Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 17. KEPUTUSAN ISABELLA (REVISI)



Hari ini Isabella dan bayinya sudah bisa pulang setelah seminggu dirumah sakit. Namun karena sang anak masih harus berada didalam incubator, maka Justin harus memindahkan incubator kedalam rumahnya. Lelaki itu tidak mau berpisah dengan sang anak. Memang merepotkan pria tua satu itu.


Aldre, Kevin, dan kedua anak mereka baru saja tiba dikediaman sahabatnya. Untuk keseribu kalinya, lelaki manis itu mendengus. Rasa irinya melihat mansion megah itu tidak kunjung reda.


Kevin tertawa gemas melihat sang istri, wajah manis favoitnya itu menekuk lucu. "Love... " Galih menatap sinis suaminya, "aku rela lahir batin dibangunin rumah kaya gini dari hasil misi kamu tau, huhhhh. " rengeknya.


"Aku yang gak rela sayang. Udah ah, ayo masuk. "


"Harena... "


"Behhh, berasa disambit calon mantu. " celetuk Galih. Pasalnya si kembar terakhir sudah menyambut mereka didepan pintu, lebih tepatnya menyambut pujaan hatinya.


"Disambut pah bukan sambit. " koreksi Keano. "Sama aja ah. "


"Ka Jovan... " Harena berlari kesosok yang memanggilnya tadi, memeluk sosok itu erat. "Harena kangen... " Jovan tersenyum tipis, "mm, papah dan mamah tidak ikut? "


"Mereka akan menyusul nanti. Ayo ayo, Harena mau liat dedek bayi. " ajak gadis cantik itu.


"Mm. "


"Ekhemm, lemari sepatunya ka!! "


"Minggir ah ngalangin jalan. "


"Maafin paman Galih ya Jovan? " ucap Kevin. Jovan tersenyum, "gak apa-apa paman sudah biasa. "


.


"Dearrrrr...... I'm cominggggg. " teriak Galih kencang begitu masuk kedalam kamar. Isabella melotot, "kau membuat bayiku terkejut Ge. " omelnya.


"Oohhh, I'm sorry baby. " Galih mencuil pipi gembil bayi mungil itu, kebetulan sekali dia baru dikeluarkan dari incubator. Isabella menarik kain untuk menutupi dadanya, ini sudah waktunya bayinya menyusu tapi sahabatnya ini malah menerobos masuk.


Plakk!!


"Aouhhh. " lelaki 34 tahun itu menatap sewot pelaku yang memukul tangannya.


"Apa? Jangan disentuh, kau dari luar, cuci dulu tanganmu. " omel Kevin.


"Aihhh. "


Kevin menatap lamat Isabella yang tengah menyusui, wanita itu tampak lelah. Wajahnya terlihat sayu dan pucat, rambutnya juga tidak serapih biasanya, dan-- dia tampak murung.


Matanya mengedar keseluruh ruangan, dia tidak melihat tanda-tanda suami saudara iparnya ini. Apa lelaki itu pergi bekerja? Kevin menahan diri untuk bertanya, menunggu sampai Isabella selesai menyusui putranya.


"Mm, aku lapar. Kau sudah makan dear? " Tanya Galih. Isabella menggeleng pelan. "Baiklah aku akan memasak untukmu kalau begitu, kau mau turun atau tetap disini hubby? "


"Aku akan disini sebentar. "


"Baiklah! "


Galih melenggang keluar. Tarikan nafas berat yang keluar dari mulut Isabella bisa Kevin tangkap dengan jelas.


"Mm. "


"Dimana suamimu? "


"Entahlah. " sebelah alis lelaki itu naik, "huh?"


"Dia marah padaku. "


"Kenapa? "


"Dia tau tentang hal itu ka. "


"Dia tau bagaimana aku membuka jalan untukmu. "


"Dan dia marah? " Isabella mengangguk, "bagiamana dia bisa tau? " Kevin bertanya pelan, menoleh kearah pintu untuk memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Aldre. "


"Damn!! "


Sudah semalaman suaminya tidak pulang, pertengkaran mereka kemarin masih bisa Isabella ingat dengan jelas. Dia tidak tau bagaimana Aldre bisa menggali informasi sedalam itu, tapi yang jelas keadaan ini bisa menggagalkan rencananya yang sudah tersusun rapih.


Ini akan memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya, karena membujuk suaminya tidaklah semudah itu. Isabella harus bisa membuat sang suami berkata iya atau dia akan mengorbankan rumah tangganya.


Wanita yang baru melahirkan itu tidak akan berhenti, permainnya harus berakhir sesuai aturan, seharusnya start akan dimulai setelah dia pulih, tapi Aldre sepertinya ingin memulai lebih awal.


"Kau akan menghentikan ini? "


"Kau pikir aku akan berhenti? "


"Isabella.... "


"Kau tau aku kak, kau tau bagaimana aku! "


"Lalu ka Justin? "


"Biarkan itu menjadi urusanku. " finalnya. Kevin menyerah, membujuk Justin yang sebang marah memang sulit, tapi membujuk Isabella yang sudah fokus pada tujuannya jauh lebih mustahil.


.....


T


B


C


?


bye!