
Isabella menatap tajam suaminya yang baru saja pulang setelah menghilang semalaman. Lelaki itu masuk kedalam kamar dengan pakaian yang lusuh dan berantakan, bisa dia tebak lelaki itu tidak kembali ke mansion Scanders.
"Aku pikir kau mati! " celetuk Isabella tajam. Justin memandang dingin sang istri. "Jangan berkelahi denganku sekarang, atau putramu akan terbaring koma dirumah sakit. "
"Biasakan untuk mendengarkan penjelasan orang, boo! Kau terlalu sering mengambil kesimpulan sendiri. "
"Berkacalah pada tingkahmu!! "
Justin masuk kedalam kamar mandi, membersihkan dirinya. Justin jelas akan dengan senang hati mendengarkan penjelasn sang istri, seandainya wanita yang baru melahirkan itu tidak bertingkah menyebalkan.
"Ka Justin sudah pulang? " Tanya Galih yang baru saja masuk.
"Ya, bersyukur dia tidak mati. " sahutnya sinis.
BRAKK!!!
"Dear... " seru Galih memperingati. Dia memagang dadanya yang berdegup kencang.
"Huftttt, hehehe. "
"Kau memang menyebalkan, dear. " kesal Galih.
Isabella mengedipkan sebelah matanya. "Kau tau aku dengan baik, Ge. "
"Sudahlah, lebih baik aku keluar. Aku tidak sudi menjadi saksi peperangan rumah tanggamu yang kesekian kalinya. " seru Galih sebelum lelaki itu berhambur keluar dengan cepat. Isabella memandang aneh sahabatnya, "gak jelas. "
Tidak lama Justin keluar, lelaki itu terlihat lebih segar dari sebelumnya. Isabella termenung sejenak, memikirkan kata-kata yang tepat untuk dia ucapkan.
"Diam!! " belum mulutnya terbuka, suaminya sudah lebih dulu menyentaknya, membuat wanita itu mengumpat kasar, didalam hatinya.
"Hai baby, miss you father? Hmm. "
"I miss you so much. I'm sorry to leaving you. "
"Hai baby, nyinyinyinyi. Hilih. "
"Maafkan ayah ya sayang, karena harus membiarkanmu lahir dari bunda yang hanya seperempat kewarasannya. " sindir Justin pura-pura menyesal.
"What the-- "
"Berisik!! "
.
Sudah setengah jam Isabella hanya terdiam kaku. Sesekali mencuri pandang pada sang suami yang tengah asik dengan ponselnya.
Tok tok tok
Pintu terbuka, Isabella menggeram rendah begitu melihat siapa yang datang. Dalam sepersekian detik ekspresinya berubah cepat, menjadi tenang dan santai.
"Aldre. " panggilnya pelan.
Aldre tersenyum manis, yang lebih mirip sebuah seringai kecil. Dia bisa melihat perubahan cepat ekspresi wanita itu begitu melihatnya.
"Apa aku mengganggu? Aku dengar ka Bella telah melahirkan, jadi aku datang kemari. "
"Masuklah Aldre. Kau sendiri? " Tanya Justin. Aldre mengangguk, melirik sebentar sang kaka sebelum memeluk kaka iparnya.
"Aww, dia masih menggunakan incubator? "
"Ya, tubuhnya masih lemah karena dia lahir premature. "
"Hmm, sayang sekali padahal aku ingin menggendongnya. "
"Ohh, aku bawakan hadiah untuknya. " Aldre menyerahkan paper bag ditangannya. Kedua suami istri itu mengernyit bingung.
"Bukankah itu brand sebuah toko perhiasan? " Tanya Isabella. "Ya, aku membelikan sebuah gelang untuknya. "
"Aku tau, ka Bella bisa menyimpannya dan memberikannya setelah dia besar. Ada ukiran namanya digelang itu. "
"Kau tau? "
"Tentu saja, ayah memberitahuku. "
Isabella jelas tau adiknya itu berbohong. Aldre hampir tidak pernah berkomunikasi dengan sang ayah sejak dia kembali, jadi tidak mungkin jika dia mengetahui tentang kelahirannya dari sang ayah.
Tapi dia akan memilih diam saat ini. Hubungannya dengan sang suami masih belum membaik, bisa runyam jika dia menyerang langsung lelaki itu sekarang. Dia akan memulai dengan halus dan pelan, itu lebih menguntungkannya.
Justin begitu fokus pada kegiatannya yang tengah mengamati hadiah dari Aldre. Sampai tidak menyadari bahwa kedua orang itu sedang berperang laser lewat tatapan mereka.
"Apa kau memilihnya sendiri, Aldre? "
"Ya ka Justin. Apa ka Justin menyukainya? "
"Sangat indah, terimakasih hadiahnya. "
"Sama-sama. "
"Baiklah, kalau begitu aku akan keluar, sepertinya Ka Bella akan istirahat. " Aldre berbalik hendak keluar, tapi panggilan Isabella menghentikan langkahnya. "Aldre.. "
"Ya ka Bella? " Aldre menyahut dengan senyum manisnya. "Sepertinya kau harus bertemu ka Leo! " senyum lelaki itu surut secara perlahan. Berbalik begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Brakk
Aldre membanting pintu dari luar dengan keras, membuat orang yang ada didalamnya sedikit terkejut.
"Peran apa yang sedang kau mainkan dengannya? " Tanya Justin memicing.
"Masih butuh penjelasan ternyata. " sinisnya.
.
Aldre menggeram rendah, langkahnya terhenti ditengah - tengah koridor. Tinjuannya melayang kearah Pilar disebelahnya. Dia mulai kehabisan akal untuk membuat wanita itu berhenti ikut campur.
"Sepertinya aku harus menyerangmu dari hal-hal dasar ka Bella! "
"Kau menyebalkan, kau mengacaukan rencanaku. "
"Sekarang aku harus berurusan dengan Leo. Damn!! "
Sepertinya kami harus bekali-kali mengingatkan kepadamu Aldre, siapa Isabella Courtland! Kau selalu lupa tentang hal itu.
Aku tidak akan membuatmu menjadi pecundang tenang saja, rencanamu akan tetap berjalan lancar. Hmm?
Daripada memikirkan bagaimana menangani mereka, lebih baik kau fokus pada rencanamu.
"Alright, terimakasihh sudah mengingatkan."
Aku beritau kau, Isabella tidak pernah perduli dengan orang lain ketika dia menjalankan rencananya.
"Ahhh, aku mengerti sekarang. "
Good boy!
Aldre kembali melanjutkan langkahnya menuju lift. Dia tau jelas bahwa kaka dan kaka iparnya ada disini, jadi sebisa mungkin dia akan memastikan bahwa tidak akan bertemu dengan mereka.
.....
T B C ?
bye!