Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
2. Bertengkar (2)



"Yee disini bocah. Di cariin dari tadi juga"


Aldre berjalan masuk ke dalam cafe miliknya, menghampiri sang keponakan yang sedang asik bermain dengan kucing-kucing di sana.


"Ayo pulang" ajaknya pada Erick.


Erick mendongak menatap sang paman, kepalanya menggeleng. "Gak mau. Masih mau disini"


"Udah hampir sore. Nanti kesini lagi kapan-kapan" bujuk Aldre.


"Aaahhhh, paman maahhh" Erick merengek tak terima.


Aldre menarik lengan Erick keluar dari cafe. "Ayoooo"


"Huh paman jelek!" cibir Erick. "Bodo amat" balas Aldre tak perduli.


Sesampainya di villa, Ara sudah menunggu keduanya bersama si kembar. Wanita cantik itu baru saja selesai membereskan barang-barang yang mereka bawa tadi.


"Darimana?" tanya Ara pada sang suami. "Cafe. Nyasar ke cafe dia" jawab Aldre.


"Oh. Cuci tangan dulu, Erick. Kamu habis megang kucing kan?"


Erick mengangguk. "Iya bibi" kemudian berjalan menuju wastafel.


Ara memperhatikan Erick yang terlihat tak bersemangat. Padahal sebelumnya anak itu terlihat begitu excited, tapi kenapa sekarang jadi murung?


"Badmood banget kayanya" gumam Ara masih memperhatikan Erick yang tampak lemas.


"Biasalah. Paling juga Jeno" sahut Aldre yang juga ikut memperhatikan keponakannya itu.


"Jeno terlalu sulit di tebak. Anak itu terlalu mirip dengan ayahnya"


"Setuju"


"Apasih ah"


"Hehehe"


**


Setibanya di rumah, Erick langsung bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Tak lupa membawa barang-barang bekas piknik mereka tadi.


"Bi, minta tolong taruh dapur ya. Erick mau ke kamar dulu, ngantuk soalnya" ucap Erick pada salah satu pelayan sambil menyerahkan keranjang pikniknya.


"Baik, den Erick"


"Terimakasih, bibi"


"Sama-sama, den"


Kemudian Erick berjalan menuju kamar miliknya. Kantuknya sudah tak bisa ia tahan lagi. Tidur di mobil tak membuatnya tenang karena si kembar terus mengoceh sepanjang perjalanan. Tak mengerti bagaimana bisa dua bayi itu begitu aktif di sore hari.


Brukk..


Erick menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang setelah melempar tas miliknya dan juga membuka sepatunya lalu meletakkannya sembarangan. Bocah 14 tahun itu mengubah posisinya, merangkak naik ke tengah ranjang. Tak butuh waktu lama bagi Erick untuk langsung mengarungi alam mimpi.


Skip time..


Tepat pukul 7 malam, Erick terbangun dari tidurnya. Remaja tampan sekaligus cantik itu bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dirinya tak sempat mandi begitu sampai tadi karena terlalu mengantuk.


20 menit kemudian Erick keluar dalam kondisi yang lebih segar. Satu tangannya bergerak mengusak rambutnya yang basah dengan handuk, dan satu lagi sibuk mencari di mana ponselnya berada.


Setelah ketemu, Erick mendudukan dirinya di pinggir ranjang, membuka ponsel dan langsung menyalakan data. Bertepatan itu, panggilan telpon dari Jeno langsung menyambut nya.


"Haish. Lama-lama dia seperti penguntit"


Tak perduli dengan Jeno, Erick membiarkan ponselnya terus berdering dan memilih untuk keluar dari kamar.


Setibanya di bawah Erick langsung berjalan menuju dapur. Ingin membuat segelas minuman dingin.


"Erick, bibi kira belum bangun. Ayo makan malam" ajak Ara begitu melihat Erick masuk ke dapur.


"Tidak bibi, Erick tidak ingin makan. Erick ingin minum air dingin aja" tolak Erick.


"Loh, emangnya gak lapar?"


Erick menggeleng pelan. "Kalau gitu, bibi buatin cemilan aja ya. Mau?" tawar Ara.


Erick mengangguk. "Boleh bibi. Terimakasih"


Erick berjalan menuju kulkas, mengeluarkan sekotak jus jeruk dari dalam kulkas. Menuangkannya ke dalam gelas, lalu setelahnya memberikan beberapa batu es.


Sedangkan Ara menyiapkan kentang goreng dan dua buah sosis untuk Erick. Juga kue kering untuk keponakannya itu.


"Nah selesai" seru Ara riang. Meletakkan piring berisi kentang dan sosis, juga se toples kue kering ke atas nampan.


"Terimakasih, bibi. Kalau gitu Erick balik ke kamar dulu ya" pamit Erick.


"Nanti kalau lapar, bilang bibi ya"


"Siap"


Erick membawa nampan berisi jus dan cemilan miliknya menuju kamar. Rencananya ia akan ngemil sambil menonton.


**


"Kau seperti orang yang habis putus cinta" ledek Jovan pada Jeno yang sejak siang tadi wajah kusutnya tak kunjung menghilang.


"Ku lihat-lihat kau semakin mirip tante-tante yang senang menggosip. Sudah masuk grup arisan ya?" balas Jeno tenang.


"Sialan" spontan Jovan kembali mengumpat mendengar ucapan kaka kembarnya.


"Jovan." tegur Justin.


"Maaf ayah" ucap Jovan pelan. Mata beda warnanya mendelik tajam pada Jeno yang balas menatapnya penuh kemenangan. Mulut tajam bocah itu sulit sekali di lawan.


Jesslyn dan Jovan hanya terkikik geli melihat kelakuan keduanya. Jovan memang tak pernah kapok menganggu Jeno, meski selalu kalah.


Sedangkan Harena dan Valerie hanya saling pandang. Kedua gadis kecil itu tak mengerti dengan situasi di depan mereka.


"Berhenti mengganggu kaka mu, Jovan" ucap Isabella pada putranya itu.


"Tapi dia memang abis putus cinta, bunda" ujar Jovan tak mau kalah.


"Haish, anak ini"


Jeno bangkit dari duduknya, memohon undur diri untuk kembali ke kamarnya karena makan malam sudah selesai.


"Oh. Kata Jovan ayah seperti pedofil" ucap Jeno sebelum meninggalkan meja makan.


Mata Jovan melotot panik mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jeno. Bagaimana bisa bocah itu mengadukan perkataannya tadi siang pada siang?


Justin menoleh pada sang putra yang memiliki wajah persis seperti dirinya itu. "Kamu bilang ayah pedofil?" Tanyanya dengan sebelah alis menukik.


Jovan menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak ayah" menoleh pada sang bunda meminta pertolongan.


"Benarkah?" Tanya Justin lagi tak percaya.


"Hanya bercanda ayah. Jovan minta maaf, itu karena bunda ngeledek Jovan"


"Loh kok bunda?" Protes Isabella tak terima di salahkan.


"Ya kan emang bunda. Bunda bilang Jovan kaya pedofil"


"Tapi ayah gak perna genit sama bunda waktu bunda masih kecil. Berarti bunda gak salah dong"


"Aaahhh bundaaaaaa"


"Mobil mu ayah sita" ucap Justin sambil menengadahkan tangannya. Meminta Jovan menyerahkan kunci mobilnya.


"Tapi ayah--"


"Tidak ada tapi Jovan. Kemarikan kunci mobil mu" ucap Justin tak ingin di bantah.


"HAHAHAHAHAHAHAHA" tawa keras Jeno terdengar dari lantai dua. Membuat Jovan menggeram kesal karenanya.


"JENO BAJINGAN!!" Teriak Jovan lantang.


"JOVAN SCANDER!!" Tegur Justin tak kalah keras.


****


YUHUUUUYUUUUUU


SEE YOU NEXT CHAP!!