
Kejadian yang dialami Riyani kemarin siang kini kembali terulang. Bedanya yang mengalami adalah Jesslyn. Gadis cantik itu hampir saja melontarkan umpatan kasar di pagi hari jika tidak mengenali siapa tamu tak di undang yang datang sepagi ini ke rumahnya dan membuatnya terkejut.
"Haiasshh. Apa kau gila?" Semburnya pada si pelaku yang justru malah tertawa tanpa dosa.
"Maaf-maaf. Aku mengejutkan mu ya?" Ucap Geo masih di selingi tawa kecilnya.
"Menurutmu?! Untung aku tidak jantungan" omel Jesslyn lagi. "Ayo masuk. Kau seperti penampakan yang hanya berdiri di depan pintu"
"Pagi-pagi sudah mengomel"
"Memangnya siapa yang membuat ku mengomel?!"
"Bawel ah" setelah mengatakan itu Geo berjalan masuk meninggalkan Jesslyn yang masih kesal dengan tingkahnya begitu saja.
Geo menarik nafas panjang saat dirinya berdiri tepat di tengah-tengah ruangan. "AYAH BUNDA!!!! GEO HOMEEE!!!" Teriaknya lantang dengan penuh cinta.
Justin, Isabella, Jeno dan Jovan yang masih menikmati sarapan mereka lantas terkejut mendengar teriakan Geo, mengingat ruang makan berada tak jauh dari ruang tengah. Mereka hampir saja menyemburkan makanan yang baru masuk ke dalam mulut.
"Astaga!" Kaget Justin. Tangan kanannya mengelus-ngelus dadanya yang berdetak lebih cepat.
Jeno melirik kesal ke arah pintu ruang makan, jika saja makanannya sudah habis dirinya pasti akan langsung menghampiri sahabatnya itu dan menendang wajah menyebalkannya.
"Dia pasti kabur pagi-pagi" celetuk Jovan.
"WIDIWWWW MASIH SARAPAN NIH!!"
"GEOOOOO!!!!"
Geo terkesiap, sedetik kemudian cengengesan menampilkan cengiran menyebalkannya. "Hehehe, lanjutkan-lanjutkan"
"Pagi-pagi sudah mampir! Mau ngapain kau?!" Ketus Jovan. "Situ sape larang-larang? Yang punya rumah?" Balas Geo dengan nada meledek.
"Anj--"
"Jovan!" Belum sempat Jovan menyelesaikan kalimatnya Isabella sudah lebih dulu menegur putranya itu.
"Kau sudah makan Geo?" Tanya Justin. Mendapat pertanyaan itu Geo dengan semangat melangkah mendekat ke arah meja makan.
"Nah itu dia, yah. Itu tujuan Geo datang kesini" ucapnya sambil mendudukan diri di salah satu kursi.
Jeno melirik sinis Geo yang mengambil duduk di sebelahnya. "Memangnya keluargamu sudah jatuh miskin?"
"Aahhh berisik! Kau tidak di ajak jadi diam!" Sembur Geo. "Bocah sialan!"
"Makanlah Geo, kau terlihat lebih kurus" ucap Isabella. Tanpa malu Geo menyendok nasi goreng dan sosis di depannya.
"Tekanan batin, nda. Kan bunda tau" jawab Geo santai.
"Kau berbicara seperti tidak ada beban" timpal Jeno. Geo menoleh malas pada sahabatnya itu. "Satu-satunya bebanku di rumah ini cuma kau!"
"Bajingan"
"Jeno!" kali ini gantian Justin yang menegur putra sulungnya.
"Kau kabur kesini papah tau?" Tanya Jesslyn yang baru saja datang.
"Memangnya ada orang kabur minta izin? Makin lama kalian makin bodoh ya" tunjuknya satu-satu pada ketiga saudara kembar itu.
"Kau berbicara seperti itu di depan orang tua kami, bodoh!" Ujar Jovan tak terima.
"Aku kan bilangnya kalian bukan ayah dan bunda. Mikir!"
"Sudah-sudah. Makanlah Geo" Isabella melerai pertengkaran keempatnya.
Justin menggeleng pelan dengan senyum geli. "Benar-benar perpaduan Galih dan Kevin"
Isabella mengangguk setuju. "Tapi anak ini jauh lebih tenang dari kedua orang tuanya. Tapi lebih gila juga"
Perkataan Isabella sukses membuat ketiga anaknya tertawa puas sedangkan Geo menatap sang bunda tak percaya. Dirinya merasa terkhianati.
Pagi-pagi sekali dirinya harus kalang kabut karena sang istri yang tiba-tiba menangis histeris. Galih pikir putranya kembali pergi, lelaki manis itu menangis hebat begitu melihat putra sulungnya tak ada di dalam kamar.
Geo mendongak saat mendengar suara daddynya, kembali menampilkan cengiran lebarnya yang tanpa dosa.
"Kau membuat papah mu sedih. Dia pikir putranya pergi lagi tanpa pamit"
"Jangankan daddy, Jesslyn aja hampir jantungan ngeliat dia udah berdiri di depan pintu. Mana gak ada suaranya" sahut Jesslyn yang masih kesal.
"Biarkan dia makan dulu, ka" ucap Isabella.
Kevin hanya bisa menghembuskan nafas berat, menunggu dengan sabar sampai putranya itu selesai menghabiskan sarapannya. Jika dirinya melanjutkan pembicaraan, ia akan terkena semburan nyonya besar rumah ini.
"Jadi?" Tanya Kevin yang menuntut penjelasan begitu Geo menyelesaikan suapan terakhirnya.
Geo mengibaskan sebelah tangannya. "Aku malas melihat wajah kakek" jawabnya santai.
"Setidaknya kau bisa meminta izin pada daddy. Papah mu tiba-tiba menangis histeris dan itu membuat daddy terkejut"
Takk!!
"Awwhhh bundaaa"
Geo melayangkan tatapan protesnya pada Isabella yang tanpa benan memukul kepalanya menggunakan sendok dengan keras.
"Telpon papah mu dan minta maaf padanya" ucap Isabella tajam membuat nyali Geo ciut seketika.
"Iya bunda"
"Nah kan, papah protector keluar"
"Kkkkkk"
"Rasakan itu!"
***
Tangis Galih reda begitu menerima telpon dari putra sulungnya. Hatinya yang semula dilanda ketakutan kini berubah lega. Pikiran buruknya lenyap seketika begitu tau bahwa putranya tidak pergi tanpa pamit. Bocah itu hanya berkunjung ke rumah ayah dan bundanya.
Riyani mengelus lembut lengan putranya. Hatinya sangat hancur melihat Galih yang menangis sehebat itu. "Dimana Geo?"
"Di mansion Scander, ibu" jawab Galih lemas.
"Astaga anak itu" Aldre memijat pelipisnya pelan. Selama ini dirinya tidak pernah mengetahui apa yang terjadi dengan keponakannya itu selama ini, tapi setelah mendengar penjelasan Daniel dirinya jadi mengerti kenapa Geo tidak pernah pulang saat liburan.
"Galih mau kesana?" Tanya Riyani lagi. Galih mengangguk. "Biar adik mu yang anter ya" Galih kembali mengangguk sebagai jawaban.
"Aldre siapin mobil dulu"
"Jangan sedih lagi ka Galih, Geo tidak kemana-kemana dia hanya rindu ayah dan bundanya. Jadi jangan menangis lagi, liat tuh baby Al jadi ikut sedih" Ara menunjuk pada baby Ala yang berada di dalam stroller miliknya. Memandang kearah mereka dengan bibir melengkung ke bawah.
Galih tersenyum kecil. "Iya Ara"
"Erick sudah siap" seru Erick yang baru datang setelah berganti pakaian.
Daniel menatap putranya heran. Kenapa penampilannya seperti orang yang mau berkelahi. "Kenapa berpakaian seperti itu"
"Erick mau tendang pantat Jeno dan Geo"
"Kenapa?"
"Karena Geo udah buat paman nangis. Terus Jeno... Gak ada sih Erick pengen nendang aja"
"Ada-ada aja kamu ini"
*****
See you!