Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
122 | VALERIE GEMAS



Penyerangan yang sebelumnya tertunda kini akhirnya dilakukan. Setelah menunggu hampir tiga minggu untuk memulihkan keadaan Aldre agar bisa ikut bertarung. Bayangan akan menemani sang kekasih yang tengah mengandung sirna sudah dalam pikiran Aldre ketika sang calon mertua, Revano Courtland mengatakan bahwa dirinya harus ikut bertarung tanpa terkecuali. Bagaimanapun semua ini adalah kesalahannya dan Aldre harus bersikap gentle untuk ikut menyelesaikannya.


Malam ini, semua orang berkumpul di mansion Courtland sebelum keberangkatan. Revano meminta semuanya untuk tinggal dimansionnya sampai mereka kembali, demi memastikan keselamatan mereka semua.


"Kalian sudah bersiap?" Revan bertanya pada Rion dan Saka yang berdiri dihadapannya. Keduanya memandang bingung satu sama lain.


"Maaf paman, maksudnya?" Tanya Saka.


"Paman ingin kalian ikut dengan kami turun kelapangan. Paman butuh orang-orang gesit seperti kalian" jelas Revan.


Rion dan Saka mengangguk kompak. "Kami mengerti, akan kami persiapkan semuanya, paman" balas Rion.


"Kalau begitu bersiaplah"


Keduanya berbalik menuju kamar mereka untuk mempersiapkan barang-barang yang harus mereka bawa nanti.


Diruang keluarga.


Semua orang tengah berkumpul kecuali Ara, Carissa, dan anak-anak yang berada di ruang santai lantai dua. Revan masih tidak mengizinkan Ara dan Aldre saling bertemu meski mereka berada disatu atap yang sama.


Vion dan Vien telah kembali, Devan memanggil mereka untuk menjaga mommy dan grandmanya selama dirinya pergi nanti. Keduanya hanya menunduk Demi menghindari tatapan semua orang termasuk Aldre yang menatap mereka layaknya musuh. Lelaki itu masih menyimpan dendam pada sikembar.


"Jangan menatap keponakanku seperti itu, Aldre. Atau ku congkel matamu" desis Harves tajam.


Aldre mengalihkan pandangannya, meski sesekali akan kembali melirik dua bocah menyebalkan itu.


"Aku tidak liat kamu mempersiapkan apapun, ka. Apa kamu tidak akan pergi?" Nemoura duduk disamping suaminya.


Harves menggeleng, "tidak. Aku akan menjaga kalian disini"


"Apa ka Leo juga akan bersama kita?"


"Mm. Meso tidak melakukan pergerakan selama ini, itu artinya dia menunggu kesempatan kita lengah, sayang. Jadi kita harus melakukan penjagaan ekstra, meski Meso tidak akan bisa menembus pertahanan The Fault Blood" ungkap Harves. Tangannya merengkuh erat pinggang sang istri.


"Aku mengerti. Pantas kamu melatih Harsel lebih keras dari biasanya" Nemoura menumpukan tangan kanannya didada sang suami.


"Dia harus bisa menjaga mommynya karena itu adalah tanggung jawabnya"


"Romantis sekali" Justin mencibir dengan ekspresi datarnya melihat kemesraan kaka dan saudara iparnya ini.


Nemoura menatap Justin geli. "Kenapa? Masih belum dimaafkan? Kesian. Liat tuh adik kamu, udah berapa lama dia puasa" ledeknya.


Harves tersenyum miring, sedangkan Justin menatap keduanya kesal. "Berisik!"


"Kau yakin Jovan akan ikut?" Tanya Harves merubah raut wajahnya menjadi serius.


Justin terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang kaka. "Mau bagaimana lagi, kami membutuhkan kemampuannya. Isabella tidak bisa ikut, jadi Jovan yang akan menggantikannya" jawab Justin. Nada suaranya terdengar begitu pasrah.


"Kau tau ini adalah jalan masuk untuknya, Justin. Kau tidak akan menghentikannya seperti Isabella dulu"


"Aku tau, sangat tau ka Harves. Tapi aku tidak punya pilihan lain, dan lagi aku tidak bisa terus bersikap keras padanya. Mulai sekarang aku akan membiarkan dia melakukan apapun yang diinginkannya selama tidak ada yang dia rahasiakan padaku" kepalanya menunduk kebawah dengan pandangan sendu.


"Keputusan yang bagus. Jovan akan lebih mudah menaruh kepercayaan padamu jika kau juga percaya padanya"


"Ya"


.


.


"Kau serius, Jovan? Apa kau tidak takut?" Carissa memperhatikan Jovan yang tengah memeriksa barang-barangnya sekali lagi. Mulut Carissa menganga lebar melihat beberapa peluru dan belati yang dimasukkan kedalam tas bocah berusia 14 tahun itu.


"Jovan bahkan ikut menyerang saat kau dilukai mereka dulu, Car" ucap Ara.


"Kau serius? Oh ya tuhan, ada apa dengan ka Bella dan segala keturunannya?" Carissa memijit pelipisnya pelan, kepalanya mendadak pening.


Bagaimanapun Jovan adalah keponakannya juga karena Justin adalah kaka sepupunya. Dirinya jelas khawatir dengan kemungkinan yang akan terjadi dengan keponakannya ini.


Jeno tertawa kecil melihat raut berantakan bibinya itu. "Tenanglah bibi. Jovan pasti bisa mengatasinya"


"Yaya sudahlah, melarangpun adik kembarmu itu akan tetap pergi" seru Carissa menyerah. "Valerie sini, bibi ingin menggendongmu"


Valerie menatap sang bibi dengan ekspresi gemasnya. "Apa bibi sudah sembuh? Bunda melarang Valerie digendong bibi karena bibi belum pulih"


"Ouuhhh, keponakanku sayang. Bibi hanya akan memangkumu, bibi tidak akan menggendongmu seperti biasa"


Valerie mengangguk, kemudian berlari kecil kearah Carissa yang sudah merentangkan tangannya lebar-lebar.


"Jangan menciumi pipinya, Car. Atau ka Bella akan memukul kepalamu" peringat Ara.


Carissa mendengus, "aku tidak perduli, ini keponakanku tidak ada yang boleh melarangku menciumnya" ucapnya ketus.


Dan benar saja, sedetik kemudian Carissa sudah menghujami pipi temben Ara dengan ciuman bertubi-tubi membuat gafis kecil itu tertawa geli.


.


.


Pukul 9 malam, dua jam sebelum keberangkatan mereka Revano meminta semua orang berkumpul diruang keluarga, kecuali Ara yang kini ditemani Ana didalam kamarnya.


Isabella menatap kesal putri bungsunya. Lebih tepatnya kearah pipi temben Valerie yang memerah. Netra abunya melirik tajam Carissa yang sudah bisa dipastikan menjadi pelaku utama pipi putri kecilnya memerah seperti itu, sedangkan yang dilirik berpura-pura melihat kearah lain.


"Sudah bunda bilang jangan biarkan siapapun mencium pipimu, Valerie" seru Isabella kesal. Valerie hanya mengedipkan matanya lucu kearah sang bunda. Ia suka pipinya dicium jadi membiarkan semua orang melakukannya.


"Mereka sayang Arie, mangkannya mencium Arie seperti ini, bunda" balas Valerie dengan suara imutnya yang menggemaskan.


"Kalau bunda bilang tidak ya tidak. Lain kali akan bunda oleskan minyak dipipimu"


"Bunda pelit"


Semua orang tertawa mendengar balasan Valerie pada sang bunda, tidak menyangka gadis kecil itu berani membalas perkataan bundanya.


"Terserah, bunda. Valerie anak bunda, bunda yang melahirkan Valerie. Jadi Valerie harus ikut apa kata bunda"


Valerie menggeleng kencang, "tidak mau wleee" kemudian berlari menuju sang ayah yang tertawa kecil.


"Valerie!!!" Pekik Isabella kesal.


"Sudahlah princess" lerai Sofia. Isabella hanya mendengus kesal tidak berani membantah jika sang mamah sudah menegurnya atau dirinya akan kena semprot lelaki tua yang duduk disebalah mamahnya.


.....


T B C?


BYE!