
"A-apa?"
"Utang apa yang aku miliki padamu?" sergahnya cepat.
"Nyawa!"
Sosok tampan itu menyeringai lebar. Seringaian yang sangat menyeramkan, membuat kedua orangnya bergidik ketakutan.
Sorot matanya berubah menjadi tajam dan dingin. "Kau membuang waktuku, master. Jangan menggangguku untuk hal yang tidak penting!" ucapnya angkuh.
Setelah mengatakan itu, ia bangkit, dan melangkah keluar. Meninggalkan kedua orang itu yang terdiam dengan perasaan marah.
.
.
Tok tok tok
"Permisi, sir"
"Masuk, Brendon"
Aldre melirik sejenak sang Assistant, "ada apa?" tanyanya yang masih sibuk dengan berkas-berkas dihapannya.
"Ini laporan keuangan perusahaan yang anda minta, sir" Brendo menyerahkan sebuah map berwarna biru, yang langsung diterima Aldre.
Dengan wajah seriusnya, Aldre membuka setiap lembara berisi laporan keuangan perusahaan yang anjlok tanpa sebab. Lelaki itu memeriksanya dengan teliti.
Dahinya mengernyit, tidak ada yang salah disana. Laporan itu sama persis dengan miliknya.
Aldre mendesah lelah, lalu menatap assistantnya. "Kau yakin ini sudah semua?"
"Sudah, sir. Semuanya sudah tercatat disana" ucap Brendon. "Tapi setelah saya periksa, isi laporannya sama dengan milik anda, sir"
"Kau benar, Brendon. Berarti ada yang tidak beres disini"
"Anda ingin saya mencari taunya, sir?"
Aldre mengangguk. "Aku ingin rekapan gaji dan kemana uang itu dikirimkan, Brendon. Dan.... Awasi setiap orang yang perlu diawasi. Mengerti?" perintah Aldre.
"Mengerti sir"
"Lakukan sekarang"
Brendon keluar dari ruangan Aldre, guna menjalankan perintah lelaki itu.
Aldre memutar kursi kerjanya menghadap jendela besar dibelakangnya. Netra cokelatnya memandang lurus ke luar, ke arah bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.
"Aku membangun perusahaan ini dengan kedua tanganku sendiri, jika ada yang berani mengacaukannya, maka jangan pernah berharap keindahan dalam hidupmu!" desisnya penuh ancaman.
Skip
Malam harinya.
Pukul 10 malam, Aldre baru tiba di mansion milik keluarganya di Seoul. Beberapa pelayan menyambutnya didepan pintu.
"Selamat datang, tuan Aldre" sapa sang kepala pelayan.
"Mm"
"Apa anda ingin makan malam dulu? Atau ingin langsung istirahat saja, tuan?"
"Aku ingin makan malam dulu, tolong bawa ke kamarku ya, bibi"
"Baik, tuan"
Aldre kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Begitu masuk kedalam kamar, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Matanya terpejam sebentar, sebelum kembali terbuka. Rasa lelah ditubuhnya tidak bisa ia abaikan.
Tidak lama Aldre bangkit, melepaskan jas, dan dasi yang masih melilit lehernya. Lalu masuk kedalam kamar mandi, membersihkan dirinya.
10 menit kemudian lelaki itu keluar, dengan tubuh yang lebih segar. Air yang masih menetes dari rambutnya yang basah.
Tok tok tok
"Masuk"
Kepala pelayan masuk, dengan nampan ditangannya. "Ini makan malam anda, tuan"
"Terimakasih. Bibi boleh istirahat" ucap Aldre.
"Kalau begitu bibi permisi dulu, tuan"
Aldre mendudukkan tubuhnya, meraih nampan, dan mulai menyantap makan malamnya. Lelaki itu belum mengenakan pakaian, hanya bathrobe yang masih menempel ditubuhnya.
.
Mansion Courtland, Los Angeles
Untuk ke seribu kalinya Ara menggerutu kesal. Apakah kelasihnya sangat sibuk sampai lupa menghubunginya?
"Dia lupa janjinya padaku" gerutunya kesal.
"Aldre jelek!!! Aldre jelek!!"
"Huaaaaaaa!!!"
Meraih boneka beruang pemberian kekasihnya, memukul-mukulnya kencang. Sesekali menggigit dengan gemas.
Drrrttt
Getaran pada ponselnya seketika membuat Ara terperanjat. Dengan gerakan secepat kilat, gadis itu meraih benda pipih kesayangannya yang tergeletak dipinggir ranjang.
Nama yang tertera pada layar ponselnya membuat Ara senang bukan main. Sebab, yang ditunggu-tunggi akhirnya memberikan kabar.
Ara menetralkan kembali ekspresi menjadi santai, memposisikan layar ponselnya didepan wajah, kemudian jarinya menggeser tombol hijau.
"Hai, sayang" suara Aldre menyapa begitu wajah lelaki tampil didalam layar.
"Hm" jawab Ara cuek.
"Ngambek hm? Maaf ya aku sibuk banget, ada sedikit masalah di perusahaan" Ara bisa melihat betapa lelahnya wajah tampan itu.
Niatnya yang semula ingin marah kini sirna. Tidak tega dengan sang kekasih. Ara tersenyum lembut, "udah makan?" Aldre mengangguk lemah.
Mata lelaki itu benar-benar tidak berbohong tentang rasa lelahnya, ia bahkan masih menyempatkan diri untuk menghubungi Ara dimana seharusnya lebih baik ia langusng tidur. mengistirahkan tubuhnya yang perlu isi ulang daya.
"Tidurlah, Al. Aku gak mau kamu sakit" ucap Ara lembut. Agak khawatir karena wajah lelaki itu sedikit pucat.
"Sebentar lagi, aku mau lihat wajah cantik kekasihku sebentar" ucap Aldre pelan.
"Besok Carissa pulang, Al. Ka Bella bilang kondisinya sudah cukup baik untuk rawat jalan, ia juga sudah melepaskan setengah perban ditubuhnya walau masih menggunakan gips" Ara memberitau kondisi sahabatnya.
"Syukurlah. Carissa akan segera sembuh" balas Aldre pelan.
Selanjutnya hanya obrolan-obrolan kecil yang mereka bicarakan. Sesekali Ara akan bercanda hanya untuk menghilangkan rasa lelah sang kekasih.
Hampir sekitar setengah jam mereka berbicara. Aldre tertidur tanpa sadar, mungkin lelaki itu tak bisa lagi menahan kantuknya. Untungnya tadi ia sempat menyandarkan ponselnya dibuku, kalau tidak mungkin benda pipih itu sudah jatuh dan bisa dipastikan menimpa wajah tampannya.
Ara tertawa gemas, wajah sang kekasih ketika tidur saat kelelahan seperti ini ternyata sangat menggemaskan.
"Kamu lucu banget si, Al... Jadi gemes hihihi" gumamnya sambil cekikikan.
"Selamat malam, sayang"
Gadis itu menekan tombol merah, menutup panggilan telpon. Meletakkan ponselnya diatas nakas, lalu ikut menyusul sang kekasih ke alam mimpi.
.
"10 pm love. it's time to go to sleep" suara berat Kevin menginterupsi kegiatan Galih yang masih sibuk dengan laptop dihadapannya.
"Sebentar hubby. Aku sedang memeriksa ini" ucap Galih tanpa mengalihkan pandangannya.
"Is there any problem?" tanya Kevin. Lelaki berbaju lebar itu mendekat.
"Aku sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan Aldre di seoul. Aldre mengirimkannya padaku sore tadi, ia bilang keuangan perusahaan anjlok, tapi datanya normal" ucapnya menjelaskan.
"Apa ada yang korupsi?"
"Entahlah, Aldre sedang menyelidikinya"
Tak
Galih yang sejak tadi fokus terperangah. Mulutnya menganga, matanya menatap sang suami tak percaya.
"Lanjtkan lagi besok, aku akan membantumu. Sekarang kita istirahat, jika kau lelah tidak ada gunanya Aldre meminta bantuanmu" titah Kevin.
Galih kembali membuka laptopnya, mematikan benda itu dengan benar. Lalu mengikuti langkah suaminya kembali ke kamar. Lebib tepatnya ia yang ditarik paksa oleh Kevin untuk segaera istirahat.
"Sekarang tidur, dan berhenti menatapku seperti itu" perintah Kevin.
"Anak-anak sudah tidur?" Tanya Galih sambil merangkak naik ke atas ranjang.
"Sejak dua jam yang lalu"
Kevin meraih tubuh Galih untuk masuk kedalam pelukannya. Menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
"Selamat malam, love" ucapnya sambil mengecup lembut kening sang istri.
"Selamat malam, hubby"
Galih merapatkan tubuhnya dalam dekapan hangat sang suami. Kelopak matanya menutup secara perlahan.
.....
"Masalah akan tetap datang silih berganti, tapi hati akan tetap berada ditempat yang sama"
.....
T B C?
BYE!