Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
61



"Erick" panggil Ana begitu melihat Erick yang berjalan masuk dengan langkah gontai. Ana menghampiri putra sulungnya itu dengan perasaan khawatir.


"Erick kenapa, sayang?" Tanya Ana cemas.


Erick menggeleng lemas. "Erick tidak apa-apa, mamah. Erick cuma lelah" jawabnya tanpa menatap wajah sang mamah.


"Erick yakin?" Tanya Ana lagi memastikan. Erick mengangguk kecil. "Iya, mamah. Erick ke kamar dulu ya"


"Iya, sayang"


Ana membiarkan Erick pergi ke kamarnya, rasa khawatir masih menyelimutinya. Entah apa yang terjadi pada putranya selama mereka berjalan-jalan tadi, sampai Erick terlihat sedih dan lemas seperti itu.


Erick berjalan menuju kamarnya dengan langkah sempoyongan. Sesekali tubuhnya ia sandarkan ke dinding, meski begitu Erick tetap melanjutkan langkahnya hingga berhasil sampai di dalam kamarnya.


Erick menjatuhkan tubuhnya ke kasur setelah menutup pintu. Melepas kedua sepatu yang dikenakannya, lalu diikuti jaket, dan kaos yang dikenakannya.


"Mandi dulu deh" gumam Erick.


Meletakkan ponsel dan dompet miliknya ke atas kasur. Erick sempat melirik benda pipih itu sebentar, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


19.00pm.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu diikuti suara panggilan terdengar dari luar kamar Erick. Si pemilik kamar melirik malas tapi tetap bangkit dari kasur dan berjalan menuju pintu.


Begitu Erick membuka pintu wajah, Daniel langsung menyambutnya. "Erick, ayo makan malam" ajak Daniel.


Erick menggelengkan kepalanya. "Erick tidak lapar, papah. Erick ingin istirahat" tolaknya.


Daniel menatap putranya lekat, memiringkan sedikit kepalanya ke sisi kanan. Cukup lama Daniel menatap wajah serupa miliknya ini tanpa mengatakan apapun.


"Sedih dan rindu juga membutuhkan tenaga. Jika kamu tidak makan, bagaimana kamu bisa memiliki tenaga? " ucapnya setelah beberapa menit terdiam.


Erick menjatuhkan pandangannya ke bawah, tidak berani menatap kedua netra cokelat milik sang papah.


"Kenapa papah selalu tau apa yang Erick rasakan?" Cicitnya kecil.


"Karena papah adalah papah mu, dan kamu adalah anak papah. Bagaimana bisa papah tidak mengetahui apa yang terjadi pada anak papah"


Perlahan kedua netra cokelat itu kembali menatap netra yang serupa dengannya itu. Memberikan tatapan polos dengan bibir yang mengerucut lucu.


"Jangan menatap papah seperti itu, papah bukan Jeno yang akan langsung menerjang mu" ucap Daniel dengan wajah menggoda.


"Aaahhhh papaaaahhhh"


"Hahaha, ayo kita turun. Mamah dan Harena sudah menunggu sejak tadi"


"Mm"


Setelah kembali menutup pintu kamar, keduanya berjalan beriringan menuju ruang makan dengan Daniel yang merangkul pundak Erick.


Skip time...


Setelah makan malam selesai, Erick tentu saja akan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Jika tak di ganggu sang papah, mungkin Erick hanya akan berbaring di atas ranjang sambil terus menatap ke arah ponselnya.


Sebenarnya dirinya tadi sedang menghitung jam. Ia menunggu waktu sampai Jeno terbangun. Disana pasti sudah menjelang pagi atau mungkin sudah pagi.


Erick meraih ponselnya, ia akan menghubungi kembali nomor yang Jeno gunakan untuk menelponnya tadi. Semoga saja nomor itu masih aktif.


Tidak butuh lama sampai telpon tersambung. Erick merasa senang bukan main, dirinya bersyukur karena nomor tersebut masih aktif.


Namun hingga menunggu waktu cukup lama, Erick tak juga mendapat jawaban. "Apa Jeno masih tidur?" Gumamnya.


Erick tertegun, ia menatap ke arah ponselnya dengan pandangan tak percaya. Apa Jeno mencabut nomornya? Kenapa Jeno seperti tidak suka jika dirinya menghubungi?


"Jen.... Kamu sebenarnya kenapa sih?"


Perasaan sedih itu kembali menyelimuti hati Erick. Namun kali ini jauh lebih sakit dari sebelumnya. Erick bahkan sampai sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya.


Malam itu, perasaannya hancur bukan main. Orang yang dirinya cintai memperlakukannya seperti ini. Padahal dia sudah berjanji kepadanya, tapi justru dia sendiri yang melanggarnya.


**


"Aku tidak tau kebodohan apalagi yang kaka mu lakukan, tapi tadi bibi Ana menelpon ku dan mengatakan bahwa Erick menangis hebat" Geo mengusap wajahnya kasar. Tapi saat ini ia sedang mengeluh pada Jovan selaku saudara kembar bocah tolol itu.


"Boleh aku pecahkan kepalanya?" Serunya dengan nada frustasi yang begitu kentara.


"Aku tidak akan melarang mu jika kau ingin melakukannya" balas Jovan tidak perduli.


"Oh ya tuhan. Jauhkan aku bocah bajingan ini" pertama kali dalam hidupnya, yang di lakukan Geo sepanjang waktu hanyalah mengeluh. Dan yang dirinya keluhkan hanyalah tingkah laku bajingan sahabatnya.


"Tidak bisakah aku menjadi lebih gila dari ini, Jov?"


"Kau fikir aku tidak?! Akh berhadapan dengan sepupu mu disini bodoh! Aku bahkan sudah kehilangan muka di hadapannya" sembur Jovan kesal. Alisnya menyatu, keningnya mengkerut dalam, dan wajah yang mengeras.


"Tolong minta ayah mu untuk bicara padanya"


"Kau pikir ayah ku belum melakukannya? Dia yang paling dekat dengan Jeno saja menyerah, bodoh"


"Bunda?"


"Ayah melarang bunda"


"Kenapa?!" Tanya Geo setengah berteriak.


Jovan menggeram kesal. "Jika bunda yang turun tangan, bunda akan langsung menyeret Erick kesana, dasar kau bodoh! Gunakan otak mu dengan benar sialan!"


"Oh iya juga"


"Berbicara dengan mu hanya membuat ku emosi" keluh Jovan.


Geo berdecak keras. "Sudahlah sudah. Matikan saja telponnya, aku harus masuk kelas sekarang"


"Matikan saja sendiri"


"Haiisss bajingan!"


"Kkkkk"


Setelah telpon tertutup Geo buru-buru kembali masuk ke dalam kelasnya. Ingatkan dia untuk menghubungi bundanya setelah kelasnya selesai nanti.


"Lo nelpon siapa, yo?" Tanya Noer sekembalinya Geo. "Jovan" jawab Jeno singkat.


Kening Noer mengkerut, matanya menatap ke atas seperti sedang berpikir keras. "Ohhhh adek kembarnya Jeno ya"


Geo mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Kenapa? Kau mengeluhkan kelakuan kakaknya kkkkkk" goda Noer dengan wajah tengilnya.


Geo mendelik sinis. "Sue kau"


"Hahahahaha" Noer tertawa begitu puas. Dirinya sangat tau bagaimana depresinya mereka bertiga menghadapi Jeno. Jadi sebagai teman yang baik, tentu saja ia tidak mau ikut-ikutan.


****


See you!