bahkan belum memuntahkan apapun" ucap Carissa menjelaskan.


"Syukurlah itu artinha Ara tidak kesulitan untuk makan"


"Justru itu masalahnya" nada suara Carissa terdengar agak frustasi.


Devan menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kenapa?"


Carissa melirik sahabatnya kesal sebelum menjawab pertanyaan Devan. "Ara cuma mau makan masakan ka Bella, dan aku yang harus dikorbankan untuk berbicara padanya"


"Tidak ada yang mau membantuku ka Devan" Carissa menatap Devan dengan wajah yang dibuat sedih, berharap lelaki itu mau menolongnya.


Devan menutup mulutnya, menahan tawanya yang hampir meledak. "Semangat"


"Aaahhhh ka Devaannn maaahhh. Tolongin aku dong" protesnya.


Ara terkikik geli, begitupun Aldre dan yang lainnya. Dengan gemas Carissa menarik pipi sahabatnya itu yang sukses membuat si empu mengaduh kesakitan.


"Sakiitttt" ringis Ara kecil.


"Berarti pagi ini Ara belum makan apapun?" Kali ini Rion yang bertanya. Ara kembali menggeleng sambil menganggkat gelas susunya yang sudah kosong. "Tapi Ara sudah minum susu" ucapnya riang.


"Mau ka Rion buatkan sesuatu?"


Mata Ara dan Carissa berbinar terang mendenganya. Kapan lagi dimasakkin oleh Mafia yang super sibuk.


"Emangnya ka Rion bisa masak?" Tanya Carissa semangat.


Rion mengangguk. "Bisa dong" ucapnya dengan sombong.


"Emang sejak kapan lu bisa masak yon?" Tanya Kevin polos.


"Yee si anjing" Rion mendelik kesal. Saka tertawa. "Terpaksa itu juga ka, soalnya ka Sarah kalau ngambek kan gak mau masak" seru Saka bocor.


"Pantesan dia belajar masak. Padahal waktu di Academy mah boro-boro. Disuruh masukin kepiting ke dalem panci aja udah kaya mau perang" sahut Daniel.


Neyoura, Kenzo, Verrel, dan anggota the Ace yang lain tertawa keras mengingat kejadian itu.


"Anjing banget emang! Terus aja terus"


.....


T B C?


BYE!